BerandaHEADLINEDana Revitalisasi dan Digitalisasi Pendidikan di NTB Capai Rp763,5 Miliar

Dana Revitalisasi dan Digitalisasi Pendidikan di NTB Capai Rp763,5 Miliar

L

Selong (Suara NTB) – Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Prof. Dr. Abdul Mu’ti, M.Ed., meresmikan program Revitalisasi dan Digitalisasi Pendidikan se-Nusa Tenggara Barat (NTB) di SMKN 1 Sikur pada hari Minggu (17/5/2026).


Total bantuan yang dialokasikan untuk Provinsi NTB pada tahun 2025 mencapai angka fantastis, yakni Rp763,5 miliar. Dana tersebut terbagi menjadi Rp527,5 miliar untuk revitalisasi 531 sekolah dan Rp236 miliar untuk program digitalisasi.


Bantuan revitalisasi pendidikan menyasar berbagai jenjang, mulai dari PAUD hingga SLB. Rinciannya meliputi 69 PAUD, 227 SD, 107 SMP, 60 SMA, serta 11 SKB (Satuan Pendidikan Nonformal).


Khusus untuk Lombok Timur (Lotim), sebanyak 87 sekolah menerima bantuan total Rp105 miliar dengan perincian 7 PAUD, 36 SD, 9 SMP, 12 SMA, dan 4 SLB.


Sementara untuk Kabupaten Sumbawa, 37 sekolah mendapat alokasi Rp38 miliar yang terdiri dari 6 PAUD, 9 SMP, dan 10 SMA.


Dalam hal digitalisasi, Pemprov NTB mendapatkan bantuan untuk menyediakan 7.080 penyediaan perangkat pintar seperti Interactive Flat Panel/Smartboard, penggunaan platform interaktif, hingga pengelolaan administrasi sekolah berbasis data. Bantuan tersebar di 7.000 lebih sekolah senilai Rp236 miliar. Khusus untuk Lombok Timur, bantuan digitalisasi senilai Rp47 miliar.


Menteri Abdul Mu’ti menegaskan bahwa revitalisasi dan digitalisasi bukanlah tujuan akhir, melainkan bagian integral dari upaya peningkatan kualitas pendidikan secara menyeluruh. “Dengan demikian kita dapat meningkatkan mutu pendidikan guna membangun SDM Indonesia yang unggul, cerdas, mandiri, berakhlak mulia, dan berkomitmen untuk pembangunan bangsa,” ujarnya.


Selain pembangunan fisik, Menteri Abdul Mu’ti menyoroti pentingnya peningkatan kualitas pendidik. Tahun 2025 dialokasikan beasiswa untuk 12.500 guru yang belum S1 dengan nilai masing-masing Rp3 juta per semester. Sementara untuk jenjang D4 dan S1, disediakan bantuan Rp150 ribu per orang melalui sistem Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL) untuk memenuhi kualifikasi.


“Guru adalah kunci keberhasilan pendidikan. Teknologi secanggih apa pun tidak bisa menggantikan peran guru. Fokus perhatian kita adalah pemenuhan kualifikasi, kompetensi, dan kesejahteraan guru,” tegasnya.


Program peningkatan kompetesi juga mencakup pelatihan AI (Artificial Intelligence) dan Coding yang akan menjadi pelajaran pilihan di sekolah-sekolah yang siap. Ke depan, jika sarana dan prasarana terpenuhi, AI dan Coding bisa menjadi mata pelajaran wajib di semua jenjang pendidikan.


Dalam pidatonya, Menteri menekankan pentingnya penguatan budaya dan infrastruktur karakter. Program ini diperkuat dengan penertiban kebijakan tiga kegiatan: menyanyikan lagu Indonesia Raya untuk nasionalisme, doa bersama sebelum belajar-mengajar, serta pembiasaan hidup sehat seperti makan bergizi, gemar belajar, dan disiplin tidur.

Untuk meningkatkan motivasi, tahun 2025 akan diadakan Tes Kemampuan Akademik (TKA) untuk jenjang SLTA, dan menyusul SMP serta SD pada 2026. Menteri menjelaskan bahwa TKA bukan menjadi penentu kelulusan (partisipasi 98 persen), melainkan menjadi bahan evaluasi untuk meningkatkan kualitas pendidikan.


“Memang ada realitas capaian nilai TKA yang belum sesuai harapan. Tapi itu bukan akhir segalanya, melainkan jadi bahan evaluasi,” ujarnya. Hasil TKA bahkan telah digunakan oleh salah satu perguruan tinggi di Belanda sebagai syarat penerimaan mahasiswa dari Indonesia. TKA untuk jenjang SMP akan menjadi syarat penerimaan murid baru SMA melalui jalur prestasi.
Bahasa Inggris Jadi Pelajaran Wajib di SD.


Menteri Abdul Mu’ti mengumumkan bahwa mulai tahun 2027, Bahasa Inggris akan menjadi mata pelajaran wajib bagi siswa kelas III SD ke atas. Saat ini sedang digalakkan pelatihan Bahasa Inggris untuk guru-guru SD.


Menteri menekankan pentingnya memiliki “Tiga M”: Pertama Mental yang siap untuk maju. Mantap dengan stamina spiritual dan mental yang kuat. Ketiga, Misi yang lurus dalam melaksanakan pendidikan.


“Pendidikan tak bisa dilakukan sendiri, harus dikepung semua pihak. Diharapkan dukungan semua agar semua program bisa dilaksanakan dengan sebaik-baiknya,” pungkasnya.


Kepala SMKN 1 Sikur, Hasbi Ahmad, menyampaikan rasa syukur dan bangganya kepada Presiden Prabowo Subianto serta Mendikdasmen atas bantuan revitalisasi yang diberikan. Tahun 2025, sekolahnya mendapatkan tiga Ruang Kelas Baru (RKB) yang sudah bisa dirasakan manfaatnya.


Ia menjelaskan bahwa SMKN 1 Sikur memiliki 51 rombongan belajar dengan 1.610 siswa, namun sarana prasarana ruang belajar baru tersedia 29 ruang—masih kekurangan 22 ruang belajar. Dari 11 kompetensi keahlian, baru tiga yang memiliki ruang praktik, sehingga masih kekurangan delapan ruang praktik kompetensi.


“Kehadiran Gubernur dan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah menjadi angin segar bagi pembangunan pendidikan di NTB,” ujar Hasbi Ahmad. (rus)

 

IKLAN

RELATED ARTICLES

IKLAN





VIDEO