Praya (Suara NTB) – PT Pertamina (Persero) mulai mengembangkan ekonomi sirkular di kawasan Ring I Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika, khususnya Desa Kuta, Lombok Tengah. Persoalan sampah yang selama ini menjadi persoalan kawasan wisata berkelas dunia ini, didorong menjadi sumber nilai ekonomi bagi masyarakat.
Program ini bagian dari dukungan Pertamina terhadap pengembangan sport tourism Mandalika. Masyarakat tidak hanya dilatih peduli dan menjaga kebersihan lingkungan, tetapi juga mengolah sampah menjadi produk bernilai jual.
“Kita membantu memberdayakan masyarakat untuk bisa mengolah sampah. Di wilayah wisata kita butuh lingkungan yang bersih, apalagi Mandalika ini adalah destinasi wisata kelas dunia,” kata Corporate Secretary PT Pertamina (Persero), Arya Dwi Paramita saat meninjau aktivitas di Desa Kuta, Kamis, 8 Oktober 2026.
Desa Kuta memiliki sekitar 20 dusun dengan jumlah kepala keluarga mencapai ratusan di setiap dusun. Sampah yang dikumpulkan masyarakat dipilah dan diolah. Sampah anorganik diarahkan menjadi berbagai produk seperti merchandise dan tas, sedangkan sampah organik dimanfaatkan menjadi pupuk.
Untuk memperkuat kemampuan masyarakat, Pertamina menggandeng Universitas Mataram (Unram) dalam pelatihan pengelolaan sampah. Pertamina juga menghadirkan local hero untuk berbagi pengalaman kepada pengelola bank sampah di Desa Kuta.
Arya mengatakan, saat ini programnya masih berada pada tahap awal. Bank sampah di Desa Kuta yang sebelumnya sempat tidak aktif kembali digerakkan setelah Pertamina masuk memberikan pendampingan.
“Untuk circular economy, pemahamannya adalah masyarakat harus benar-benar bisa menimbulkan nilai ekonomi dari semua yang mereka gunakan. Saat ini masih dalam proses pelatihan,” ujarnya.
Pertamina menargetkan produk hasil olahan masyarakat nantinya dapat masuk ke ekosistem pariwisata Mandalika. Jika masyarakat sudah siap, produk tersebut diharapkan dapat menjadi merchandise yang dipasarkan melalui toko suvenir.
Dengan begitu, kehadiran event besar seperti MotoGP tidak hanya memberikan dampak saat perhelatan berlangsung, tetapi juga membuka peluang ekonomi bagi masyarakat di sekitar kawasan.
Selain pengelolaan sampah, Pertamina juga membekali masyarakat dengan pelatihan hospitality dan bahasa Inggris. Kemampuan tersebut dinilai penting karena wisatawan yang datang ke kawasan Mandalika banyak menggunakan bahasa Inggris, termasuk wisatawan dari Australia dan Eropa.
“Harapannya hadirnya MotoGP dan Pertamina Grand Prix of Indonesia di Mandalika bisa memberi manfaat positif bagi masyarakat Desa Kuta,” katanya.
rogram ekonomi sirkular tersebut dipadukan dengan pemanfaatan energi bersih. Pertamina memasang Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) berkapasitas 6,6 kWp di atap balai Desa Kuta serta rumah baterai dengan kapasitas 20 kWh.
Energi yang dihasilkan PLTS digunakan untuk mengisi daya sepeda motor listrik bantuan Pertamina. Kendaraan tersebut digunakan masyarakat untuk mengangkut sampah dari wilayah desa.
“Jadi sambil mengolah sampah dengan konsep reduce, reuse, recycle, saat mengumpulkannya mereka juga tidak menghasilkan emisi karbon karena menggunakan sepeda motor listrik,” jelas Arya.
Program tersebut merupakan bagian dari Desa Energi Berdikari, yang telah dikembangkan Pertamina di lebih dari 250 desa di Indonesia.
Menurut Arya, program Desa Energi Berdikari memiliki tiga pendekatan.
Pertama, masyarakat dikenalkan dengan potensi energi di wilayahnya. Kedua, masyarakat dilatih memanfaatkan energi tersebut. Ketiga, energi diarahkan untuk menciptakan dampak ekonomi. Untuk Desa Kuta yang berada di kawasan pesisir, tenaga surya menjadi salah satu potensi energi yang dikembangkan.
“Tujuannya bagaimana energi yang ada bisa digunakan untuk menimbulkan dampak ekonomi sehingga desa bisa lebih mandiri,” katanya.
Pertamina akan melakukan evaluasi secara bertahap terhadap program ini. Arya menyebut, waktu yang dibutuhkan setiap desa untuk mencapai tahap mandiri berbeda-beda, tergantung kondisi dan kesiapan masyarakat. Dan dapat dilaksanakan bertahun-tahun sampai desa dianggap sudah mandiri. (bul)



