Selong (Suara NTB) – Di kaki Gunung Rinjani, bawang putih kembali ditanam dengan harapan yang lebih besar untuk kembali Berjaya. Bank Indonesia ikut menjadi bagian, memacu produksi komoditas yang menjadi identitas Nusa Tenggara Barat ini.
Ketua Kelompok Tani Lendang Luar, Desa Sembalun, Ruspaini Efendi Sembahulun, mengatakan bawang putih masih menjadi salah satu komoditas utama petani Sembalun, di samping cabai dan berbagai jenis sayuran.
Menurutnya, peluang mengembangkan kembali bawang putih sangat besar. Kebutuhan bawang putih nasional mencapai sekitar 650-700 ribu ton per tahun. Pemerintah bahkan menargetkan swasembada bawang putih pada 2031, dengan swasembada benih ditargetkan tercapai pada 2029.
“Kami di Sembalun mayoritas petani. Komoditas yang kami tanam biasanya bawang putih, cabai dan sayuran. Sekarang pemerintah sangat konsen terhadap bawang putih karena kebutuhan nasional sangat besar,” kata Ruspaini.
Bagi petani Sembalun, bawang putih bukan sekadar tanaman. Dalam waktu sekitar tiga bulan, komoditas ini mampu memberikan nilai ekonomi yang cukup besar.
Ruspaini menyebut produktivitas bawang putih saat ini rata-rata mencapai 13-14 ton basah per hektare. Dengan harga sekitar Rp16 ribu per kilogram di tingkat sawah, hasil 14 ton bisa menghasilkan sekitar Rp224 juta per hektare.
“Umurnya sekitar tiga bulan. Potensinya luar biasa,” ujarnya.
Kelompok Tani Lendang Luar sendiri mengelola sekitar 45-50 hektare lahan dengan 60-70 anggota. Sementara total areal empat kelompok tani yang mendapat pendampingan mencapai sekitar 151 hektare.
Potensi itu yang kini ingin diperbesar. Selama ini, sebagian besar petani Sembalun memproduksi bawang putih untuk benih. Ke depan, mereka mulai diarahkan menghasilkan umbi konsumsi berukuran lebih besar.
Bawang putih yang dikembangkan pun bukan semata varietas dari luar. Petani masih mengandalkan varietas lokal Sangga Sembalun dan Lumbu Putih.
Permintaan benih dari Sembalun juga masih datang dari berbagai daerah. Benih bahkan pernah dikirim hingga Sentani, Papua, dan Aceh. Saat ini, petani telah menyiapkan sekitar 1.260-1.280 ton benih dari areal hampir 500 hektare.
Intervensi BI dirasakan petani dari sisi biaya produksi. Melalui Program Sosial Bank Indonesia (PSBI), BI memberikan bantuan alsintan berupa traktor besar, hand tractor dan peralatan pendukung lainnya kepada kelompok tani.
Bantuan ini menjadi penting karena pengolahan lahan merupakan salah satu pekerjaan berat dalam budidaya bawang putih, terlebih pola tanam di Sembalun dilakukan secara serentak.
Ruspaini menggambarkan perbedaannya. Dengan tenaga manual, seorang petani hanya mampu mengolah sekitar 2-3 are lahan dalam sehari. Dengan traktor, luas lahan yang dapat digarap bisa mencapai sekitar dua hektare sehari.
“Pengaruhnya sangat jauh. Apalagi pola tanam di Sembalun dilakukan serentak. Kalau mengandalkan tenaga manusia, sulit mencari pekerja,” katanya.
Selain persoalan tenaga kerja, penggunaan alsintan juga membantu menekan biaya. Petani sebelumnya harus mengeluarkan sekitar Rp1,5 juta-Rp2 juta untuk menyewa hand tractor dalam mengolah satu hektare lahan.
Tahap berikutnya adalah mengubah pola produksi. BI bersama Unram akan mengembangkan demplot sekitar dua hektare di empat kelompok tani untuk menguji teknik pembesaran umbi bawang putih konsumsi.
Targetnya sederhana, tetapi penting: umbi lebih besar, produksi bernilai lebih tinggi, dan bawang putih lokal semakin mampu memenuhi kebutuhan pasar.
Selama ini, pola tanam yang digunakan untuk produksi benih relatif rapat. Jarak tanam yang lebih renggang akan diterapkan dalam demplot agar tanaman memiliki ruang lebih luas untuk membentuk umbi.
Pelaksanaan demplot yang semula direncanakan November 2026 ditunda ke awal 2027 karena pertimbangan musim. Bawang putih membutuhkan cukup sinar matahari ketika memasuki fase pembentukan umbi.
Sebelum demplot dimulai, BI dan Unram juga akan memberikan pelatihan kepada petani.
Di tengah optimisme itu, petani masih menghadapi persoalan klasik: lahan yang semakin sempit.
Sementara itu, Konsultan PUMKM KPw BI NTB, Edy Suhardiman, mengatakan BI akan mendampingi empat kelompok tani bawang putih di Sembalun.
Pendampingan tidak lagi berhenti pada persoalan benih, tetapi diarahkan pada peningkatan produksi bawang putih konsumsi.
“Ke depan kita tidak lagi hanya berbicara masalah bibit, tetapi bagaimana mengembangkan pembesaran umbi yang akhirnya nanti bisa dijadikan sebagai bawang putih konsumsi,” katanya.
Selain meningkatkan produktivitas dan pendapatan petani, pengembangan bawang putih Sembalun juga diharapkan membantu pengendalian inflasi. Sebab, bawang putih merupakan salah satu komoditas pangan yang turut memengaruhi pergerakan harga. (bul)



