Taliwang (Suara NTB) – Sepanjang bulan suci ramadan tahun 1447 ini, jajaran Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kabupaten Sumbawa Barat (KSB) rutin menggelar operasi penertiban pedagang petasan.
Dalam kegiatannya, Satpol PP KSB tidak saja beroperasi secara mandiri tetapi juga menggelar operasi gabungan bersama aparat TNI/Polri. “Tanggal 2 Maret lalu kita gelar Opgab dengan bapak-bapak TNI/Polri. Tapi sebelum itu sampai sekarang, hampir tiap hari juga anggota kami turun penertiban,” kata Kepala Satpol PP KSB, H. Syarifuddin, Minggu 8 Maret.
Upaya operasi rutin itu kata Syarifuddin, dilakukan semata dalam rangka menciptakan suasana yang aman dan kondusif. Menurutnya, di bulan Ramadan ini, masyarakat sangat perlu diberi jaminan keamanan sehingga dapat fokus beribadah. “Kami sebagai aparat penegak Perda memastikan imbauan Ramadan Bapak Bupati dipatuhi,” tandasnya.
Dalam operasi, Satpol PP KSB melakukan penyitaan petasan dan kembang api yang dinilai berbahaya serta berpotensi mengganggu keselamatan masyarakat. Selain menimbulkan kebisingan kata Syarifuddin, penggunaan petasan juga dapat memicu kebakaran dan kecelakaan, terutama di kawasan padat penduduk dan jalur lalu lintas. “Praktiknya banyak anak-anak yang menyalakan petasan biasanya di jalan-jalan. Itu berbahaya bagi warga terutama saat jalur padat di sore hari,” urainya.
Agar operasinya berjalan lancar, Syarifuddin mengatakan, pihaknya tetap bergerak secara terukur. Pendekatan persuasif dan humanis selalu didahulukan dengan terlebih dahulu memberikan pengertian kepada para pedagang terkait risiko serta aturan yang melarang peredaran petasan berbahaya.
“Kami kemudian data para pedagang dengan harapan mereka tidak menjual lagi. Dan alhamdulillah kami lihat mereka patuh,” ujar Syarifuddin.
Tidak saja melalukan operasi petasan, jajarannya sambung mantan Camat Sekongkang ini juga aktif menggelar patroli malam sepanjang Ramadan ini. Syarifuddin menyebut, patroli keliling itu untuk menyisir titik-titik keberadaan anak-anak maupun remaja yang berpotensi melalukan aksi bermain petasan di lingkungan permukiman.
“Ada banyak laporan yang masuk ke kami. Lewat kontak person maupun media sosial kami. Dan semua itu kami tindaklanjuti karena aksi anak-anak itu sudah sangat mengganggu karena mereka biasanya sampai tengah malam bermain petasan,” imbuhnya.(bug)

