BerandaNTBKOTA MATARAMPola Asuh Jadi Kendala

Pola Asuh Jadi Kendala

PEMERINTAH Kelurahan Dasan Cermen, Kecamatan Sandubaya, mengungkapkan angka kasus stunting di wilayahnya belum mengalami perubahan. Jumlah kasus pada 2025 tercatat sebanyak 12 anak dan hingga tahun ini jumlah tersebut masih sama.

Padahal, berbagai upaya intervensi telah dilakukan, mulai dari pemberian makanan tambahan hingga penyaluran susu stunting.

Lurah Dasan Cermen, Sri Sulistiowati, mengatakan jumlah kasus stunting saat ini masih tercatat sebanyak 12 anak. Jumlah tersebut sama dengan tahun sebelumnya, meski terdapat anak yang telah dinyatakan sembuh.

“Masih 12, belum ada perubahan karena orangnya berganti sehingga jumlahnya tetap. Misalnya, kalau sembuh dua, datang lagi dengan jumlah yang sama,” ujarnya, Selasa (6/9).

Menurut Sulistiowati, penanganan stunting terus dilakukan melalui berbagai program. Salah satunya dengan menyalurkan susu stunting yang diperoleh dari pihak swasta melalui program tanggung jawab sosial perusahaan atau CSR.

Selain itu, intervensi juga dilakukan melalui puskesmas dengan pemberian makanan tambahan (PMT) lokal. Dukungan pemerintah pusat turut diberikan melalui program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menyasar kelompok B3.

Ia menilai berbagai upaya yang dilakukan Pemerintah Kota Mataram maupun Pemerintah Kelurahan Dasan Cermen untuk menekan angka stunting sebenarnya sudah cukup banyak.

Namun, intervensi di tingkat keluarga masih menjadi tantangan. Sulistiowati mengatakan pihak kelurahan telah menugaskan perangkatnya untuk melakukan pendampingan secara langsung kepada masing-masing sasaran.

“Kami pun berupaya. Teman-teman di kelurahan sudah saya tugaskan untuk mengintervensi satu orang satu sasaran, untuk mengecek,” jelasnya.

Ia menjelaskan, salah satu kendala dalam penanganan stunting adalah keterbatasan pihak kelurahan dalam melakukan intervensi terhadap pola pengasuhan anak. Sebab, tumbuh kembang anak juga sangat dipengaruhi oleh pola asuh di lingkungan keluarga.

Sulistiowati mengungkapkan, dari 12 kasus yang ada, sebagian besar berkaitan dengan pola asuh. Kondisi tersebut terjadi karena orang tua anak rata-rata bekerja sebagai pekerja migran Indonesia (PMI), sehingga anak lebih banyak diasuh oleh ayah atau neneknya.

Karena itu, ia berharap penanganan stunting dapat dilakukan secara bersama-sama dengan melibatkan pemerintah dan keluarga. Menurutnya, peran keluarga menjadi salah satu faktor paling penting dalam memastikan tumbuh kembang anak tetap optimal.

“Penanganan yang paling pas itu adalah dari keluarga. Jadi, ketika salah satu orang tuanya pergi ke luar negeri atau meninggal, keluarga harus memberikan perhatian yang lebih untuk mendukung tumbuh kembang anak,” pungkasnya. (pan)

IKLAN

spot_img
RELATED ARTICLES

IKLAN











VIDEO