Mataram (Suara NTB) – Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB), Lalu Muhamad Iqbal, mengatakan keluarga memiliki peran penting dalam mencegah budaya korupsi. Menurutnya, penurunan standar moral dan kebiasaan terhadap tindakan korupsi terjadi akibat melonggarnya kontrol keluarga.
Ia menilai, tradisi saling mengingatkan dan menjaga antaranggota keluarga kini perlahan memudar tergerus arus gaya hidup materialistis.
”Pada akhirnya kita sampai pada kesimpulan bahwa semua persoalan sosial di masyarakat, termasuk makin terbiasanya orang dengan tindakan koruptif, muncul karena hilangnya nilai-nilai keluarga,” ujarnya dalam acara Keluarga Indonesia Berintegritas dengan Tema Membangun Budaya Integritas dari Keluarga Melalui Kolaborasi Komunitas di Graha Bhakti Praja Kantor Gubernur NTB, Kamis, 8 Oktober 2026.
Iqbal meyakini, keluarga merupakan pertahanan terbaik dalam menghadapi berbagai krisis sosial, bukan hanya dalam gerakan antikorupsi semata. Ia mencontohkan fenomena politik global di Amerika Serikat saat Barack Obama mengusung kampanye kembali ke nilai-nilai keluarga (return to family values) untuk merespons krisis sosial yang mendalam di negaranya. Prinsip tersebut, menurut Iqbal, sejalan dengan nilai-nilai spritual yang tertuang dalam Al-Qur’an.
”Lingkar pertahanan pertama adalah diri sendiri, yaitu kesadaran untuk tidak melakukan hal yang buruk. Kedua adalah keluarga. Anggota keluarga sendirilah yang paling efektif menjaga satu sama lain dari tindakan-tindakan tidak baik,” terangnya.
Mantan Dubes RI untuk Turki ini menyoroti, adanya pergeseran peran dalam keluarga di zaman sekarang. Dahulu, seorang istri menjadi garda terdepan dalam mengingatkan suami untuk membawa pulang rezeki yang halal. Namun saat ini, tuntutan gaya hidup kerap memicu kompromi terhadap integritas.
”Dulu istri mengingatkan suaminya untuk pulang membawa uang halal.
Sekarang, ada kecenderungan tidak dipermasalahkan uang dari mana, yang penting besok bisa beli barang mewah. Ini yang menjadi salah satu pemicu (trigger),” katanya.
Pentingnya peran keluarga ini juga dirasakan langsung dalam kehidupan pribadinya. Ia menceritakan pengalamannya saat memutuskan maju dalam kontestasi Pemilihan Gubernur NTB. Meski telah mengantongi dukungan dari berbagai pihak, restu keluarga menjadi benteng terakhir yang paling krusial.
”Dulu waktu saya minta izin untuk pulang dan maju menjadi gubernur, semua pihak sudah memberikan dukungan, kecuali istri dan anak saya. Orang terakhir yang memberikan dukungan adalah istri saya sendiri,” kenangnya.
Melalui hal itu, Pemprov NTB mendorong agar gerakan penguatan nilai-nilai keluarga dan budaya saling mengingatkan kembali dihidupkan di tengah masyarakat demi membentengi daerah dari degradasi moral dan perilaku korupsi. (era)



