Mataram (Suara NTB) – Kehadiran kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) membuka peluang baru dalam mendukung berbagai aspek kehidupan, termasuk sektor kesehatan. Pemanfaatan AI dalam pelayanan kesehatan menjadi fokus AI in Healthcare Project, sebuah proyek kolaboratif yang melibatkan Summit Institute for Development (SUMMIT), Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Universitas Mataram (Unram), dan CSIRO Australia, dengan dukungan Department of Foreign Affairs and Trade (DFAT) Australia melalui program KONEKSI.
Melalui proyek tersebut, para mitra secara kolaboratif mengembangkan tiga tools berbasis AI yang dirancang untuk mendukung pelayanan kesehatan primer, khususnya kesehatan ibu dan anak. Ketiga tools tersebut adalah Optical Character Recognition (OCR) atau Bunda OCR, AI Predictive Dashboard, dan AI Personalized Message.
Ketiga tools tersebut memiliki fungsi yang berbeda, namun dirancang sebagai satu rangkaian yang saling terhubung. OCR membantu proses digitalisasi data kesehatan dari Buku KIA, AI Predictive Dashboard membantu tenaga kesehatan dalam melihat informasi dan mengidentifikasi risiko kehamilan, sementara AI Personalized Message ditujukan untuk memberikan edukasi kesehatan yang lebih relevan kepada ibu hamil.
Inovasi dalam AI in Healthcare Project tersebut diperkenalkan melalui kegiatan Webinar Diseminasi bertajuk AI in Healthcare Project secara hybrid di Hotel Lombok Astoria, Kamis (27/8). Kegiatan tersebut turut dihadiri perwakilan BRIN, UNRAM, dan CSIRO Australia sebagai mitra kolaborasi, serta Direktur Tata Kelola Pelayanan Kesehatan Primer, Kementerian Kesehatan, Dinas Kesehatan (Dinkes) NTB beserta Dinkes Kabupaten, Puskesmas dan peserta lainnya.
Research Associate SUMMIT, Rina Pertiwi, S.KM., menjelaskan bahwa pengembangan teknologi dalam proyek ini berangkat dari kebutuhan yang ditemukan dalam pelayanan kesehatan ibu di tingkat lapangan. Salah satu tantangannya adalah proses pencatatan dan pemindahan informasi dari Buku KIA ke dalam sistem digital yang masih membutuhkan waktu dan tenaga bidan. Di sisi lain, data yang sudah tersedia perlu diolah agar dapat lebih mudah digunakan untuk mendukung pemantauan dan penentuan prioritas pelayanan ibu hamil.
“Jadi, inovasi ini berasal dari kebutuhan lapangan yang kemudian kita translasi menjadi tools (alat) yang kemudian dikembangkan bersama,” terangnya.
Dalam AI in Healthcare Project, kebutuhan tersebut kemudian diwujudkan melalui tiga tools yang saling terhubung. OCR atau Bunda OCR digunakan untuk membantu mengubah informasi dalam Buku KIA menjadi data digital. Data tersebut selanjutnya dapat digunakan dalam AI Predictive Dashboard untuk membantu bidan melihat informasi risiko dan menentukan prioritas tindak lanjut. Sementara itu, AI Personalized Message memanfaatkan WhatsApp untuk membantu menyampaikan informasi dan edukasi kesehatan kepada ibu hamil.
Salah satu tools tersebut adalah Optical Character Recognition (OCR) atau Bunda OCR. Teknologi ini membantu bidan dalam mendigitalisasi informasi yang sebelumnya tercatat di Buku KIA, sehingga tidak seluruh data perlu dipindahkan secara manual ke dalam sistem. Data yang telah didigitalisasi kemudian menjadi bagian dari alur pengelolaan data yang mendukung tools berikutnya.
Data tersebut kemudian menjadi bagian dari alur menuju AI Predictive Dashboard. Dashboard ini dirancang sebagai decision-support tool bagi tenaga kesehatan untuk membantu melihat jumlah pasien, informasi risiko, serta menentukan prioritas pelayanan dan tindak lanjut.
