BAGAIMANA resep ampuh untuk menjadi penulis? Apakah membaca buku berisi penjelasan jenis-jenis kakus saat masa kecil mampu memuluskan keinginan menjadi penulis?
Jawaban dari pertanyaan-pertanyaan itu dan sederet pertanyaan lainnya seputar membaca dan menulis bisa tergambar melalui buku Terkenang Nyonya Rissa: Bacaan-Bacaan Buruk dan Pengalaman Menyenangkan Lainnya (Warning Books, 2026). Kumpulan esai terbaru karya Mahfud Ikhwan ini merupakan semacam memoarnya tentang pengalaman membaca sejak kecil, termasuk pengalaman-pengalaman kehidupan pribadinya di masa kecil hingga menempuh studi di kuliah.
Jika melihat sepak terjang Mafhud sebagai novelis dengan sederet penghargaan, pembaca bisa penasaran apa saja buku dan pengalaman yang membuat Mafhud dikenal sebagai salah satu novelis terdepan di Indonesia.
Apalagi sebagai seorang penulis dan novelis, beberapa novelnya meraih penghargaan, di antaranya Kambing dan Hujan (2015) memenangkan Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta 2024 dan novel terbaik Badan Bahasa RI 2016. Novelnya, Dawuk: Kisah Kelabu dari Rumbuk Randu (2017) memenangkan Kusala Sastra Khatulistiwa 2017, sedangkan sekuelnya, Anwar Tohari Mencari Mati (2021) meraih Anugerah Sutasoma dari Balai Bahasa Jawa Timur.
Dari sederet karya dan penghargaan itu, Mafhud tak lepas dari pengalaman membaca buku, koran, mendengarkan radio, menonton film, dan berbagai pengalaman yang disebutnya “menyenangkan lainnya”. Buku ini menyingkap pengalaman hidup dan kekaryaan Mafhud tersebut.
Dalam buku ini, Mahfud berbagi pengalamannya bersentuhan dengan buku-buku dan kesenian lainya yang disebutnya “buruk”. Kehidupannya di wilayah desa dan berbagai keterbatasannya membuatnya tidak bisa mengakses banyak bacaan baik. Salah satunya tergambar di tulisan “Buku Panduan tentang Jenis-jenis Kakus” (halaman 8), Mafhud menceritakan pengalamannya membaca buku jenis-jenis kakus itu. Ia membaca buku itu karena hanya buku itu yang tersedia.
Pengalamannya sebagai anak desa yang merantau ke wilayah perkotaan lengkap dengan gegar budaya dan persentuhannya dengan berbagai karya seni bisa menjadi cermin bagi siapa saja yang ingin belajar menjadi penulis.
Meskipun ia mengakui masa kecil dan remajanya banyak dihabiskan bersentuhan dengan buku-buku buruk maupun karya seni berlabel “buruk” lainnya, tetapi ia mengakui bahwa berbagai “karya buruk” itu memberi bekal bagi kepenulisannya.
Meski demikian, perbedaan buku buruk dan buku bagus tetaplah ada dan memang seharusnya ada garis pemisah. Di tulisan pertama buku ini, Mafhud bahkan menegaskan adanya perbedaan karya buruk dan karya bagus: “Walaupun begitu, buku buruk mesti dikatakan buruk, sebagaimana buku baik juga mesti dikatakan baik, dan sebaiknya kita tak mempertukarkannya dengan dalih selera.” (halaman 7)
Hampir di setiap tulisan, Mafhud membagikan pengalamannya bersentuhan dengan karya yang bisa diberikan label buruk. Dan di bagian akhir setiap tulisan, senantiasa ada yang bisa dipetik dari pengalaman itu.
Buku ini ditulis dalam bentuk esai yang terpisah-pisah. Beberapa tulisan pernah dimuat di media massa dan setiap tulisan mudah untuk dituntaskan dalam sekali duduk. Ditulis dengan gaya yang ringan serta beberapa bagian terasa jenaka memudahkan pembaca menyimak keseluruhan isi tulisan.
Tulisan-tulisan di buku ini bisa relevan bagi banyak orang, termasuk bagi kondisi saat ini. Tidak semua orang bisa mengakses karya seni yang dilabeli bagus. Ketimpangan sarana setiap daerah, kemampuan mengakses karya bagus, dan bebagai faktor lainnya membuat pengalaman setiap orang bisa berbeda-beda. Hal ini bisa menjadi bahan perenungan bersama.
Walau sebagian besar buku ini berisi pengalaman Mafhud membaca bacaan-bacaan buruk dan pengalamannya bersentuhan dengan karya seni yang dilabeli buruk, tetapi senantiasa ada hikmah dari itu semua. Berbagai pengalamannya itu dipergunakannya sebagai bagian dari perkakasnya dalam menulis.
Mafhud menulis: “Jika tidak bisa sebagai tonggak-tonggak acuan yang dituju, mereka tak bisa begitu saja diabaikan setidaknya sebagai pengalaman membaca. Dan, pada kenyataannya, begitulah bacaan bekerja untuk seorang penulis.” (Rony Fernandez)
Judul: Terkenang Nyonya Rissa: Bacaan-Bacaan Buruk dan Pengalaman Menyenangkan Lainnya
Penulis: Mafhud Ikhwan
Penerbit: Warning Books
Tebal: 181 halaman
Tahun terbit: April, 2026



