BerandaNTBSUMBAWAMusim Hujan di Sumbawa dan KSB Diprediksi Mundur

Musim Hujan di Sumbawa dan KSB Diprediksi Mundur

Sumbawa Besar (Suara NTB)-Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) stasiun Meteorologi Kelas III Sultan Muhammad Kaharuddin memprediksi awal musim hujan akan mundur dibandingkan tahun sebelumnya. Musim hujan diprediksi di sekitar akhir bulan Desember.

“Prakiraan musim hujan untuk Sumbawa dan Sumbawa Barat menunjukkan adanya pergeseran pola musim hujan dibandingkan rata-rata klimatologisnya,” kata Kepala BMKG Sumbawa, Samriyanto, Senin (5/10).

Prakiraan awal musim hujan Sumbawa dan Sumbawa Barat tidak berlangsung secara bersamaan, melainkan bertahap dari pertengahan hingga akhir Desember 2026. Bahkan hampir seluruh kecamatan di KSB diprakirakan memasuki awal musim hujan secara serentak pada dasarian II Desember sekitar tanggal 11–20 Desember.

Sementara, di Sumbawa yang masuk dalam dasarian II hanya di wilayah bagian barat dan selatan. Seperti di Kecamatan Alas, Alas Barat, Batu Lanteh, Orong Telu, Lunyuk, serta sebagian kecil wilayah Buer, Utan, Unter Iwes, Moyo Hulu, Lenangguar, dan Rhee.

Dasarian III Desember sekitar tanggal 21–30 Desember kata dia, meluas ke bagian tengah dan timur seperti Kecamatan Sumbawa, Moyo Utara, Moyo Hilir, Labuhan Badas, Lopok, Lape, Lantung, Ropang, Maronge, Plampang, Labangka, Empang, Tarano, serta sebagian besar wilayah Buer, Utan, Unter Iwes, Moyo Hulu, Lenangguar, dan Rhee. 

“Secara umum kedatangan  awal  musim  hujan  2026/2027  di  kedua  kabupaten  mengalami penundaan  jika  dibandingkan  dengan  rata-rata  klimatologis  periode normal 1991–2020,” ucapnya.

Di Sumbawa lanjutnya, dasarian 2 mundur terjadi di wilayah Alas, Alas Barat, sebagian besar Buer dan Utan, sebagian Rhee, serta sebagian kecil Plampang dan Empang. Mundur ≥ 3 dasarian, seperti Batu Lanteh, Orong Telu, Lunyuk, Unter Iwes, Sumbawa, Lenangguar, Moyo Utara, Moyo Hilir, Moyo Hulu, Labuhan Badas, Lopok, Lape, Lantung, Ropang, Maronge, Labangka, Tarano, sebagian besar Plampang dan Empang, serta sebagian kecil Utan dan Buer.

Di Sumbawa Barat, mundur 2 dasarian meliputi sebagian wilayah Poto Tano, Taliwang, Maluk, Sekongkang, serta sebagian kecil Seteluk dan Jereweh. Mundur ≥ 3 Dasarian meliputi Brang Rea, Brang Ene, sebagian besar Seteluk, sebagian wilayah Poto Tano, Taliwang, Maluk, Sekongkang, dan sebagian kecil Jereweh.

“Meskipun awal musim hujan mengalami penundaan, durasi atau panjang periode musim hujan di seluruh wilayah Sumbawa dan Sumbawa Barat diprakirakan relatif seragam, yaitu berkisar antara 10 hingga 12 Dasarian atau sekitar 3 hingga 4 bulan,” jelasnya.

Ia mengimbau masyarakat untuk waspada kemungkinan dampak dari perubahan musim penghujan tersebut. Di sektor pertanian dan ketahanan pangan dengan terjadinya penundaan awal musim hujan hingga pertengahan dan akhir Desember memerlukan penyesuaian jadwal tanam. Hal tersebut dianggap sangat penting untuk menghindari risiko gagal tanam.

Pengelolaan sumber daya air juga harus menjadi atensi bersama. Hal itu sangat penting mengingat durasi musim hujan yang tergolong singkat, pemanenan air hujan dan optimalisasi penampungan air di waduk, embung, serta bendungan harus dimaksimalkan selama periode puncak hujan  sekitar bulan Februari–Maret.

Selain itu, mitigasi bencana hidrometeorologi. Sebab konsentrasi hujan pada periode dengan durasi yang relatif pendek meningkatkan potensi curah hujan lebat berdurasi singkat,sehingga harus diwaspadai bencana banjir dan tanah longsor.

“Pemerintah daerah dan masyarakat di wilayah rawan banjir dan tanah longsor perlu meningkatkan kewaspadaan pada puncak musim di bulan Februari dan Maret,” demikian katanya mengingatkan. (ils)

IKLAN

spot_img
RELATED ARTICLES

IKLAN











VIDEO