@AARahman*
Di sebuah sudut Pulau Lombok, di antara gemercik hujan awal tahun, sebuah cerita kepemimpinan menemukan klimaksnya yang indah. Tanggal 8 Januari 2026, Universitas Mataram tak lagi sekadar memilih seorang rektor, melainkan mengukir sebuah babak baru yang penuh resonansi. Prof. Dr. Sukardi, S.Pd., M.Pd.—sang Yudistira metaforis—menang mutlak dengan 68 suara dari 91. Angka itu bukan sekadar kemenangan statistik, melainkan sebuah peneguhan: bahwa dalam pusaran zaman yang penuh retorika, ada sebuah nilai yang tak lekang—ketepatan, kejujuran, dan karya nyata.
Dan sungguh, angka 68 itu sendiri menyimpan musik simboliknya yang khas. Dalam harmoni numerologi, ia adalah paduan dari 6—yang membawa energi harmoni, tanggung jawab, dan kesediaan melayani—dan 8—yang menggetarkan nada keseimbangan, kekuatan institusional, dan kesinambungan yang abadi. Seakan-akan, setiap suara yang diberikan adalah doa tersirat: “Pimpinlah kami dengan harmoni, tetapi bangunlah fondasi yang kokoh untuk masa depan yang berkelanjutan.” Lalu, coba kita jumlahkan: 6 + 8 = 14, dan 1 + 4 = 5. Sebuah bilangan yang begitu akrab—lima, seperti jumlah Pandawa yang telah menjadi mitos pengiring perjalanan ini. Sebuah kebetulan yang puitis, seakan semesta ikut berbisik: kepemimpinan ini memang tentang menyatukan keberagaman dalam satu visi mulia, layaknya kesatuan lima kesatria dalam dharma.
Perjalanan “Pandawa Lima Unram” sendiri bukanlah sekadar perlombaan. Itu adalah sebuah proses penemuan jati diri kolektif. Dan di ujungnya, kita semua diajak memahami kembali makna sesungguhnya dari “Yudistira”. Ia bukan sekadar yang tertua, melainkan yang paling mampu menjaga dharma—kewajiban suci sebagai pemimpin. Metafora itu terpancar nyata. Meskipun termuda di antara kelimanya, Prof. Sukardi justru membawa energi seorang “Dharma Raja”: membangun bukan dengan wacana, tetapi dengan sistem; memajukan bukan dengan janji, tetapi dengan langkah-langkah terukur.
Dari Rumput ke Langit: Sebuah Transformasi yang Berdenyut
Dalam rentang 3-4 tahun, bersama Rektor Prof. Bambang Hari Kusumo, ia membuktikan bahwa “universitas akar rumput” bisa melesat menjadi institusi terkemuka. Tapi yang lebih penting dari deretan prestasi—akreditasi unggul, peningkatan guru besar, peringkat dunia—adalah bagaimana transformasi itu dilakukan. Ia membangun taman-taman pengetahuan bukan sebagai ornamen, melainkan sebagai ruang hidup; ia merawat keuangan dengan ketelitian seorang ibu yang mengatur rumah tangga agar semua anggotanya tak kekurangan. Di tengah arus efisiensi anggaran pemerintah yang membuat banyak kampus limbung, “tangan dingin”-nya justru menjadi penyeimbang: dosen dan tenaga kependidikan tetap bisa melanjutkan studi tanpa dibebani rasa cemas. Di sana, kepemimpinan bukan soal kuasa, tapi soal keberpihakan yang nyata.
Nomor Urut Satu: Bukan Kebetulan, Tapi Simbol
Sangat menarik bahwa di setiap tahapan, ia selalu mendapat nomor urut satu. Bagi yang percaya pada simbol, ini seperti alam merestui: bahwa jalan dharma memang seharusnya berada di depan. Nomor satu itu menjadi metafora dari konsistensi, dari sikap yang tak pernah setengah hati, dari komitmen yang selalu menjadi yang utama dalam setiap keputusan. Ia tidak datang sebagai pemenang secara tiba-tiba, tapi telah lama berjalan di jalur yang lurus—sehingga ketika panggilan kepemimpinan itu tiba, sudah tak ada lagi yang meragukan arahnya.
68 dari 91: Sebuah Mandat Hati yang Luas
Angka 68—dengan segala lapisan maknanya—adalah cermin dari kepercayaan yang melampaui sekat fakultas dan disiplin ilmu. Di baliknya, ada pengakuan bahwa kepemimpinan yang baik adalah yang bisa dirasakan oleh semua: oleh dosen muda yang sedang berjuang menyelesaikan disertasinya, oleh tenaga kependidikan yang ingin meningkatkan kompetensi, oleh mahasiswa yang butuh ruang belajar yang bermartabat. Kemenangan mutlak ini adalah bukti bahwa keadilan, transparansi, dan kepekaan sosial tetap menjadi bahasa universal yang disukai oleh hati nurani.
Resonansi Mahabharata: Ketika Cerita Kuno Menyapa Zaman Now
Ada getaran epik dalam proses ini. “Pandawa Lima” bukan sekadar label, tapi sebuah narasi yang mengajari kita tentang kesatuan dalam keberagaman. Bima dengan kekuatan inovasinya, Arjuna dengan ketajaman visi globalnya, Sadewa dengan kearifan sosialnya, Nakula dengan ketelitian saintifiknya—semuanya adalah energi yang dibutuhkan Unram. Tapi Yudistira-lah yang merajut energi itu menjadi sebuah kekuatan sinergis. Kemenangannya bukan kemenangan seorang diri, melainkan kemenangan sebuah tim, sebuah keluarga akademik yang telah memilih untuk bersatu di bawah panji dharma.
Di tangan sang Dharma Raja baru ini, Unram tidak hanya diajak untuk terus membangun menara prestasi, tetapi juga menjaga api dharma akademik: bahwa ilmu pengetahuan pada hakikatnya adalah untuk memuliakan manusia, bahwa keuangan yang sehat adalah alat untuk menciptakan kesejahteraan bersama, dan bahwa kepemimpinan sejati selalu dimulai dari kesediaan mendengar, merasakan, dan melayani.
Selamat, Prof. Sukardi. Selamat, Unram. Sebuah babak baru telah dimulai—di mana kelembutan dan ketegasan akan berjalan beriringan, di antara taman-taman yang hijau dan langit Lombok yang cerah, membawa misi mulia: dari kampus biru untuk peradaban Indonesia.
______________________________
Guru Besar Universitas Mataram


