Mataram (suarantb.com) – Gelombang pasang laut yang memicu banjir rob disertai abrasi menerjang kawasan pesisir Lingkungan Bugis, Kelurahan Bintaro, Kecamatan Ampenan, Rabu malam (21/1/2026). Akibat peristiwa tersebut, sedikitnya 18 unit rumah warga mengalami kerusakan berat dan tidak lagi layak huni.
Banjir rob mulai terjadi sejak menjelang waktu Isya sekitar pukul 19.30 Wita dan mencapai puncaknya pada pukul 23.00 Wita. Air laut meluap ke permukiman warga, disertai hempasan ombak yang merusak bangunan rumah serta fasilitas di sekitar pesisir.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Mataram, Ahmad Muzaki, mengatakan berdasarkan hasil asesmen di lapangan terdapat sekitar 25 kepala keluarga (KK) atau kurang lebih 100 jiwa yang terdampak akibat kejadian tersebut.
“Dari total 25 KK yang terdampak, sebanyak 18 rumah mengalami kerusakan berat dan tidak bisa ditempati,” ujarnya, Kamis (22/1).
Saat ini, warga yang rumahnya rusak parah terpaksa mengungsi ke masjid dan rumah kerabat terdekat. Sementara itu, BPBD Kota Mataram telah mendirikan dua unit tenda komando berukuran besar di Lingkungan Bintaro Jaya sebagai tempat evakuasi sementara bagi warga terdampak.
Selain penyediaan tempat pengungsian, BPBD bersama Dinas Sosial juga menyiapkan dapur umum di lokasi terdampak, tepatnya di Lingkungan Kampung Bugis, guna memenuhi kebutuhan logistik para pengungsi. Pihaknya juga mendirikan posko bantuan untuk menampung dan mendistribusikan bantuan agar penyalurannya lebih terkoordinasi.
“Kami bekerja sama dengan Dinas Sosial menyiapkan sekitar 100 paket logistik untuk hari ini, berupa beras, mi instan, minyak goreng, dan kebutuhan dasar lainnya,” jelas Muzaki.
Untuk memastikan kondisi kesehatan warga terdampak, BPBD juga akan berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan Kota Mataram guna melakukan pemeriksaan kesehatan di lokasi pengungsian.
Terkait kondisi cuaca, Muzaki mengungkapkan BPBD tetap siaga berdasarkan prakiraan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) yang menyebutkan cuaca ekstrem berupa hujan deras dan angin kencang berpotensi terjadi hingga 26–27 Januari 2026.
“Kami tetap siaga dan akan meningkatkan penanganan agar dampak bencana bisa diminimalisir,” katanya.
Sementara itu, Wali Kota Mataram, Dr. H. Mohan Roliskana, saat meninjau langsung lokasi banjir rob dan abrasi di Lingkungan Bugis, Kamis (22/1/2026), memastikan Pemerintah Kota Mataram telah menyiapkan langkah penanganan darurat bagi warga terdampak. “Hari ini, langsung dibangun posko darurat serta dapur umum di lokasi bencana,” ujarnya
Untuk penanganan jangka pendek, Pemkot Mataram bekerja sama dengan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Nusa Tenggara I akan memasang geobag atau bantalan pasir sebagai tanggul darurat di sejumlah titik abrasi yang dinilai cukup parah.
“Penanganan ini bersifat sementara. Saya sudah meminta BBWS untuk membantu pemasangan tanggul darurat dan sudah disetujui,” jelas Mohan.
Ia juga memastikan pada tahun 2026 pemerintah akan melanjutkan penguatan tanggul sementara dengan pemasangan batu boulder di sepanjang pesisir Ampenan agar struktur penahan ombak lebih kokoh.
Selain itu, Wali Kota telah menginstruksikan BPBD dan Dinas Sosial untuk tetap siaga di lokasi bencana guna memastikan seluruh kebutuhan dasar warga terdampak terpenuhi. Pemkot juga menyiapkan opsi hunian sementara bagi warga yang rumahnya rusak berat.
“Untuk membantu masyarakat membersihkan rumahnya pascabencana, saya kerahkan semua ASN ikut gotong royong,” pungkasnya. (pan)


