spot_img
Kamis, Februari 26, 2026
spot_img
BerandaNTBLOMBOK BARATWarga Masih Terisolasi, Jembatan Darurat di Sekotong Timur Tak Bisa Dilalui Kendaraan

Warga Masih Terisolasi, Jembatan Darurat di Sekotong Timur Tak Bisa Dilalui Kendaraan

 

Giri Menang (suarantb.com) – Jembatan penghubung Sekotong Timur dan Desa Mareje Kecamatan Lembar, Lombok Barat (Lobar) putus akibat diterjang derasnya arus sungai, Minggu (22/2/2026) lalu. Kini, jembatan tersebut dipasangi empat batang pohon kelapa sebagai penghubung darurat. Kondisi jembatan darurat ini masih belum bisa memperlancar aktivitas warga.


Pantauan media di lokasi, Rabu (25/2/2026), warga yang hendak menyeberang terlihat mengantre di kedua sisi jembatan. Di antara mereka ada yang bertugas membantu warga lanjut usia (lansia), anak kecil, atau warga lainnya yang tidak mampu berjalan melewati batang kayu kelapa tersebut.
Beberapa sepeda motor dan truk milik warga yang hendak menyeberang, juga terlihat diparkir dan ditumpuk di kedua sisi jembatan tersebut. Warga setempat, Rohidi mengungkapkan ada sekitar dua jembatan penghubung lainnya juga terputus oleh arus sungai yang sangat besar, akibat hujan deras mengguyur sejak tiga hari lalu.


“Bukan hanya ini yang rusak, tiga yang rusak (totalnya). Tapi Ini memang jembatan utamanya yang paling besar, makanya akses kami terputus,” ungkap Rohidi ditemui di lokasi.


Menurut Rohidi, sekitar 300 Kepala Keluarga (KK) sempat terisolasi dua hari yang lalu sebelum jembatan dipasangi empat batang pohon kelapa. Ia mengatakan bahwa, warga sebenarnya memiliki jalan alternatif untuk keluar menuju jalan utama. Akan tetapi jalan tersebut sangat jauh bahkan sampai tembus ke Kuta Mandalika, Lombok Tengah.


“Ada jalan sebenarnya, tapi tembusnya ke Kuta Mandalika. Paling dekat itu ada jalur ke Sekotong, sekitar 8 kilometer dari sini. Tapi itu kita harus memutar lagi berkilo-kilo sampai ke jalan (utama) di depan yang mungkin hanya sekilo dari jembatan ini,” jelasnya.


Berangkat dari kondisi tersebut, Rohidi berharap dipasangkan jembatan sementara atau semi permanen, agar ia dan warga lainnya bisa segera menyeberang menggunakan kendaraan roda dua. “Iya mudah-mudahan dibangun segera ini, mengingat ini bulan puasa juga,” ujarnya.


Sementara itu, Kepala Desa Sekotorng Timur, Marwan Hakim mengatakan bahwa ada lima sekolah jenjang Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), Sekolah Dasar (SD) SMP dan SMA yang terdampak akibat putusnya jembatan tersebut.


“Sampai hari ini kan tidak ada yang bisa sekolah anak-anak kami ini, karena gak bisa lewat. Di sini saja SDN 1 Sekotong Timur jumlah siswanya sekitar 200 orang, tapi yang masuk gak sampai 70 orang. Ada juga warga kami yang sekolah ke luar tapi gak bisa lewat,” ungkapnya.


Tidak hanya itu, Marwan mengatakan bahwa aktivitas ekonomi masyarakat di lima dusun tersebut juga tersendat akibat lumpuhnya akses keluar menuju jalur utama. “Warga kami ini sudah gak bisa ke pasar, harus memutar dulu lewati bukit. Ada ibu-ibu yang jualan sayur pakai motor itu juga sekarang sudah gak bisa lewat jadinya,” tuturnya.


Marwan berharap Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lombok Barat segera membangunkan jembatan darurat terlebih dahulu untuk membuka kembali akses warga, karena sudah empat hari berlalu sejak jembatan tersebut putus.


“Pasti lah itu warga kami ngeluh. Makanya mereka yang gotong royong cari pohon kelapa terus dipasang. Ya itu aja dari kami dulu, supaya warga bisa nyeberang,” ujarnya.


Marwan juga takut kalau jembatan darurat ini tidak bisa dilalui kendaraan, maka warganya yang sakit atau hendak melahirkan tidak bisa ditangani dengan cepat. “Makanya sudah kami komunikasikan dengan puskesmas juga, supaya dilaporkan lebih awal kalau ada yang mau melahirkan dan disiapkan ambulan buat menjemput,” tandasnya. (her)



IKLAN
RELATED ARTICLES
IKLAN



VIDEO