Mataram (Suara NTB) – Gubernur NTB, Dr.H. Lalu Muhamad Iqbal ingin tiga provinsi di Kepulauan Sunda Kecil meliputi Bali, Nusa Tenggara Barat (NTB) dan Nusa Tenggara Timur (NTT) tidak lagi menjadi beban bagi Pulau Jawa dalam aspek sistem kelistrikan.
‘’Kami ingin tiga provinsi ini tidak jadi beban buat Pulau Jawa. Nenek moyang saya ada di Pulau Jawa, jadi enggak mau merusuh yang di Jawa, biar kami bisa sustain sendiri,’’ ucapnya saat menghadiri peresmian layanan kelistrikan tanpa kedip di Kantor Gubernur NTB, Mataram, akhir pekan kemarin.
Gubernur Iqbal mengatakan, kerja sama regional tiga pemerintahan daerah di kawasan Sunda Kecil berupaya mewujudkan pembangunan super grid atau jaringan transmisi listrik yang luas.
Saat ini Bali masih masuk ke dalam jaringan super grid Pulau Jawa. Sehingga ke depan listrik Bali dipasok dari Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur. Apalagi tren penggunaan listrik ke depan hanya bersumber dari energi baru terbarukan.
‘’Mimpi besar kami membangun super grid dari NTT sampai dengan Bali. Sehingga Bali tidak lagi masuk jaringan Jawa. PLN sekarang masih meletakkan Bali jadi satu regional distribusi dengan Jawa,’’ kata Gubernur Iqbal.
Lebih lanjut ia menyampaikan harga energi di Bali semakin mahal karena investor kesulitan mendapatkan lahan untuk membangun pembangkit listrik besar.
Para investor lebih tertarik membangun hotel di Bali ketimbang membangun pembangkit listrik, karena investasi energi yang berkelanjutan cenderung lama balik modal.
‘’Kami punya cukup (sumber daya) untuk memasok kebutuhan energi yang ada di wilayah kami dengan apa yang Tuhan berikan kepada kami. Terutama listrik yang length of exposure sangat panjang dan radiasi sangat padat,” ujar Iqbal.
Kontribusi Energi Terbarukan
Berdasarkan data PLN Unit Induk Wilayah Nusa Tenggara Barat (UIW NTB), kontribusi energi baru terbarukan pada sistem kelistrikan NTB baru sekitar 5 persen atau 22 megawatt dari total daya mampu sebesar 400 megawatt.
Sumber setrum bersih paling besar berasal dari pembangkit listrik tenaga surya atau PLTS yang terletak di Sengkol, Sambelia, dan Pringgabaya, dan Gili Trawangan.
Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral Provinsi NTB menyebutkan total potensi energi terbarukan mencapai 13.563 megawat (MW) yang terdiri dari bioenergi 298 MW, sampah kota 32 MW, angin 2.605 MW dan tenaga surya 10.628 MW.
Potensi energi bersih tersebut sangat signifikan jika dibandingkan dengan kebutuhan listrik di wilayah Bali, NTB, dan NTT yang saat ini hanya sekitar 1,2 gigawatt.
‘’Mimpi kami ke depan Bali enggak usah produksi energi, Bali menggunakan saja energi hijau saja. Nanti kami (NTT dan NTB) yang memproduksi energi hijau, kami suplai listriknya ke Bali, termasuk menjual kredit karbon juga ke Bali,’’ ujar Iqbal.
NTB dan NTT Miliki Cadangan Energi Terbarukan Raksasa
NTB dan NTT disebut memiliki cadangan energi terbarukan raksasa. Hanya dari 77 bendungan di NTB, potensi floating solar panel dapat menghasilkan ratusan megawatt listrik hijau. Belum termasuk PLTS darat, geothermal hingga micro-hydro.
Gubernur Iqbal menyebut telah berkomunikasi dengan Pemerintah Singapura dan Inggris. Singapura sudah menyatakan kesiapan melakukan visibility study pada tahun 2026.
Sementara Komisaris Independen PLN Prof. Ali Masykur Musa, menegaskan zero down time bukan hanya pencapaian teknis, tetapi memiliki makna spiritual.
‘’Melalui zero down time, kita melihat bagaimana menghadirkan cahaya yang tidak pernah pudar. PLN tidak boleh berkedip, sebagaimana matahari tidak berkedip hingga hari kiamat”, ujarnya.
Prof. Ali menegaskan listrik bagian dari kebutuhan dasar umat, sebagaimana disebutkan dalam hadits yaitu alam, air dan energi harus dirasakan rakyat. ‘’Mengurus listrik bukan sekadar angka. Ini pekerjaan religius. Dunia dapat, akhirat dijemput melalui pengabdian kepada negeri”, ucapnya.
Prof Ali mengapresiasi kerja keras para insan PLN, termasuk di Sumatera Utara, Aceh dan Sumatera Barat yang sedang memulihkan jaringan kelistrikan. ‘’PLN berikan pelayanan terbaik. Bangun daya saing dan hadir sebagai solusi. Mandat kita bukan hanya menyalakan lampu, tetapi menyalakan masa depan anak bangsa”, tandasnya.
Sementara Direktur Distribusi PLN Asyadany Ghana Akmalaputri, menegaskan Kantor Gubernur NTB kini menjadi salah satu kawasan dengan tingkat keandalan listrik tertinggi di Indonesia.
Disebutkannya, kawasan itu kini disuplai oleh dua gardu induk, empat penyulang, lapisan proteksi berlapis hingga sistem changeover switch berbasis GPS yang menghasilkan suplai listrik tanpa kedip.
“Ini bukan hanya bebas padam, tapi bahkan tanpa kedip. Ini komitmen publik bahwa pusat pemerintahan harus punya keandalan tertinggi”, tegasnya. (ant/era)



