Mataram (Suara NTB) – Museum Negeri NTB menggelar Seminar Hasil Kajian Koleksi Museum pada Rabu (3/12/2025) bertempat di Aula Samalas, Museum Negeri NTB, Rabu, 3 Desember 2025. Seminar ini menghadirkan tiga narasumber di antaranya, Bunyamin, S.S., M.Hum., dari Museum Negeri NTB, Prof. Dr. H. Jamaluddin, M.Ag., dari Universitas Islam Negeri (UIN) Mataram dan Gde Agus Mega Saputra, S.Sn., M.Sn., dari Universitas Nahdlatul Ulama (UNU NTB). Seminar ini diikuti ahli budaya, mahasiswa dan pemerhati seni.
Tidak hanya itu, Museum Negeri NTB juga menghadirkan dua seniman Gula Gending dari desa asal pertama kali Gula Gending dibuat, yakni Desa Kembang Kerang Daya, Kecamatan Aikmel, Kabupaten Lombok Timur.
Dalam sambutan pembukaannya, Kepala Museum Negeri NTB, Dr. Ahmad Nuralam, S.H., M.H., menjelaskan, jika Gula Gending tidak hanya sekedar alat musik yang dimainkan, namun merupakan perpaduan antara seni pertunjukan dan usaha keluarga yang bergerak dari kampung ke kampung.
Menurutnya, Gula Gending ini lahir dari kreativitas warga di Desa Kembang Kerang Daya, sehingga mampu memberikan daya ungkit perekonomian bagi pelaku usaha ini. Bahkan, banyak di antara keluarga usaha Gula Gending ini yang sudah melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.
Diakuinya, tradisi Gula Gending yang berkembang di NTB pada era tahun 1980-an sudah menyebar ke berbagai daerah di Indonesia pada tahun 1990an, seperti ke wilayah Sumatera, Kalimantan, Sulawesi hingga Provinsi Nusa Tenggara Timur.
Bahkan, Nuralam memastikan jika hampir 90 persen anak Sekolah Dasar (SD) era tahun 1980-an hingga 1990-an di Pulau Lombok dan Pulau Sumbawa tahu akan Gula Gending. Untuk itu, adanya Gula Gending ini bisa menghidupkan nostalgia masa kecil.
Salah satu narasumber Bunyamin mengakui, jika pihaknya sudah melakukan penelitian terkait pembuatan Gula Gending di Desa Kembang Kerang Daya, Kecamatan Aikmel. Penelitian ini langsung dilakukan pada pembuat Gula Gending, termasuk proses pembuatan rombong atau wadah untuk berjualan Gula Gending.
Pihaknya mengharapkan dari penelitian yang dilakukan jajaran Museum Negeri NTB akan memberikan manfaat yang besar bagi masyarakat, terutama mengetahui seperti apa sejarah dan pembuatan Gula Gending.
Beda halnya dengan Guru Besar UIN Mataram H. Jamaluddin. Jamaluddin mengaku, jika dirinya lahir dan besar di Desa Kembang Kerang Daya. Bahkan, sebagian besar keluarganya merupakan penjual Gula Gending yang berjualan keliling Indonesia. Namun, jika saat momen tertentu, seperti saat ada pengajian yang digelar di Desa Kembang Kerang Daya, penjual Gula Gending yang banyak tersebar di beberapa daerah di Indonesia akan balik ke desa asal. Mereka juga akan memberikan kontribusi dengan menyumbang hasil usahanya untuk keperluan pembangunan di desanya.
Dirinya juga menyarankan pada Museum Negeri NTB untuk mengoleksi rombong Gule Gending yang pertama kali dibuat di Desa Kembang Kerang Daya. Nantinya rombong ini bisa dilihat dan dipelajari oleh generasi muda mengenai sejarah pembuatan Gule Gending yang masih eksis hingga saat ini, meski jumlah pedagang Gula Gending semakin berkurang. (ham)



