spot_img
Selasa, Januari 27, 2026
spot_img
BerandaADVERTORIALAncaman Diabetes Kian Nyata, CME Ke-42 IKA FK Unizar Bahas Deteksi Dini...

Ancaman Diabetes Kian Nyata, CME Ke-42 IKA FK Unizar Bahas Deteksi Dini dan Manajemen Komplikasi Berbasis Evidence

Mataram (suarantb.com) – Ikatan Keluarga Alumni (IKA) Fakultas Kedokteran Universitas Islam Al-Azhar (Unizar) kembali menunjukkan komitmennya dalam mendukung peningkatan kompetensi tenaga kesehatan melalui penyelenggaraan Continuing Medical Education (CME) ke-42. Kegiatan ini dilaksanakan secara daring melalui Zoom Meeting pada Minggu (11/01/2026), mulai pukul 08.00 Wita hingga selesai, dan diikuti oleh 229 orang peserta.

Mengusung tema “Diabetic and Complication: Early Detection and Update Management Strategies”, CME ke-42 menjadi wadah ilmiah untuk memperdalam pemahaman mengenai diabetes melitus beserta komplikasinya, yang hingga kini masih menjadi salah satu tantangan utama dalam pelayanan kesehatan nasional.

Kegiatan ini menghadirkan dua narasumber kompeten di bidangnya. Narasumber pertama, dr. Lalu Buly Fatrahady Utama, Sp.PD, FINASIM, menyampaikan materi bertajuk “Comprehensive Management of Diabetic Complications”. Sementara itu, narasumber kedua, Dr. dr. I Nyoman Dwija Putra, Sp.B., SubSp.BD(K)., MH., FISA., FICS, memaparkan materi “Diabetic Foot Prevention and Management: From Screening to Advanced Wound Care”.

CME ke-42 turut dihadiri oleh jajaran pimpinan Fakultas Kedokteran Unizar, di antaranya Dekan FK Unizar Prof. dr. Rosdiana Natzir, Ph.D., Sp.Biok., Wakil Dekan I dr. Rohmania Setiarini, M.Sc., Sp.N., Wakil Dekan II drg. Abdillah Adipatria Budi Azhar, M.Bmd., beserta para pejabat fakultas lainnya. Hadir pula Kepala Balai Pelatihan Kesehatan (Bapelkes) Mataram Kementerian Kesehatan RI, Ali Wardana, S.KM., M.Si., bersama jajaran.

Dalam laporannya, dr. Sheila Intan Permatasari, S.Ked, selaku Ketua Panitia CME ke-42 IKA FK Unizar, menyampaikan bahwa pesatnya perkembangan ilmu kedokteran dan teknologi kesehatan menuntut adanya transformasi dalam sistem pendidikan kedokteran. Transformasi tersebut tidak hanya mencakup kurikulum dan metode pembelajaran, tetapi juga asesmen serta pengembangan profesional berkelanjutan.

“Pendidikan kedokteran saat ini tidak lagi hanya berfokus pada penguasaan ilmu klinis, tetapi juga pada pembentukan dokter yang profesional, beretika, berorientasi pada keselamatan pasien, serta mampu beradaptasi dengan tantangan global dan kebutuhan masyarakat,” ujarnya.

Melalui seminar ini, panitia berharap CME ke-42 dapat menjadi wadah berbagi pengetahuan, pengalaman, serta evidence terkini, sekaligus mendorong diskusi konstruktif demi peningkatan kualitas layanan kesehatan melalui pendidikan kedokteran yang bermutu. Ia juga menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada para narasumber, panitia, serta seluruh pihak yang telah berkontribusi sehingga kegiatan ini dapat terselenggara dengan baik.

Sementara itu, dalam sambutannya, Kepala Bapelkes Mataram Kemenkes RI Ali Wardana, S.KM., M.Si., menyampaikan apresiasi kepada Fakultas Kedokteran Unizar dan IKA FK Unizar atas konsistensi dalam menyelenggarakan kegiatan kolaboratif yang berkelanjutan. Menurutnya, seluruh upaya tersebut bermuara pada peningkatan derajat kesehatan masyarakat serta mendukung pilar ketujuh transformasi organisasi.

Ia menjelaskan bahwa pengembangan kompetensi tenaga kesehatan dapat menjadi dasar peningkatan karier dan pengelompokan talenta yang akan diintegrasikan dalam manajemen ASN, termasuk melalui Sistem Kredit Profesi (SKP) yang terhubung dengan Learning Management System Kementerian Kesehatan, yakni Platform Pelatihan Sehat. Oleh karena itu, ia berharap seluruh alumni telah memiliki akun pada platform tersebut untuk memanfaatkan berbagai pelatihan yang tersedia.

Hal ini sejalan dengan arahan Menteri Kesehatan RI terkait penerapan digitalisasi dalam pengembangan sistem pembelajaran tenaga kesehatan, guna mempercepat peningkatan keterampilan Nakes secara merata di seluruh Indonesia serta mendukung pemetaan kualifikasi tenaga kesehatan yang selaras dengan kebijakan sistem pelayanan kesehatan nasional.

