Mataram (suarantb.com) – Fakultas Kedokteran Universitas Islam Al-Azhar (FK Unizar) kembali menorehkan capaian penting dalam perjalanan pendidikan kedokteran dengan menyelenggarakan Sumpah Dokter Periode ke-49, pada Rabu (11/2/2026). Kegiatan ini menjadi momen sakral bagi 40 dokter baru yang resmi mengikrarkan sumpah profesinya.
Acara dihadiri oleh Ketua Yayasan Pesantren Luhur Al-Azhar beserta istri, Ketua Senat Akademik Unizar, Rektor Unizar, para wakil rektor, para dekan di lingkungan Unizar, serta pejabat struktural lainnya. Hadir pula sejumlah pemangku kepentingan eksternal, di antaranya perwakilan RSUD Bangli Provinsi Bali, Dinas Kesehatan Provinsi NTB, IDI Provinsi NTB, Dinas Kesehatan Kota Mataram, IDI Kota Mataram, serta undangan lainnya.
Dokter baru, dr. Dimas Agung Okoputra, S.Ked., menyampaikan rasa syukur yang mendalam atas pencapaian yang diraih setelah menempuh perjalanan panjang pendidikan kedokteran. Ia menegaskan bahwa keberhasilan tersebut, tidak lepas dari dukungan Yayasan Pesantren Luhur Al-Azhar, Universitas Islam Al-Azhar, pimpinan fakultas, dosen, tenaga kependidikan, serta doa dan pengorbanan orang tua.
“Di FK Unizar kami tidak hanya ditempa dalam ilmu dan teknologi kedokteran, tetapi juga nilai-nilai spiritual. Kami dididik menjadi dokter yang rahmatan lil ‘alamin, hadir membawa manfaat, kasih sayang, dan kebaikan bagi seluruh umat manusia,” ungkapnya. Ia juga berharap FK Unizar ke depan semakin maju dan terkemuka, khususnya di kawasan Indonesia Timur.

Sementara itu, Dekan FK Unizar, Prof. Rosdiana Natzir, Ph.D., Sp.Biok., menyampaikan bahwa pengucapan sumpah dokter ke-49 ini merupakan momentum berbahagia. Hingga saat ini, FK Unizar telah meluluskan sekitar 760 dokter, dengan kualitas yang mampu bersaing secara nasional. Ia menegaskan bahwa seluruh lulusan telah melalui tahapan ujian institusional dan nasional, serta lulus uji kompetensi nasional.
“Ini membuktikan bahwa lulusan FK Unizar tidak kalah dari fakultas kedokteran lain di Indonesia, baik dari sisi ilmu maupun keterampilan,” ujarnya.
Prof. Rosdiana juga menjelaskan kebijakan terbaru Kemendiktisaintek tahun 2025, terkait penerimaan mahasiswa baru FK yang didasarkan pada jumlah kelulusan uji kompetensi nasional. Berdasarkan regulasi tersebut, FK Unizar berpeluang menerima sekitar 90–100 mahasiswa baru, bahkan berpotensi bertambah jika didukung beasiswa daerah. Di tengah ketatnya persaingan, FK Unizar menegaskan tidak memilih jalan pintas, melainkan fokus pada mutu akademik, kualitas lulusan, dan kekhasan institusi.
Ia juga menyoroti tantangan nasional kekurangan dokter spesialis. Dalam kesempatan tersebut, Dekan FK Unizar turut menyampaikan berbagai prestasi mahasiswa dan dosen di tingkat nasional dan internasional, mulai dari juara kompetisi ilmiah, presentasi internasional, hingga partisipasi program MBKM dan FIMA Summer Camp di Kenya. Menurutnya, capaian tersebut mencerminkan ekosistem akademik yang terus berkembang dan berorientasi mutu.
Perwakilan Rumah Sakit Pendidikan Utama RSUD Bangli Provinsi Bali, dr. Dewa Gede Benny Raharja Prabawa, M.Biomed., Sp.M., menegaskan bahwa sumpah dokter bukan sekadar seremoni, melainkan janji suci yang akan melekat sepanjang hayat. Ia mengingatkan para dokter baru untuk terus belajar, menjaga etika, profesionalisme, serta kesehatan fisik dan mental dalam menghadapi tantangan dunia pelayanan kesehatan yang semakin kompleks.

Sementara, Ketua Yayasan Pesantren Luhur Al-Azhar, Dr. Ir. H. Nanang Samodra KA, M.Sc., mengisahkan perjalanan panjang dan penuh tantangan pendirian Fakultas Kedokteran Unizar sejak tahun 2000. Ia menegaskan bahwa keberhasilan FK Unizar hingga mampu melaksanakan sumpah dokter ke-49 merupakan bukti bahwa mimpi besar, doa, dan ketekunan tidak pernah sia-sia. Yayasan lanjutnya, menekankan pendidikan karakter dan empati, agar lulusan tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga matang secara emosional dan kuat secara moral.
Kepala Dinas Kesehatan Provinsi NTB yang diwakili Hj. Tuti Herawati, S.Si., MPH., menekankan pentingnya peran dokter layanan primer dalam penguatan sistem kesehatan masyarakat, khususnya di puskesmas. Ia juga mengingatkan bahwa sumpah dokter adalah awal pengabdian, yang harus dilanjutkan dengan program internship sebagai tahapan penting sebelum memperoleh STR.
Sementara itu, Ketua IDI Wilayah NTB yang diwakili Prof. Dr. dr. Hamsu Kadriyan, Sp.THT-KL., Subsp. Konsultan Onkologi, M.Kes., FICS, menyoroti dinamika organisasi profesi dan pentingnya pemerataan distribusi dokter. Ia mengapresiasi kontribusi FK Unizar sebagai kampus swasta pertama di NTB yang membuka Fakultas Kedokteran dan menjadi pionir pendidikan kesehatan di wilayah timur Indonesia. Ia juga mengingatkan empat kewajiban utama dokter: terhadap profesi, pasien, sejawat, dan diri sendiri.
Melalui pengucapan Sumpah Dokter Periode ke-49, Fakultas Kedokteran Unizar menegaskan komitmennya untuk terus melahirkan dokter yang unggul, beretika, dan berjiwa pengabdian. Para dokter baru diharapkan mampu membawa nama baik almamater, menjunjung tinggi nilai kemanusiaan, serta memberikan kontribusi nyata bagi peningkatan derajat kesehatan masyarakat, khususnya di Nusa Tenggara Barat dan Indonesia secara umum. (ron/*)



