spot_img
Rabu, Januari 7, 2026
spot_img
BerandaNTBKOTA MATARAMPuncak Gelombang Pasang pada Awal Tahun, Warga Pesisir Mulai Was-was

Puncak Gelombang Pasang pada Awal Tahun, Warga Pesisir Mulai Was-was

Mataram (suarantb.com) – Warga Lingkungan Bugis dan Pondok Perasi, Kelurahan Bintaro, Kecamatan Ampenan, mulai diliputi rasa was-was menyusul potensi puncak gelombang pasang yang biasanya terjadi pada akhir hingga awal tahun. Kekhawatiran tersebut tidak terlepas dari pengalaman pahit pada Januari 2025 lalu, saat gelombang pasang merusak sejumlah rumah warga, baik dengan kategori rusak ringan hingga berat, serta menyebabkan abrasi di sepanjang pesisir.

Salah seorang warga Lingkungan Bugis, Munir, mengungkapkan bahwa berdasarkan pengalamannya tinggal di kawasan pesisir, gelombang pasang hampir selalu terjadi setiap memasuki pergantian tahun. Kondisi tersebut membuat warga harus lebih waspada, terutama saat cuaca ekstrem melanda.

“Setiap tahun itu ada waktunya. Biasanya dari bulan Desember sampai Januari atau Februari. Itu yang buat kami selalu was-was,” ujarnya, Senin (5/1/2026).

Menurut Munir, setelah melewati puncak gelombang pasang di awal tahun, kondisi laut biasanya mulai berangsur normal memasuki bulan Maret atau April. Namun sebelum masa tersebut, warga pesisir harus bersiap menghadapi potensi banjir rob yang bisa sewaktu-waktu naik hingga ke permukiman.

“Biasanya setelah Februari, Maret atau April sudah mulai tenang. Tapi sebelum itu, kita harus siaga karena air laut bisa naik ke rumah warga,” katanya.

Munir juga mengaku abrasi yang terjadi hampir setiap tahun semakin menambah kekhawatiran warga. Ia menilai kondisi gelombang pasang yang terjadi beberapa waktu lalu masih belum seberapa jika dibandingkan dengan puncak gelombang yang biasanya datang pada Januari hingga Februari.

Meski demikian, ia bersyukur keberadaan tumpukan batu boulder yang dipasang di bibir pantai menjadi benteng terakhir yang melindungi rumahnya dari terjangan ombak. Ia mengisahkan, saat kejadian gelombang pasang sebelumnya, air laut sudah sempat masuk ke dalam rumah.

“Waktu itu air sudah masuk ke rumah. Tapi untung ada batu-batu ini. Kalau tidak, mungkin rumah saya sudah habis disapu ombak,” tuturnya.

Munir menambahkan, pemasangan batu boulder dan geobag oleh pemerintah memang cukup membantu sebagai langkah darurat untuk memperlambat laju abrasi. Namun menurutnya, solusi tersebut tidak bisa dijadikan penanganan jangka panjang.

Kekhawatiran serupa juga disampaikan Jelelani, warga Lingkungan Pondok Perasi. Meski dampak gelombang pasang di wilayahnya tidak separah di Lingkungan Bugis, ia menyebut pergantian musim kerap dibarengi dengan meningkatnya tinggi gelombang laut.

Ia berharap pemerintah segera merealisasikan pembangunan tanggul pengaman atau pemecah gelombang permanen agar ancaman abrasi dan banjir rob tidak terus berulang setiap tahun.

“Selama ini kami hanya bisa bikin tanggul darurat pakai karung berisi pasir di depan pintu rumah supaya air laut tidak masuk,” ungkapnya.

Sebelumnya, Pemerintah Kota Mataram melalui Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) berencana kembali memasang tanggul sementara menggunakan batu bleder di empat titik pesisir yang rawan abrasi. Langkah tersebut dilakukan sebagai upaya antisipasi menghadapi cuaca ekstrem yang kerap terjadi pada awal tahun.

Empat titik rawan abrasi yang menjadi fokus penanganan berada di kawasan pesisir Lingkungan Pondok Perasi dan Lingkungan Bugis, Kelurahan Bintaro, Kecamatan Ampenan. Selain itu, kawasan Lingkungan Mapak di Kelurahan Jempong Baru serta pesisir Pantai Tanjung Karang, Kecamatan Sekarbela, juga masuk dalam rencana penanganan pemerintah. (pan)

RELATED ARTICLES
IKLAN

VIDEO