BerandaBUDAYA DAN HIBURANNovel “Mata Malam”: Tragedi Kelam yang Dibalut Narasi Puitis

Novel “Mata Malam”: Tragedi Kelam yang Dibalut Narasi Puitis

NOVEL Mata Malam yang memiliki judul asli Human Acts merupakan novel keenam karya penulis pemenang Nobel asal Korea Selatan, Han Kang, yang terbit pada 2014. Berbeda dari karya tersohornya, The Vegetarian, yang berfokus menguliti sisi psikologis manusia secara personal, Mata Malam menyenggol isu sosial-politik yang jauh lebih luas dan tajam.

Novel ini berlatar belakang peristiwa kelam Mei 1980 di Gwangju, Korea Selatan. Kala itu, gelombang demonstrasi mahasiswa berkecamuk menuntut penegakan demokrasi di bawah rezim otoriter Presiden Chun Doo-hwan. Sebagaimana tabiat pemerintahan bertangan besi pada umumnya, aksi protes yang semula berjalan damai berujung dibalas dengan tindakan represif dan kekerasan militer secara masif.

Dengan kepekaan literer yang tinggi, Han Kang mengolah tragedi berdarah yang menelan ribuan nyawa tersebut secara apik sekaligus memilukan. Pembaca tidak sekadar diajak membaca kronologi, melainkan diajak menyelami masa-masa penuh trauma melalui sudut pandang yang berganti-ganti, terutama dari para korban kekerasan negara. Mulai dari remaja sekolah, aktivis, hingga keluarga yang kehilangan sosok tercinta.

Siasat penceritaan multi-sudut pandang ini berhasil menyingkap dampak nyata otoritarianisme terhadap kondisi sosial-psikologis masyarakat secara menyeluruh. Penggunaan banyak perspektif ini sekaligus menjadi “mata” bagi pembaca untuk menyaksikan langsung bagaimana kekejaman penguasa beroperasi dalam merenggut kemanusiaan warganya sendiri.

Struktur narasi novel Mata Malam dibangun dengan metafora yang sederhana namun mencekam, menghadirkan atmosfer cerita yang pekat dan emosional. Diksi-diksi lugas seperti “mayat”, “dibunuh”, “ditendang”, “ditusuk”, “bayonet”, “senapan”, “tengkorak”, “disayat”, “nanah”, hingga “darah” berkelindan sepanjang narasi. Deretan kata tersebut menyeret pembaca untuk ikut merasakan kengerian dan krisis kemanusiaan yang bergejolak selama peristiwa tragis itu berlangsung.

Lewat novel setebal 256 halaman ini, Han Kang tidak sekadar mengabadikan luka sejarah akibat kekuasaan yang zalim, melainkan juga menggugat makna keberadaan sebuah bangsa bagi warga yang justru dilukai oleh negaranya sendiri.

Gugatan itu terpancar kuat melalui pertanyaan mendasar dari Dong-ho, salah satu tokoh utama, yang menyaksikan kenyataan ironis ketika jenazah para korban bedil militer justru ditutupi bendera nasional dan diiringi lagu kebangsaan:

“Kenapa mereka menyanyikan lagu kebangsaan untuk orang-orang yang dibunuh oleh tentara? Kenapa mereka menyelimuti peti mati dengan bendera Korea? Seolah-olah yang membunuh mereka bukan negara.”

Meskipun tidak seterkenal The Vegetarian, Mata Malam bisa dilihat sebagai salah satu karya magnum opus yang sangat patut dibaca oleh siapa saja yang ingin memahami cara kerja kekuasaan otoriter beserta trauma sejarah yang ditinggalkannya.

Han Kang berhasil mengemas novel Mata Malam dengan gaya bahasa yang puitis tanpa mengaburkan bobot sejarahnya yang kelam.

Bagi kita yang mewarisi kolektif pengalaman sejarah serupa, kisah-kisah dalam Mata Malam dapat menjadi pengingat berharga: bahwa kekuasaan yang otoriter selalu membawa ancaman nyata bagi kemanusiaan, dan kesadaran kritis masyarakat harus terus dirawat agar tragedi kemanusiaan di masa lalu tidak kembali berulang. (Sibawaeh)

Judul: Mata Malam (Human Acts)
Penulis: Han Kang
Jumlah Halaman: 256 halaman
Penerbit: Baca
Tahun Terbit: 2017

IKLAN

spot_img
RELATED ARTICLES

IKLAN











VIDEO