BerandaNTBLOMBOK BARATHarga Semen di Pengecer Capai Rp87 Ribu per Sak

Harga Semen di Pengecer Capai Rp87 Ribu per Sak

Giri Menang (Suara NTB) – Penutupan Selat Hormuz di Iran disebut berdampak langsung pada pasokan semen global karena gangguan logistik kargo curah, serta melonjaknya biaya energi dan transportasi laut. Salah satu yang terdampak langsung adalah daerah Lombok Barat (Lobar). Sejak tiga bulan terakhir, pasokan semen ke distributor limit sehingga memicu kelangkaan.


Kepala Bidang Perdagangan Dinas Perdagangan Lobar, Lale Widiani, SH., menyampaikan bahwa pihaknya sudah turun mengecek stok semen di sejumlah distributor besar di wilayah Lobar, seperti Semen Tiga Roda, Bosowa, Tonasa, dan lainnya. Pengecekan juga dilakukan di tingkat pengecer.


Hasil pengecekan di tingkat pengecer, stok semen ditemukan kosong. Dari sisi harga semen di tingkat distributor tidak berubah. Artinya dari distributor ke toko tidak menaikkan harga di tengah kondisi limitnya semen ini.


Begitu pula di toko, harga semen tetap, tetapi dari hasil pengecekan timnya di lapangan yang menaikkan harga di tingkat pengecer. “Harga semen sampai Rp65-80 ribu per sak, kemarin tim kami temukan di Meninting dan Lembar harganya Rp87 ribu per sak,” sebutnya.


Kondisi kelangkaan dan melonjaknya harga semen ini tidak saja di Lobar, tetapi di semua daerah di Indonesia. Terkait langkah penanganan Pemkab, selain turun pemantauan ke lapangan. Sedangkan langkah lain tidak bisa dilakukan, karena persoalan pada pengiriman yang kurang karena kendala produksi secara nasional.


Sementara itu, dari keterangan para distributor diperoleh informasi bahwa inti persoalannya hampir sama secara nasional.


“Pertama, pengiriman solar dari luar negeri masuk ke Indonesia tersendat karena Selat Hormuz itu tidak bisa dilewati, permasalahannya di sana. Sedangkan untuk bahan pembakaran semen itu juga diperlukan solar murni,” kata Lale, Jumat (25/9/2026).


Permasalahan kedua, pasokan batubara terkendala akibat sungai di Kalimantan airnya surut. Akibatnya, kapal untuk pengiriman batu bara pun tidak bisa lewat di sungai tersebut. “Jadi kapal batubara untuk pembakaran semen tidak bisa lewat,” imbuhnya.


Beberapa kendala ini menyebabkan produksi semen berkurang sehingga berpengaruh pada pasokan semen ke distributor. Menurut keterangan distributor, kondisi ini terjadi sejak bulan Juli, Agustus hingga September ini. “Dari distributornya saya tanya tadi mulai Juli, Agustus, September mulai limit pasokannya,” ungkapnya. (her)

IKLAN

spot_img
RELATED ARTICLES

IKLAN







VIDEO