Mataram (Suara NTB) – Kemampuan mengambil keputusan secara cepat dan tepat menjadi salah satu kunci dalam menangani pasien gawat darurat. Terlambat mengenali kondisi kritis dapat meningkatkan risiko bagi keselamatan pasien.
Pesan tersebut menjadi perhatian dalam Seminar Nasional Continuing Medical Education (CME) ke-44 yang digelar Ikatan Keluarga Alumni (IKA) Fakultas Kedokteran Universitas Islam Al-Azhar (FK Unizar) di Gedung Teater Ahmad Firdaus Sukmono, Minggu (20/9/2026).
Mengusung tema “Emergency Masterclass: Think Fast, Act Right, Save Lives”, kegiatan ini diikuti 221 peserta secara luring dan daring melalui Zoom. Peserta berasal dari berbagai rumah sakit, puskesmas, mahasiswa, dan kalangan tenaga kesehatan.
Dua narasumber dihadirkan dalam CME tersebut, yakni Dr. dr. Tri Maharani, M.Si., Sp.EM.Sub.Sp Tok (K), FICEP., FIMMA dan dr. Oxy Cahyo Wahyuni, Sp.EM., FICEP., FISQua.
Ketua Panitia CME ke-44, dr. Ida Bagus Arya Ramatantra, mengatakan kondisi emergensi merupakan keadaan gawat atau mendadak yang dapat mengancam keselamatan pasien sehingga membutuhkan penanganan segera.
“Sebagai tenaga kesehatan, kita wajib memahami dan menguasai cara menyelamatkan nyawa pasien yang berada dalam kondisi emergensi,” ujarnya.
Menurutnya, pembaruan pengetahuan menjadi penting karena ilmu dan praktik kedokteran terus berkembang. Karena itu, CME tidak hanya menjadi forum pertemuan alumni, tetapi juga sarana meningkatkan kemampuan tenaga kesehatan agar dapat menerapkan pengetahuan tersebut dalam pelayanan.
Dalam CME ke-44, peserta mendapatkan dua materi utama. Dr. Tri Maharani membawakan topik “Snakebite and Poisoning Emergency”, yang membahas kegawatdaruratan akibat gigitan ular dan keracunan.
Sementara dr. Oxy Cahyo Wahyuni menyampaikan materi “Approach to Critically Ill Patients Using ABCDE”, yang membekali peserta dengan pendekatan sistematis dalam menghadapi pasien kritis.
Kegawatdaruratan Tak Hanya Terjadi di Rumah Sakit
Ketua IKA FK Unizar, dr. Gede Agung Setya Wibawa, Sp.PD, mengatakan CME menjadi momentum bagi alumni dan tenaga kesehatan untuk terus memperbarui pengetahuan sekaligus mempererat silaturahmi.
Ia menilai kompetensi kegawatdaruratan sangat penting, terutama bagi dokter yang bekerja di fasilitas pelayanan kesehatan seperti puskesmas, klinik, maupun IGD.
“Kondisi kegawatdaruratan harus ditangani sedini mungkin. Penanganan awal juga perlu dilakukan tanpa harus menunggu diagnosis definitif ditegakkan terlebih dahulu,” katanya.
Dengan pendekatan tersebut, pasien yang datang dalam kondisi gawat dapat segera mendapatkan tindakan awal dan distabilkan sebelum mendapatkan penanganan lebih lanjut.
Pesan serupa disampaikan Bendahara IDI Wilayah NTB, dr. Syahidatul Kautsar, MARS., yang mewakili Ketua IDI Wilayah NTB.
Ia mengingatkan bahwa dokter pada hakikatnya merupakan long-life learner atau pembelajar sepanjang hayat. Karena itu, peningkatan kompetensi harus dilakukan secara berkelanjutan.
Menurutnya, pengetahuan kegawatdaruratan tidak hanya dibutuhkan di lingkungan intrahospital, tetapi juga ekstrahospital. Kondisi darurat dapat terjadi di puskesmas, klinik, lingkungan masyarakat, bahkan di tengah kehidupan sehari-hari.
“Identitas sebagai seorang dokter akan selalu melekat pada kita. Karena itu, kita harus senantiasa menjaga profesionalisme dan tanggung jawab sebagai tenaga medis,” pesannya.
Kompetensi Tenaga Kesehatan Perlu Terus Diperkuat
Kepala Balai Pelatihan Kesehatan (Bapelkes) Mataram Kementerian Kesehatan RI, Ali Wardana, S.KM., M.Si., menekankan pentingnya pengembangan kapasitas tenaga kesehatan secara berkelanjutan.
Menurutnya, peningkatan kompetensi tidak hanya melalui pendidikan formal, tetapi dapat dilakukan melalui seminar, webinar, coaching, mentoring, magang, maupun berbagai bentuk pembelajaran lainnya.
Penguatan sumber daya manusia kesehatan, lanjutnya, perlu memperhatikan kualifikasi, kompetensi, dan kinerja tenaga kesehatan. Tujuannya agar peningkatan kapasitas tersebut pada akhirnya berdampak langsung terhadap kualitas pelayanan yang diterima masyarakat.
Sementara itu, Wakil Dekan III FK Unizar, dr. Risky Irawan Putra P., Sp.P, MARS, yang sekaligus membuka kegiatan, mengingatkan para alumni dan dokter muda agar menjadikan ilmu sebagai sarana untuk membantu sesama.
“Ilmu yang kita miliki bukanlah milik kita sendiri. Bagikanlah ilmu tersebut kepada siapa saja yang membutuhkan dan gunakanlah ilmu tersebut sebaik mungkin untuk menolong sesama,” ujarnya.
Ia berharap CME ke-44 dapat menjadi bekal tambahan bagi tenaga kesehatan, khususnya mereka yang akan berkecimpung dalam pelayanan emergensi.
Sebab, bagi masyarakat, kemampuan tenaga kesehatan dalam mengenali kondisi kritis, mengambil keputusan secara tepat, dan memberikan pertolongan awal bukan sekadar persoalan kompetensi profesional, tetapi dapat menjadi penentu keselamatan pasien.
Seminar Nasional CME ke-44 kemudian secara resmi dibuka oleh dr. Risky Irawan Putra P. dengan mengucapkan Bismillahirrahmanirrahim.
Dari Pengetahuan Menjadi Tindakan
Kegawatdaruratan tidak selalu memberi banyak waktu untuk berpikir. Dalam hitungan menit, kemampuan mengenali tanda bahaya, menentukan prioritas, dan melakukan intervensi yang tepat dapat menjadi bagian penting dalam upaya menyelamatkan nyawa.
Melalui CME ke-44, peserta diajak tidak hanya memahami apa yang harus dilakukan, tetapi juga kapan harus bertindak. Dari penanganan gigitan ular dan keracunan bersama Dr. Tri Maharani hingga pendekatan sistematis pasien kritis melalui ABCDE bersama dr. Oxy Cahyo Wahyuni, setiap materi membawa satu pesan penting: kenali lebih cepat, bertindak lebih tepat.
Karena dalam emergency medicine, waktu bukan sekadar angka—waktu adalah kesempatan untuk menyelamatkan kehidupan. (ron)



