BerandaEKONOMIInflasi NTB Masih Berada di Level Tinggi

Inflasi NTB Masih Berada di Level Tinggi

Mataram (Suara NTB) – Inflasi Provinsi NTB pada September 2026 masih berada di level tinggi. Secara tahunan, inflasi NTB mencapai 4,18 persen, dengan tekanan harga terutama berasal dari kelompok makanan serta sejumlah komoditas dan tarif yang mengalami kenaikan.


Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi NTB, Wahyudin dalam rilis resmi, Kamis, 1 Oktober 2026 mengatakan, inflasi tahunan tersebut tercermin dari kenaikan Indeks Harga Konsumen (IHK) menjadi 113,26.
“Pada September 2026 terjadi inflasi year on year (y-on-y) Provinsi NTB sebesar 4,18 persen,” kata Wahyudin.


Inflasi tertinggi terjadi di Kota Bima sebesar 4,76 persen, sedangkan terendah di Kota Mataram sebesar 3,73 persen.


Tekanan inflasi terjadi pada seluruh 11 kelompok pengeluaran. Kenaikan tertinggi tercatat pada kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 11,06 persen, disusul makanan, minuman dan tembakau sebesar 5,18 persen.


Sementara kelompok perumahan, air, listrik dan bahan bakar rumah tangga naik 3,46 persen; transportasi 3,70 persen; informasi, komunikasi dan jasa keuangan 3,30 persen; serta penyediaan makanan dan minuman/restoran 2,47 persen.


Kelompok lainnya juga mengalami kenaikan, yakni pakaian dan alas kaki 0,31 persen, perlengkapan rumah tangga 2,32 persen, kesehatan 1,57 persen, rekreasi, olahraga dan budaya 2,87 persen, serta pendidikan 1,43 persen.


Secara bulanan, inflasi NTB pada September tercatat 0,36 persen, melandai dibandingkan Agustus yang mencapai 0,57 persen. Sementara inflasi tahun kalender mencapai 2,72 persen.


Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi NTB, Hario K. Pamungkas, mengatakan tekanan inflasi bulanan terutama dipicu kenaikan harga sejumlah komoditas pangan.


Harga daging ayam ras menjadi salah satu penyumbang utama seiring meningkatnya permintaan pada momentum Maulid. Kondisi itu bertepatan dengan masa afkir ayam pedaging di sejumlah kandang besar.


“Selain itu, tekanan juga berasal dari kenaikan tarif air minum PAM karena kenaikan tarif PDAM di Kabupaten Sumbawa, harga udang basah akibat faktor cuaca dan peningkatan permintaan, serta kenaikan harga tomat dan cabai rawit seiring berakhirnya masa panen di sejumlah sentra produksi,” jelas Hario.


Secara tahunan, lanjutnya, inflasi NTB sebesar 4,18 persen masih lebih tinggi dibandingkan inflasi nasional dan berada di atas sasaran inflasi nasional 2,5 persen plus-minus 1 persen.


Tekanan tersebut terutama masih berasal dari sejumlah komoditas pangan dan administered prices, termasuk akibat base effect dari harga yang lebih rendah pada periode yang sama tahun sebelumnya.


Meski demikian, Hario menekankan inflasi tahun kalender NTB yang sebesar 2,72 persen hingga September masih berada dalam rentang sasaran inflasi nasional.


Ke depan, Bank Indonesia bersama pemerintah daerah melalui Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) akan memperkuat pengendalian inflasi dengan menjaga ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, keterjangkauan harga dan komunikasi kepada masyarakat.


Upaya tersebut dilakukan untuk menjaga inflasi tahun kalender hingga akhir 2026 tetap berada dalam sasaran yang ditetapkan. (bul)

IKLAN

spot_img
RELATED ARTICLES

IKLAN








VIDEO