Giri Menang (Suara NTB) – Masyarakat Muslim di Lombok umumnya dan Lombok Barat pada khususnya menggelar khataman massal Al-Qur’an dalam memperingati maulid Nabi Muhammad SAW. Khataman Al-Qur’an massal yang dilakukan oleh masyarakat Lobar ini adalah sebagai tradisi yang biasa dilaksanakan setiap tahun.
Menurut Kepala Dusun Telaga Lebur, Desa Sekotong Tengah, Mahnun, S.H., khataman Al-Qur’an diikuti oleh anak-anak yang setiap hari mengaji di Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPQ) setempat. “Ini tradisi turun-temurun di daerah kami yang sampai sekarang masih lestari,” kata Mahnun, beberapa waktu lalu.
Maulid Nabi di masjid Raudhatul Muslimin dusun setempat dihadiri oleh TGH Muhajirin Ismail dan para tamu undangan serta jemaah. Sebelum pengajian umum dimulai, terlebih dahulu diadakan Namatan atau Khataman. Anak-anak berjejer di depan Tuan Guru dan para tamu, mereka membaca Al-Qur’an satu per satu secara bergiliran, mulai dari surat Surah At-Takasur hingga Surat An-Nas atau surat ke-114 sekaligus surat terakhir dalam Al-Qur’an.
Bacaan Mereka langsung disimak oleh tuan guru. Pada bagian akhir, secara bersama-sama membaca surat Al-An’am. Setelah membaca Al-Qur’an, mereka keliling bersalaman dimulai dari Tuan Guru lalu ke jemaah yang lain.
Maulid di komplek perumahan BTN Pondok Indah juga masih mengadakan tradisi khataman Al-Qur’am saat maulid Nabi Muhammad. Lurah Gerung Selatan Akhwan Mashudi yang menghadiri Maulid Nabi di BTN itu menyampaikan bahwa khataman ini menjadi bagian tak terpisahkan ketika perayaan Maulid Nabi. “Selain itu kegiatan maulid ini menjadi ajang silaturahmi jemaah,” ujarnya.
Pihaknya juga memanfaatkan momen Maulid Nabi untuk menyampaikan program pemerintah dan kelurahan. Sebagai informasi, Tradisi Namatang atau Namatan sendiri berasal dari kata tamat. Acara ini merupakan acara seremonial yang menjadi simbol bahwa anak yang mengaji Al-Qur’an kepada seorang guru tertentu telah khatam membaca Al-Qur’an dan dinyatakan lancar bacaannya.
Dalam praktiknya, anak-anak yang mengaji kepada seorang guru terlebih dahulu akan diseleksi oleh guru yang bersangkutan. Mereka yang sudah khatam bacaan Al-Quran-nya atau yang bacaannya sudah bagus dan fasih dianjurkan untuk mengikuti acara Namatan.
Namatan sendiri merupakan acara seremonial yang biasanya menjadi salah satu rangkaian dalam acara Maulid Nabi. Anak-anak yang sudah terpilih untuk ikut acara Namatan dipersiapkan sedemikian rupa dan dibawa ke tempat acara maulid nabi daerah setempat, biasanya di masjid atau di surau. Hal ini biasanya dilakukan sebelum uraian hikmah maulid Nabi Muhammad SAW.
Di hadapan jemaah dan tokoh agama (biasanya disebut TGH/Tuan Guru), mereka diminta untuk membaca surah-surah pendek. Ketika mereka membacakan ayat-ayat tersebut, Tuan Guru akan menyimak dan membetulkan bacaan anak-anak yang Namatan tersebut bila terdapat kekeliruan. Selain sebagai simbol kemahiran anak-anak didik dalam membaca Al-Qur’an, acara seremonial ini juga sekaligus menjadi uji publik bacaan Al-Qur’an bagi anak-anak yang bersangkutan.
Acara Namatan ini menjadi kebanggaan tersendiri khususnya bagi orang tua yang anaknya ikut sebagai peserta Namatang. Maka dari itu, guna merayakan kebahagiaan karena anaknya sudah hatam Al-Qur’an, mereka mengadakan acara selametan dengan mengundang sanak keluarga dan tetangga sekitar.
Bahkan di beberapa daerah, para wali murid ini membuat sajian yang dirangkai sedemikian rupa untuk diantarkan ke rumah sang guru ngaji. Masing-masing orang tua murid membuat dua hantaran, satu untuk diantarkan kepada guru ngaji dan satunya lagi untuk Tuan Guru dan para jemaah yang hadir dalam acara Namatan atau khamatan. Dalam tradisi masyarakat lombok, hantaran ini disebut sebagai Dulang Penamat. (her)