Menutup sambutannya, Ali Wardana menyampaikan terima kasih kepada pimpinan Unizar, IKA FK Unizar, IDI NTB, serta para narasumber, seraya berharap ke depan dapat digelar lebih banyak kegiatan peningkatan kapasitas, baik melalui seminar maupun pelatihan. Ia juga mengajak seluruh tenaga kesehatan untuk terus bangga melayani bangsa dan berkontribusi nyata bagi masyarakat, khususnya di wilayah NTB.

Pada kesempatan yang sama, Dekan FK Unizar Prof. dr. Rosdiana Natzir, Ph.D., Sp.Biok., dalam sambutannya menegaskan bahwa tema yang diangkat dalam CME ke-42 sangat relevan dan strategis. Diabetes melitus, meskipun merupakan penyakit tidak menular, terus menunjukkan tren peningkatan prevalensi secara nasional dan menjadi salah satu penyakit prioritas.

“Peningkatan kasus diabetes tentu berdampak pada meningkatnya angka kesakitan serta beban pembiayaan kesehatan nasional, termasuk dalam sistem Jaminan Kesehatan Nasional. Kegiatan ini juga sejalan dengan arah transformasi sistem kesehatan, khususnya transformasi layanan primer,” ujarnya.

Sebagai institusi pendidikan kedokteran, FK Unizar memandang seminar ini sebagai bentuk tanggung jawab akademik dalam mendukung peningkatan kualitas pelayanan kesehatan nasional. Ia berharap seluruh peserta memperoleh tambahan pengetahuan dan keterampilan dalam penatalaksanaan diabetes beserta komplikasinya, sehingga dapat diaplikasikan dalam praktik pelayanan kesehatan. Dekan FK Unizar secara resmi membuka Seminar Continuing Medical Education (CME) ke-42.

Dalam sesi pemaparan materi, dr. Lalu Buly Fatrahady Utama, Sp.PD, FINASIM, menekankan bahwa diabetes melitus tipe 2 merupakan penyakit kronis progresif yang tidak hanya berdampak pada peningkatan kadar gula darah, tetapi juga berisiko tinggi menimbulkan berbagai komplikasi serius apabila tidak ditangani secara komprehensif dan berkelanjutan.

Ia mengungkapkan bahwa tidak sedikit pasien baru terdiagnosis diabetes setelah mengalami komplikasi berat, kondisi yang tentu memperberat penanganan dan meningkatkan beban pembiayaan kesehatan.

Menurutnya, penatalaksanaan diabetes tidak cukup hanya berfokus pada penurunan glukosa darah, tetapi harus diarahkan pada perbaikan patogenesis penyakit melalui pendekatan komprehensif yang mencakup edukasi pasien, pengaturan pola makan, aktivitas fisik terukur, serta terapi farmakologis yang disesuaikan dengan kondisi masing-masing pasien.

Sementara itu, Dr. dr. I Nyoman Dwija Putra dalam pemaparannya menegaskan bahwa kaki diabetes (diabetic foot) masih menjadi salah satu komplikasi paling serius yang sering berujung pada kecacatan hingga amputasi apabila tidak ditangani dengan tepat. Secara global, angka kejadian diabetic foot dilaporkan mencapai 19–34 persen dari seluruh penyandang diabetes, sedangkan di Indonesia prevalensinya sekitar 15 persen, atau setara dengan 2,9 juta penderita.

Ia juga memaparkan bahwa berdasarkan data International Diabetes Federation (IDF) 2021, sebanyak 537 juta orang di dunia hidup dengan diabetes, dan jumlah tersebut diproyeksikan meningkat menjadi 783 juta orang pada tahun 2045. Indonesia sendiri menempati peringkat kelima dunia dengan jumlah penyandang diabetes mencapai 19,47 juta orang.

Dr. dr. Dwija menekankan bahwa pencegahan merupakan kunci utama dalam menekan angka kejadian kaki diabetes, yang harus dimulai sejak dini melalui skrining rutin, edukasi perawatan kaki yang benar, serta pengendalian faktor risiko seperti kontrol gula darah, infeksi, dan gangguan vaskular. Skrining yang baik memungkinkan deteksi dini sehingga intervensi dapat dilakukan sebelum terjadi ulkus berat.

Sebagai kampus swasta pertama di Nusa Tenggara Barat yang membuka Fakultas Kedokteran, Unizar terus berkomitmen berperan aktif dalam pengembangan sumber daya manusia kesehatan melalui kegiatan ilmiah berkelanjutan seperti CME. Melalui sinergi antara fakultas, alumni, dan pemangku kepentingan, CME ke-42 diharapkan memberikan manfaat nyata bagi peningkatan kualitas pendidikan kedokteran dan pelayanan kesehatan di Indonesia. (ron/*)

RELATED ARTICLES
IKLAN

VIDEO