Mataram (suarantb.com) – Harga cabai rawit di sejumlah pasar tradisional di Kota Mataram kembali melonjak dalam beberapa pekan terakhir. Saat ini, harga cabai rawit berada di kisaran Rp60.000–Rp65.000 per kilogram. Kenaikan harga komoditas tersebut dipicu oleh terbatasnya stok cabai lokal akibat faktor cuaca serta berakhirnya masa panen di sejumlah sentra produksi.
Pantauan Suara NTB di Pasar Induk Mandalika, Jumat (2/1/2026), berdasarkan papan informasi Sistem Pemantauan Pasar dan Kebutuhan Pokok, menunjukkan harga cabai rawit merah dalam sepekan terakhir relatif bertahan di angka Rp60.000 per kilogram. Bahkan, pada puncak malam pergantian tahun baru, Rabu (31/12/2025), harga cabai rawit sempat menembus Rp65.000 per kilogram.
Salah seorang pedagang di Pasar Induk Mandalika, Ahmad Ghazali, mengatakan kenaikan harga cabai rawit telah terjadi sejak sekitar dua pekan lalu dan masih bertahan hingga saat ini. Kondisi tersebut cukup berdampak pada pola belanja masyarakat, meski permintaan masih tergolong tinggi.
“Sebelumnya kami jual Rp25.000 per kilogram untuk cabai yang sudah dibersihkan tanpa tangkai, sedangkan yang masih bertangkai Rp20.000 per kilogram. Sekarang harganya sudah naik drastis,” ujarnya saat ditemui di pasar, Jumat (2/1).
Menurut Ghazali, lonjakan harga cabai rawit dipicu oleh menurunnya pasokan cabai lokal. Sejumlah petani mengalami penurunan produksi akibat kualitas panen yang rusak karena cuaca, ditambah masa panen cabai yang telah berakhir di beberapa wilayah sentra produksi di Pulau Lombok.
Akibat keterbatasan pasokan lokal tersebut, pedagang terpaksa mengandalkan cabai kiriman dari luar daerah, terutama dari Pulau Jawa. Pasokan dari luar daerah dinilai menjadi faktor penahan agar harga cabai tidak melonjak lebih tinggi.
“Saat ini cabai yang dijual kebanyakan kiriman dari Pulau Jawa melalui pengepul. Kalau tidak ada pasokan dari Jawa, kemungkinan harga cabai lokal bisa tembus Rp100.000 per kilogram,” ungkapnya.
Meski harga mengalami kenaikan signifikan, aktivitas jual beli cabai di Pasar Induk Mandalika masih terbilang ramai. Hal ini disebabkan cabai rawit merupakan salah satu kebutuhan pokok masyarakat Lombok yang sulit untuk digantikan dalam konsumsi sehari-hari.
Sementara itu, salah seorang pembeli, Murni, mengaku cukup terbebani dengan kembali naiknya harga cabai rawit dalam beberapa hari terakhir. Kenaikan harga tersebut membuatnya harus menyesuaikan jumlah pembelian.
“Kemarin masih dapat Rp20.000–Rp25.000 per kilogram, tiba-tiba sekarang sudah naik lagi,” katanya.
Meski demikian, Murni mengaku tetap membeli cabai, meski dengan jumlah lebih sedikit, yakni seperempat kilogram seharga Rp10.000. Menurutnya, cabai rawit merupakan bahan utama dapur yang tidak bisa ditinggalkan, terutama untuk membuat sambal.
“Mau tidak mau tetap beli. Di rumah rasanya kurang kalau masak tanpa sambal. Namanya juga orang Lombok,” ujarnya.
Ia berharap pemerintah daerah dapat segera mengambil langkah konkret untuk menstabilkan harga cabai rawit, baik melalui pengendalian pasokan maupun intervensi pasar, sehingga harga kembali normal dan terjangkau oleh masyarakat. (pan)


