Kota Bima (Suara NTB) – Salah satu titik early warning system (EWS) milik Pemerintah Kota (Pemkot) Bima dilaporkan mengalami kerusakan. Kerusakan tersebut terjadi pada kamera pemantau debit air di wilayah Nungga (Bendungan Toloweri), yang selama ini menjadi salah satu titik penting dalam pemantauan aliran sungai dari hulu.
Kepala Dinas Komunikasi, Informatika dan Statistik (Kominfotik) Kota Bima, Muhammad Hasyim, mengonfirmasi bahwa kerusakan disebabkan oleh adaptor kamera yang terbakar. “Kamera pemantau sebagai EWS perubahan debit air di wilayah Nungga rusak karena adaptornya terbakar. Kami sudah pesan penggantinya dari Mataram agar segera diganti,” jelas Hasyim saat dikonfirmasi pada Jumat (14/11/2025).
Saat ini, total ada empat EWS berbasis CCTV yang tersebar di lokasi-lokasi yang dinilai paling krusial untuk memantau potensi banjir. Meski terdapat satu titik yang tidak berfungsi, Pemkot Bima memastikan bahwa tiga titik EWS lainnya masih bekerja normal. Tiga titik tersebut berada di Bendungan Kodo, Jembatan Penatoi, dan Jembatan Jatibaru.
“Hanya satu titik saja yang rusak. Yang lain berfungsi normal,” tambah Hasyim memastikan.
EWS berbasis CCTV ini menjadi salah satu instrumen mitigasi banjir yang terus dikembangkan oleh Pemkot Bima. Sistem ini memantau debit air secara real time, lalu mengirimkan data visual ke Command Center Kominfotik. Jika terdeteksi kenaikan debit air yang signifikan di wilayah hulu, pusat komando akan meneruskan notifikasi kepada Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Bima.
Di lapangan, BPBD kemudian menyampaikan peringatan dini kepada warga yang berada di wilayah hilir dan daerah rawan banjir. Mekanisme ini dirancang agar masyarakat memiliki waktu lebih cepat untuk bersiap menghadapi potensi banjir kiriman.
Sebelumnya, Kepala BPBD Kota Bima, A. Faruk, menyebutkan bahwa kerusakan EWS memang sempat menjadi kendala dalam mitigasi. Namun, BPBD tetap melakukan upaya pemantauan manual dan langkah darurat di lapangan sambil menunggu perbaikan.
EWS berbasis CCTV tidak hanya menjadi alat peringatan dini, tetapi juga menjadi dasar pengambilan keputusan instansi terkait saat hujan dengan intensitas tinggi berlangsung. Dengan pemantauan visual, kondisi sungai dapat dipantau secara langsung, termasuk kenaikan debit air yang berpotensi mengancam permukiman. (hir)