“Namanya adalah AI Predictive Dashboard atau dashboard yang menjadi tools pembantu atau supporting tools bagi bidan untuk melihat profil dan kondisi ibu hamil, mengetahui hasil prediksi risikonya, kemudian membantu menentukan prioritas pelayanan dan tindak lanjut,” jelasnya.
Meski memanfaatkan AI, tools tersebut tidak dimaksudkan untuk menggantikan peran tenaga kesehatan. Informasi yang dihasilkan tetap perlu dilihat dan diverifikasi oleh bidan serta digunakan bersama dengan penilaian dan praktik pelayanan kesehatan yang sudah berjalan.
“Jadi tools ini tidak menggantikan peran bidan, tapi hanya sebagai akselerasi saja, sebagai percepatan yang datanya itu digunakan sebagai aksi nyata,” tuturnya.
Sementara itu, AI Personalized Message menjadi bagian dari rangkaian tools dalam proyek tersebut yang ditujukan langsung kepada ibu hamil. Jika OCR dan AI Predictive Dashboard digunakan untuk mendukung tenaga kesehatan dalam mengelola dan memanfaatkan data, AI Personalized Message menggunakan WhatsApp sebagai kanal komunikasi untuk menyampaikan pesan kesehatan secara personal kepada ibu hamil.
Pesan yang diberikan disesuaikan dengan informasi dan kebutuhan ibu hamil yang tersedia dalam sistem, sehingga komunikasi tidak hanya bersifat umum. Melalui pendekatan ini, teknologi diharapkan dapat membantu menyampaikan informasi kesehatan, pengingat, maupun pesan yang relevan dengan kondisi kehamilan secara lebih langsung kepada ibu hamil.
Menurut Rina, keterlibatan ibu hamil merupakan bagian penting dalam keberlanjutan pelayanan kesehatan. Upaya tenaga kesehatan dalam memberikan pemantauan dan edukasi perlu diikuti dengan keterlibatan ibu hamil dalam memahami kondisi kehamilannya dan mengikuti anjuran pelayanan kesehatan.
“Karena akan pincang rasanya kalau semisal Ibu Bidan saja yang berusaha untuk memberikan awareness (kesadaran), memberikan edukasi, dan lain sebagainya. Sedangkan ibu hamil ini tidak ada kesadaran pribadinya,” kata Rina.
Saat ini, ketiga tools dalam AI in Healthcare Project tersebut masih terus dikembangkan. Piloting dilakukan di beberapa lokasi, yakni Puskesmas Cibatu dan Karangpawitan di Kabupaten Garut, Puskesmas Narmada di Lombok Barat, serta Puskesmas Montong Betok di Lombok Timur.
Pengembangan teknologi tersebut melalui proses yang cukup panjang dan melibatkan pemanfaatan data kesehatan ibu. Salah satu dataset yang digunakan dalam pengembangan mencakup lebih dari 12.000 data ibu hamil.
Menurut Rina, pengembangan teknologi kesehatan tidak hanya berkaitan dengan menghasilkan produk akhir. Proses pengembangan juga perlu memastikan bahwa teknologi dibangun berdasarkan kebutuhan pengguna, menggunakan data yang memadai, serta menghasilkan keluaran yang relevan dengan kebutuhan pelayanan di lapangan.
“Karena sebenarnya lebih penting dari pengembangan teknologi itu tidak hanya di akhir ketika teknologi diimplementasikan. Tapi lebih ke bagaimana pembuatan teknologi ini. Apakah sudah benar caranya, sudah cukup data yang digunakan, kemudian output-nya apakah sudah sesuai dengan kebutuhan,” terang Rina.
Ke depan, SUMMIT bersama para mitra akan terus mengembangkan dan mendorong pemanfaatan teknologi ini agar dapat diterapkan lebih luas. Upaya tersebut juga dilakukan melalui kerja sama dengan pemerintah dan dinas terkait di daerah. “Kami dan juga para mitra lainnya itu berencana untuk terus mengembangkannya dan secepat mungkin di-scale up dan jika memungkinkan itu dengan versi nasional,” pungkasnya. (sib)


