BerandaNTBLOMBOK BARATTantangan Regenerasi, Para Perempuan di Taman Ayu Berupaya Melestarikan Kerajinan Tenun

Tantangan Regenerasi, Para Perempuan di Taman Ayu Berupaya Melestarikan Kerajinan Tenun

Giri Menang (Suara NTB) – Keberadaan Tenun Taman Ayu Kecamatan Gerung, Kabupaten Lombok Barat (Lobar) terancam punah akibat tantangan regenerasi. Tidak banyak kalangan muda mudi di desa itu yang mau menenun. Untungnya, ada perempuan-perempuan hebat yang berupaya mempertahankan kerajinan khas tersebut sehingga keberadaannya tidak ditelan zaman.

Adalah Sukani, Ketua Kelompok pengerajin tenun di Desa itu yang aktif membina para ibu rumah tangga dalam menenun. Warga Gunung Malang itu menuturkan, ia berkelompok 10 orang. “Kami yang aktif itu 10 orang,” imbuhnya, kemarin. Tantangan dalam menenun ini, kata dia, regenerasi karena anak muda kurang menggeluti tenun.

Namun, ia berupaya membina para ibu dan Lanjut Usia (Lansia) yang dulunya masih enggan menenun, tetapi karena tidak ada pekerjaan akhirnya tertarik kembali menenun. Saat ini, penenun di desa itu kian bertambah. Sebelumnya kendala yang mereka hadapi adalah pasar, menyebabkan mereka enggan menenun. Namun semenjak ia berupaya membantu warga memasarkan produknya, banyak warga yang mau kembali menenun.
“Karena dulu macet tenun ini kendalanya pemasaran, sekarang saya bantu menjual (pemasaran), ketika tenun mereka sudah jadi, diserahkan ke saya untuk memasarkan,” imbuhnya.

Selaku ketua kelompok, ia berupaya membantu para perajin. Tidak saja dalam memasarkan, tetapi ia juga menyiapkan kain. Ketika tenun mereka laku, ia langsung potong untuk harga benang.

Dengan pola ini, perajin tidak lagi susah memasarkan tenunnya. Dari sisi penghasilan juga jauh lebih baik, karena dibanding dulu, mereka mengambil upah tidak seberapa. Namun saat ini penghasilan warga lumayan.

Untuk kendala seperti peralatan, tidak menjadi soal bagi penenun. Karena rata-rata warga memiliki Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM). “Sejauh ini tidak ada kendala, karena rata-rata para pernain memiliki alat,” imbuhnya. Dari sisi produksi, perjain bisa membuat satu kain tenun dalam waktu dua minggu, jika tidak ada kendala. Harganya bervariasi tergantung motif, paling murah Rp600 ribu hingga Rp1 juta.

Harga tenun ini relatif mahal karena harga bahan pokok rata-rata mengalami kenaikan, seperti benang. Bahan baku benang diperoleh dengan membeli di Pasar Sweta. Tetapi untuk pewarnanya, diproduksi sendiri oleh perajin dari pewarna alam. Dari biaya produksi dengan harga jual tenun, perajin bisa memperoleh Rp40 ribu untuk satu kain.

Sementara itu, Ketua TP PKK Lobar, Hj. Ayu Indra Rukmana Zaini mengatakan, pihaknya siap membantu perajin tenun desa Taman Ayu agar tetap eksis. Salah satunya, dari sisi alat nyesek gedogan. “Sehingga nanti warga (perajin) bisa mengembangkan dan lebih rajin menenun,” imbuhnya.

Warga didorong agar tidak menenun saat ada pesanan saja. Tetapi terus menenun sehingga barangnya tetap tersedia.

Pihaknya melalui PKK dan Dekranasda nantinya bisa membantu memasarkan. Selain itu bisa ditampilkan melalui pameran-pameran. Sehingga dengan begitu, tenun desa taman ayu bisa bersaing di luar. “Dan bisa tetap eksis, tidak punah,” imbuhnya. (her)

IKLAN

RELATED ARTICLES

IKLAN





VIDEO