Praya (suarantb.com) – Jurus baru kini tengah dipersiapkan Pemerintah Kabupaten Lombok Tengah (Pemkab Loteng) dalam upaya mempercepat pengentasan angka stunting di daerah ini. Berupa program bernama Lempot Stunting. Sebuah program yang tidak hanya berfokus pada peningkatan nilai gizi anak, tetapi juga penguatan dan kemandirian ekonomi keluarga. Melalui pemberian bantuan ternak ayam petelur lengkap dengan kandang serta pakannya.
Wakil Bupati (Wabup) Loteng Dr. H.M. Nursiah, S.Sos.,M.Si., kepada awak media di kantornya, Senin, 5 Januari 2025, mengungkapkan kalau program tersebut sudah mulai diimplementasikan di tahun 2025 lalu. Namun masih dalam skala terbatas. “Nah, tahun ini program ini akan kita perluas dan masifkan,” ujarnya.
Walaupun mungkin tidak menyeluruh di semua wilayah. Tetapi spot-spot di beberapa desa yang masuk zona merah stunting di Loteng. Di mana saat ini tercatat ada sekitar 40 desa di Loteng yang masuk zona merah stunting. Di sanalah program Lempot Stunting akan digalakkan.
Nursiah mengatakan secara keseluruhan di Loteng ada sekitar 8 ribu keluarga yang memiliki anak stunting serta rawan stunting. Merekalah yang nantinya akan menjadi sasaran program Lempot Stunting ini. “Namun tidak semua. Tapi menyesuaikan dengan anggaran daerah. Karena anggaran daerah juga terbatas,” sebutnya.
Harapannya, selain dari anggaran daerah, stakeholder lainnya juga diharapkan bisa ikut terlibat. Sehingga cakupan programnya bisa lebih luas lagi. Jadi lebih banyak lagi keluarga dengan anak stunting yang tersentuh program Lempot Stunting.
Pola yang dijalankan sederhana. Keluarga yang memiliki anak stunting akan diberikan bantuan ternak ayam petelur dalam jumlah tertentu. Termasuk di dalamnya akan dibantu pakan sampai ayam tersebut sudah bisa berproduksi. Telur yang dihasilkan itu nantinya bisa dikonsumsi untuk memenuhi gizi anak stunting yang ada.
Selain itu, telur tersebut juga bisa dijual untuk memenuhi kebutuhan keluarga tersebut. “Jadi selain bisa memberikan dampak berupa peningkatan gizi keluarga, terutama anak stunting yang ada. Sekaligus bisa membantu ekonomi keluarga itu sendiri,” imbuh Nursiah.
Syukur-syukur usaha ternak ayam petelurnya bisa berkembang. Sehingga bisa memberikan manfaat yang lebih luas lagi. Tidak hanya bagi keluarga itu saja. Namun juga bisa berdampak bagi lingkungan sekitarnya. “Persiapan programnya sedang kita konsilidasikan. Mudahan bisa segera dilaksanakan dalam waktu dekat ini,” tandas Ketua DPD II Partai Golkar Loteng ini.
Lebih lanjut Nursiah mengatakan, Pemkab Loteng sendiri berkomitmen untuk terus menekan angka stunting serendah mungkin. Walaupun saat ini Loteng termasuk daerah dengan prosentase stunting paling rendah di NTB, yakni 9,8 persen. Sehingga selain terus menggalakkan program yang ada, Pemkab Loteng juga terus berupaya mencari solusi inovatif yang lain untuk bisa menekan kasus stunting di daerah ini. (kir)


