spot_img
Senin, Februari 16, 2026
spot_img
BerandaEKONOMIUang Keluar dari Bank Indonesia NTB Selama 2025 Mencapai Rp10,47 Triliun

Uang Keluar dari Bank Indonesia NTB Selama 2025 Mencapai Rp10,47 Triliun

Mataram (suarantb.com) – Bank Indonesia Perwakilan NTB mencatat peningkatan signifikan pada arus keluar uang (net outflow) selama tahun 2025. Berdasarkan data sistem pembayaran BI NTB, net outflow uang rupiah pada 2025 mencapai Rp2,45 triliun atau naik sekitar 148 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Deputi Kepala Perwakilan BI NTB Bidang Sistem Pembayaran, Ignatius Adhi Nugroho, Minggu, 4 Januari 2026 menjelaskan, sepanjang 2025 nilai uang keluar (outflow) dari BI NTB tercatat sebesar Rp10,43 triliun, sementara uang masuk (inflow) hanya mencapai Rp7,97 triliun. Dengan demikian, terjadi selisih arus keluar bersih (net outflow) sebesar Rp2,45 triliun.

Sebagai perbandingan, pada tahun 2024 nilai outflow BI NTB tercatat Rp10,47 triliun, inflow Rp9,48 triliun, dengan net outflow sebesar Rp990,9 miliar. Meski secara nominal nilai outflow pada 2024 dan 2025 relatif mirip, penurunan inflow yang cukup dalam membuat selisihnya melebar pada 2025.

“Kalau dilihat dari nilai outflow, memang tidak jauh berbeda dengan tahun sebelumnya. Namun, inflow tahun 2025 lebih rendah karena uang cenderung lebih lama mengendap di masyarakat,” ujarnya.

Adhi menengarai peningkatan net outflow ini dipengaruhi oleh peredaran uang di masyarakat yang relatif lebih cepat, serta kecenderungan masyarakat untuk memegang uang tunai (cash holding). Kondisi tersebut menyebabkan sirkulasi uang kembali ke sistem keuangan menjadi lebih lambat dibandingkan tahun sebelumnya.

“Uang tidak segera kembali ke perbankan atau BI, sehingga inflow menurun. Di sisi lain, ini juga mengindikasikan bahwa kualitas fisik pecahan uang rupiah di masyarakat masih terjaga,” jelasnya.

Diakuinya, data arus keluar-masuk uang ini belum cukup kuat untuk dijadikan satu-satunya indikator dalam membaca kondisi ekonomi makro daerah. Menurutnya, indikator sistem pembayaran perlu dibaca secara komprehensif dan dikombinasikan dengan indikator ekonomi lainnya.

“Kalau mau melihat kondisi makro, indikator ini harus ditemani dengan data lain, seperti Produk Domestik Regional Bruto (PDRB), konsumsi rumah tangga, investasi, maupun indikator ekonomi regional lainnya,” tegasnya.

Meski demikian, ia menyebut pergerakan uang yang relatif stabil dari sisi outflow menunjukkan aktivitas ekonomi di NTB masih berjalan normal. Hanya saja, pola peredaran uang di masyarakat mengalami perubahan, terutama dari sisi kecepatan uang kembali ke sistem keuangan.

“Kesimpulannya, pergerakan ekonomi tidak bisa dikatakan stagnan hanya dari data ini. Yang terlihat adalah perubahan perilaku masyarakat dalam memegang dan menggunakan uang tunai,” demikian Adhi. (bul)

IKLAN

spot_img
RELATED ARTICLES
IKLAN



VIDEO