Praya (Suara NTB) – Kasus dugaan pelecehan seksual yang dilakukan oleh oknum pimpinan salah satu Pondok Pesantren (Ponpes) di Kecamatan Jonggat, Lombok Tengah (Loteng) berinisial AIS, terungkap ke publik. Kabar terkait kasus itu pun viral di media sosial. Karena resah para orang tua santri yang tengah menimba ilmu di ponpes tersebut berbondong-bondong membawa paksa pulang anak-anaknya, sejak Senin (21/9/2026) malam.
Hingga Selasa (22/9/2026), aksi bawa pulang paksa santri terus berlanjut. Guna menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, pihak komite sekolah serta pengurus ponpes akhirnya memutuskan untuk meliburkan seluruh santri selama tiga hari. Aparat Polresta Loteng pun diterjunkan untuk mengamankan proses pemulangan santri serta ponpes yang diduga tempat terjadinya pelecehan seksual.
“Untuk saat ini terkonfirmasi dari pihak pengurus dan komite ponpes bahwa untuk sementara anak-anak ponpes diliburkan tiga hari. Mulai hari ini (Selasa kemarin) sampai hari Kamis,” sebut Kapolsek Jonggat AKP Susan, saat dikonfirmasi Suara NTB, di lokasi ponpes, Selasa siang.
Guna memastikan proses pemulangan santri dan kondisi ponpes tetap terjaga dengan aman, pihak kepolisian langsung turun melakukan penjagaan. Tidak kurang dari 28 personel dari Polsek Jonggat dibantu dari personil Polres Loteng diterjunkan sampai kondisi terkendali.
“Untuk pengamanan melihat situasi dan kondisi di lapangan. Disesuaikan juga hasil koordinasi dengan pihak ponpes nantinya,” sebut mantan Kapolsek Praya ini.
Pihak Ponpes di Lombok Tengah Liburkan Santri
Terpisah, Ketua Komite Ponpes Saphan, mengatakan kalau langkah meliburkan santri dilakukan untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan. Mengingat, banyak orang tua santri yang memaksa untuk membawa pulang anak-anaknya. Pasca kasus dugaan pelecehan tersebar luar ke kemasyaratakan.
Padahal kalau proses belajar mengajar sendiri tetap berjalan seperti biasa. “Tapi mengingat kondisi yang ada, akhirnya diputuskan untuk meliburkan santri selama tiga hari kedepan sampai hari Kamis. Baik itu santri maupun santriwati,” sebutnya.
Ia menambahkan, saat ini ada 800 lebih santri dan santriwati yang tengah menimba ilmu di ponpes tersebut. Tidak hanya dari Loteng tetapi juga dari luar. Bahkan ada juga yang berasal dari luar NTB, seperti Sulawesi dan Kalimantan.
Sementara itu, salah seorang wali santri yang enggan disebutkan namanya, mengaku khawatir dengan informasi yang beredar. Sehigga pihaknya memutuskan untuk membawa pulang sementara anaknya sampai kondisi memungkinkan. Ia pun mengaku tidak pernah mendengar informasi yang aneh-aneh dari anaknya terkait aktifitas belajar mengajar di ponpes tersebut. Tapi setelah mendapat informasi soal tersebut (dugaan pelecehan oleh pimpinan ponpes), pihaknya mulai khawatir.
“Seperti kelanjutannya, apakah santri akan Kembali atau tidak, nanti kita tunggu informasi dari pengurus ponpes,” ujarnya.
Informasi terkait dugaan pelecehan seksual oleh oknum pimpinan ponpes berinisial AIS tersebut terungkap dari pemberitaan di salah satu media internasional. Korbanya diduga lebih dari satu orang. Terjadi sebelum tahun 2023 lalu. (kir)



