Praya (Suara NTB) – Sejumlah anak Dusun Sade, Desa Rembitan, Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah (Loteng) mengamati koleksi yang ditampilkan dalam pameran Museum Sade, Jumat (9/10/2026).
Di antara koleksi tersebut, terdapat dokumentasi kebakaran yang mengingatkan mereka pada rumah-rumah di kampung mereka yang pernah dilalap api.
Bagi anak-anak Sade, pameran ini bukan sekadar ruang untuk mengenal benda-benda budaya. Sejumlah koleksi juga membawa mereka kembali pada pengalaman dan kenangan yang pernah mereka alami sendiri.
Enjel (12), salah seorang anak yang mengunjungi Museum Sade, mengaku mengenali seluruh koleksi yang ditampilkan. Meski demikian, melihat kembali koleksi tersebut menghadirkan beragam perasaan, mulai dari senang, sedih dan terharu.
“Senang, sedih, sama terharu. Senang karena Sade dikenang. Sedih karena melihat kembali gambar rumah yang terbakar,” ujar Enjel.
Di antara koleksi yang dipamerkan, dokumentasi kebakaran menjadi bagian yang paling membekas baginya. Gambar yang memperlihatkan kobaran api mengingatkan Enjel pada peristiwa yang juga berdampak pada rumahnya. “Pameran ini yang bikin sedih di sana, yang ada banyak apinya. Karena rumah saya terbakar,” tuturnya.
Perasaan serupa dirasakan Alifa (9). Ia mengaku sedih ketika melihat kembali dokumentasi kebakaran, karena rumah neneknya turut terbakar dalam peristiwa tersebut.
Sebelumnya, Kampung Adat Sade mengalami kebakaran pada 22 Agustus 2026. Peristiwa tersebut menjadi bagian dari perjalanan masyarakat Sade yang kini turut dihadirkan melalui dokumentasi dalam pameran Museum Sade.
Kepala Museum NTB Ahmad Nuralam, mengatakan kehadiran Museum Sade memiliki arti penting dalam menjaga memori kolektif masyarakat.
Menurutnya, museum menjadi ruang untuk menghidupkan kembali ingatan tentang kebudayaan dan perjalanan masyarakat, termasuk pengalaman yang menjadi bagian dari sejarah kampung mereka.
“Jadi inilah pentingnya museum, untuk menjaga memori kolektif generasi kita. Karena museum itu ruang kita hidupkan kembali ingatan budaya kita,” tuturnya.
Museum Sade tersebut mengusung tema besar Jejak Kehidupan dan Identitas Sade yang terbagi dalam lima subtema, yaitu Jejak Sade, Ruang Hidup dan Budaya Sade, Sade Mendunia, Ketika Api Mengubah Sade, serta Sade Bangkit dan Menyongsong Kejayaan.
Menurut Nuralam, kelima subtema tersebut disajikan untuk mengajak pengunjung memahami perjalanan Sade secara utuh, mulai dari jejak leluhur dan kehidupan masyarakat hingga peristiwa kebakaran serta upaya untuk bangkit.
“Jadi informasi yang kita sampaikan bukan hanya setelah terbakar, tetapi juga bagaimana Sade sebelum terbakar. Jadi mereka bisa melihat perjalanan Sade secara utuh,” pungkasnya. (r/ham)



