BerandaHEADLINETingkatkan Literasi Membaca dan Ikhtiar Meminimalisir Angka Buta Aksara

Tingkatkan Literasi Membaca dan Ikhtiar Meminimalisir Angka Buta Aksara


Dalam beberapa tahun terakhir, gairah membaca di NTB menunjukkan perkembangan yang menggembirakan. Capaian itu bahkan menempatkan NTB pada posisi yang membanggakan. Pada tahun 2025, tingkat literasi membaca NTB disebut menempati peringkat kedua nasional.


PRESTASI itu seolah menjadi kabar baik yang menggambarkan meningkatnya budaya membaca masyarakat. Di tengah derasnya arus media sosial dan perubahan gaya hidup digital, capaian tersebut menjadi penanda bahwa minat masyarakat terhadap aktivitas membaca mulai bergerak ke arah positif.


Namun di balik kebanggaan itu, tersimpan kenyataan lain yang menghadirkan tanda tanya besar. Data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2025 menunjukkan NTB justru masih berada pada posisi ketiga nasional untuk angka buta aksara.


Sebuah angka yang menghadirkan paradoks: bagaimana mungkin daerah yang masuk jajaran teratas tingkat literasi membaca masih dibayangi persoalan masyarakat yang belum mampu membaca dan menulis? Dua data tersebut tampak berjalan di jalur berbeda.


Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi NTB Dr. H. Ashari, SH., MH., mengakui, jika dua data ini sebenarnya tidak sepenuhnya bertentangan, karena indikator yang digunakan berbeda dan tidak selalu berbanding lurus.


Menurutnya, data Tingkat Kegemaran Membaca (TKM) dari Perpustakaan Nasional Republik Indonesia mengukur minat, kebiasaan/perilaku, serta akses masyarakat terhadap aktivitas membaca, yang diukur melalui tahapan pra membaca, saat membaca, hingga pasca membaca. ‘’Berdasarkan data terbaru Perpusnas tahun 2025, NTB berhasil menempati peringkat kedua nasional dalam Tingkat Kegemaran Membaca,’’ ujarnya, Senin, 18 Mei 2026.


Sementara itu, tambahnya, data angka buta aksara dari Badan Pusat Statistik mengukur kemampuan dasar seseorang dalam membaca dan menulis. Data BPS tahun 2025 menunjukkan NTB berada pada posisi ketiga nasional angka buta aksara tertinggi dengan persentase sekitar 8,93 persen penduduk usia 15 tahun ke atas yang belum mampu membaca dan menulis.


‘’Artinya, tingginya tingkat kegemaran membaca tidak otomatis berbanding lurus dengan rendahnya angka buta aksara. Sebab, satu data berbicara tentang budaya dan kebiasaan membaca, sedangkan data lainnya berbicara tentang kemampuan dasar literasi masyarakat,’’ terang mantan Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Daerah Provinsi NTB ini.


Dijelaskannya, NTB dapat menempati peringkat tinggi dalam tingkat kegemaran membaca, karena dalam beberapa tahun terakhir tumbuh gerakan literasi yang cukup masif. Saat ini terdapat sekitar 181 komunitas literasi dan taman bacaan masyarakat (TBM) yang berhasil didata, ditambah dengan peran perpustakaan desa, perpustakaan sekolah, serta berbagai gerakan membaca yang aktif di tengah masyarakat.


‘’Kami sangat mengapresiasi peran komunitas literasi, TBM, dan para pegiat literasi NTB yang dengan semangat kerelawanan, bahkan di luar jam sekolah, terus membangun dan mendorong tumbuhnya budaya baca di kalangan anak-anak hingga remaja,’’ tambahnya

Selain itu, pihaknya juga memberikan apresiasi kepada Bunda Literasi NTB Hj. Sinta M. Iqbal melalui Gerakan Literasi Tradisional (GELITRA) yang sangat masif turun langsung ke lapangan, menyapa komunitas dan anak-anak NTB untuk terus membangun kebiasaan membaca. ‘’Beliau menunjukkan kepedulian yang sangat besar terhadap perkembangan literasi di NTB,’’ ujarnya.


Meski demikian, pada saat yang sama, angka buta aksara di NTB masih relatif tinggi, karena masih terdapat kelompok masyarakat tertentu, terutama usia lanjut, masyarakat di wilayah terpencil, dan kelompok dengan akses pendidikan terbatas, yang belum sepenuhnya terjangkau pendidikan dasar.


‘’Artinya, NTB saat ini sedang mengalami kemajuan literasi di satu sisi, namun di sisi lain masih memiliki pekerjaan rumah dalam pemerataan pendidikan dasar dan pemberantasan buta aksara. Ini menjadi pengingat bagi kita semua bahwa pembangunan literasi tidak cukup hanya meningkatkan minat baca, tetapi juga harus memastikan seluruh masyarakat memiliki kemampuan dasar membaca dan menulis,’’ tegasnya.


Karena itu, tambah Ashari, dua data tersebut sebaiknya tidak dilihat sebagai kontradiksi, melainkan sebagai gambaran bahwa NTB memiliki energi literasi yang kuat, namun tetap membutuhkan penguatan dalam pemerataan akses pendidikan dan pendampingan bagi masyarakat rentan. (ham)

IKLAN

RELATED ARTICLES

IKLAN





VIDEO