Selong (Suara NTB) – Sebagian besar ternak sapi di Kabupaten Lombok Timur (Lotim), Nusa Tenggara Barat, hingga kini belum mendapatkan vaksinasi Penyakit Mulut dan Kuku (PMK). Dari total populasi sekitar 130 ribu ekor sapi, baru sekitar 24 ribu ekor sapi yang telah mendapatkan vaksinasi dosis pertama.
Kepala Bidang Kesehatan Hewan dan Masyarakat Veteriner (Kesmavet) Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disnakeswan) Lombok Timur, drh. Hultatang mengatakan, vaksinasi terus dilakukan sebagai langkah untuk meningkatkan kekebalan ternak terhadap PMK.
“Sebagian besar tidak ada kendala dalam proses vaksinasi. Peternak juga sudah mulai sadar untuk melakukan vaksinasi. Namun, edukasi kepada peternak tetap kami tingkatkan,” ucap Hultatang.
Berdasarkan data vaksinasi, sekitar 24 ribu ekor sapi telah mendapatkan vaksinasi pertama. Sementara vaksinasi kedua baru menjangkau sekitar 5.000 hingga 6.000 ekor ternak.
Secara keseluruhan, sekitar 31 ribu dosis vaksin telah digunakan dari total 55 ribu dosis yang disediakan pemerintah.
Dengan populasi sapi sekitar 130 ribu ekor dan capaian vaksinasi pertama sekitar 24 ribu ekor, masih terdapat sekitar 105 ribu ekor sapi yang belum mendapatkan vaksinasi dosis pertama.
Hultatang menyebut stok vaksin PMK saat ini masih aman. Vaksin yang diberikan kepada peternak juga berasal dari pemerintah dan tidak dipungut biaya. Sementara vaksinasi secara mandiri oleh peternak belum tersedia sebagai program tersendiri.
Menurutnya, vaksinasi PMK penting dilakukan untuk memberikan kekebalan pada ternak sehingga risiko dampak penyakit dapat ditekan.
Upaya percepatan vaksinasi menjadi semakin penting karena PMK masih ditemukan di Lombok Timur. Data terbaru yang disampaikan Disnakeswan Lotim pada September 2026 menyebutkan terdapat laporan ratusan ekor sapi di 13 kecamatan yang terjangkit PMK. Pemerintah daerah juga terus mendorong vaksinasi secara berkala sebagai salah satu langkah pencegahan.
Hultatang mengatakan sebagian besar peternak telah menerima pentingnya vaksinasi. Namun, masih terdapat sebagian peternak yang menolak atau belum bersedia memberikan vaksin kepada ternaknya.
“Kalau ada yang menolak, itu dinamika. Hal biasa. Karena itulah kita gencarkan sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat peternak,” ujarnya.
Ia berharap pemerintah pusat dapat memberikan tambahan alokasi vaksin sehingga cakupan vaksinasi di Lombok Timur dapat diperluas.
Selain meningkatkan cakupan vaksinasi, pemerintah daerah juga berharap kondisi kesehatan ternak sapi di Lombok Timur tetap terjaga. Meski masih terdapat kekhawatiran terhadap PMK, kondisi tersebut dinilai belum terlalu mengkhawatirkan.
“Harapannya ke depan pusat dapat memberikan tambahan alokasi vaksin yang lebih banyak. Kesehatan sapi-sapi juga tetap terjaga dengan baik,” kata Hultatang. (rus)



