Sumbawa Besar (Suara NTB) – Dinas Ketahanan Pangan (DKP) Kabupaten Sumbawa mengaku kondisi Cadangan Pangan Pemerintah Daerah (CPPD) di tahun 2026, masih mengalami defisit. Sebab, pemerintah mampu mengadakan sekitar 25 ton beras dari target pemerintah 30 ton berdasarkan rencana strategis.
“Jika mengacu ke target pengadaan Bapanas sekitar 113,19 ton dan renstra 30 ton. Peruntukan CPPD juga hanya mengacu ke bantuan tanggap darurat bencana belum menyentuh isu stunting dan masyarakat miskin,” kata Sekretaris DKP Kabupaten Sumbawa, Syaihuddin, Jumat (9/10).
Pihaknya berharap pemerintah daerah bisa memberikan atensi khusus terutama kaitannya dengan pemenuhan CPPD sesuai standar Bapanas dan Renstra. Selain itu, pembaruan regulasi juga perlu dilakukan supaya selaras dengan aturan pusat.
Pasalnya, regulasi terbaru penerima CPPD ini diperluas tidak hanya untuk penanganan tanggap darurat. Tetapi yang lebih penting dan menjadi atensi pemerintah saat ini berkaitan dengan penanganan stunting dan daerah rawan pangan.
“Kalau kita melihat angka pengadaan CPPD kita saat ini masih berada pada kategori resiko tinggi. Karena stok tersebut dinilai kritis untuk mengantisipasi masa rawan bencana awal tahun 2027,” ucapnya.
Ia menjelaskan, stok awal CPPD tahun 2026 sebesar 15,371,39 kilogram. Penyaluran sampai dengan bulan Agustus sudah dilakukan sebesar 12.915,58 kilogram dan sisa stok tersedia saat ini hanya 2.455, 81 kilogram.
Pemerintah kembali menambah stok pengadaan CPPD sebesar 10.050 kilogram. Dari jumlah pengadaan tersebut jika diestimasikan penyaluran sampai dengan bulan Desember mencapai 4.833 kilogram dan bantuan daerah rawan pangan 2.000 kilogram.
“Jika kita melihat angka itu stok akhir tahun 2026 kita hanya 5,672, 81 kilogram. Artinya,stok CPPD kita sangat kritis untuk mengantisipasi rawan bencana di awal tahun,” jelasnya.
Penambahan stok CPPD berdasarkan Renstra dianggap sangat penting,sehingga pengadaan tersebut diharapkan bisa memberikan rasa tenang bagi masyarakat, terutama dalam menyikapi dampak kemarau panjang yang diprediksi terjadi beberapa bulan kedepan.
“Kami sangat berharap adanya tambahan stok, karena jika harga beras naik di pasaran, kita harus melakukan operasi pasar dan itu bisa kita lakukan ketika stok CPPD kita sangat mencukupi,” tukasnya. (ils)



