BerandaNTBLOMBOK TIMURHultah Madrasah NWDI Ke-91 di Anjani, RTGB Ajak Jemaah Jaga Kemurnian Perjuangan...

Hultah Madrasah NWDI Ke-91 di Anjani, RTGB Ajak Jemaah Jaga Kemurnian Perjuangan NW

Selong (Suara NTB) – Hultah Madrasah NWDI ke-91 digelar di Anjani pada Ahad, 11 Oktober 2026. Pada momentum ini, Ketua Umum Pengurus Besar (PB) Nahdlatul Wathan (NW), Raden Tuan Guru Bajang (RTGB), Lalu Muhammad Zainuddin Atsani mengajak ratusan ribu jemaah yang hadir di arena Hultah yang dipusatkan di Lapangan Umum Ummuna Raihanun ZAM menjaga kemurnian perjuangan NW.

“Teguhkan kemurnian asas dan tingkatkan mutu Pendidikan di madrasah,” terang RTGB.

Perjuangan penerus Nahdlatul Wathan (NW) tidak cukup hanya dikenang melalui sejarah dan jasa para pendirinya, tetapi harus dilanjutkan melalui penguatan mutu pendidikan, peningkatan kompetensi guru, pembinaan kader berintegritas, serta pengabdian nyata kepada masyarakat.

Pesan tersebut menjadi salah satu pokok penting dalam pidato mengenai sejarah dan arah perjuangan Nahdlatul Wathan, yang menekankan pentingnya menjaga kemurnian asas perjuangan sekaligus menyesuaikan metode pendidikan dengan perkembangan zaman.

“Organisasi, kita siap diatur, kita siap berorganisasi, kita siap taat,” demikian penegasan RTGB dalam pidatonya.

Pesan ini menempatkan kedisiplinan, kepatuhan terhadap aturan, dan ketertiban organisasi sebagai bagian penting dalam menjaga keberlangsungan perjuangan.

Ketum PB NW ini menegaskan, terdapat tiga amanah utama yang perlu menjadi perhatian warga Nahdlatul Wathan, yakni menjaga kemurnian asas perjuangan, melanjutkan perjuangan melalui pendidikan yang bermutu, dan meneguhkan kedaulatan negeri.

Dijelaskan,  menjaga kemurnian perjuangan tidak berarti menolak perubahan. Kemurnian berkaitan dengan asas, nilai, dan tujuan perjuangan, sedangkan metode pendidikan dapat terus diperbarui sesuai kebutuhan zaman.

Prinsip tersebut sejalan dengan pesan yang dinisbatkan kepada Maulana Syekh Tuan Guru Kiai Haji (TGKH) Muhammad Zainuddin Abdul Madjid dalam Wasiat Renungan Masa yang mengingatkan, mengenai pentingnya mempertahankan asas perjuangan.

Dalam konteks pendidikan, kurikulum dapat dikembangkan, teknologi pembelajaran dapat dimanfaatkan, serta gedung dan fasilitas pendidikan dapat dimodernisasi. Namun, identitas keagamaan, landasan akidah, dan arah perjuangan harus tetap terpelihara.

Pembicara juga menegaskan landasan Ahlussunnah wal Jamaah dalam akidah dan mazhab Syafi’i dalam syariah sebagai pijakan keagamaan yang perlu dipahami dalam pengembangan pendidikan.

Dengan demikian, modernisasi pendidikan tidak dimaksudkan untuk menghilangkan jati diri, melainkan memperkuat kemampuan lembaga dalam menjawab tantangan masa kini.

RTGB juga mengingatkan bahwa perkembangan pendidikan Nahdlatul Wathan tidak dapat dilepaskan dari perjuangan Maulana Syekh TGKH Muhammad Zainuddin Abdul Madjid, ulama asal Nusa Tenggara Barat yang telah lama dianugerahi gelar Pahlawan Nasional.

Pendiri NW dituturkan menempuh pendidikan di Sholatiyah Makkah. Setelah menempuh pendidikannya, Maulana Syaikh kembali ke Lombok pada 1934 dan mendirikan Pesantren Al-Mujahidin. Lembaga tersebut menjadi bagian dari perjalanan awal perjuangan pendidikan yang kemudian berkembang menjadi sistem madrasah.

Pada masa itu, akses pendidikan bagi masyarakat masih terbatas. Pembelajaran agama banyak berlangsung melalui pengajian tradisional, halaqah, dan pembelajaran di rumah para tuan guru.

Kehadiran sistem madrasah menjadi langkah penting dalam mengembangkan pendidikan yang lebih teratur, berjenjang, dan mampu menjangkau masyarakat yang lebih luas.

Madrasah Nahdlatul Wathan Diniyah Islamiyah (NWDI) kemudian berkembang sebagai lembaga pendidikan untuk putra, disusul Madrasah Nahdlatul Banat Diniyah Islamiyah (NBDI) untuk putri. Kedua lembaga tersebut mencerminkan perhatian terhadap pendidikan generasi muda, baik laki-laki maupun perempuan.

Zainuddin Atsani mengingatkan bahwa perjuangan pendidikan pada masa awal berlangsung dalam keterbatasan sarana. Para murid belajar dengan fasilitas sederhana, bahkan menggunakan batu sebagai media untuk menulis dan menghapus pelajaran.

Pengalaman tersebut menjadi pengingat bahwa keterbatasan fasilitas tidak semestinya memadamkan semangat menuntut ilmu dan mengabdi.

Perkembangan madrasah selanjutnya mendorong kebutuhan akan sebuah organisasi yang mampu menghimpun, mengoordinasikan, dan mengarahkan perjuangan pendidikan secara lebih luas.

Nahdlatul Wathan kemudian didirikan pada 1 Maret 1953 sebagai wadah perjuangan yang menggerakkan masyarakat melalui pendidikan dan pengabdian kepada bangsa.

Dalam penyampaiannya yang cukup panjang, RTGB menyampaikan, organisasi dipandang bukan sekadar struktur administratif, melainkan sarana untuk menjaga kesinambungan cita-cita pendiri, membina kader, serta mengoordinasikan berbagai kegiatan pendidikan dan sosial.

Karena itu, kedisiplinan organisasi menjadi hal yang penting. Setiap anggota diharapkan memahami aturan, menjalankan tanggung jawab, serta menempatkan kepentingan perjuangan bersama di atas kepentingan pribadi.

RTGB juga menguraikan bahwa pendirian madrasah pada masa penjajahan menjawab sejumlah persoalan mendasar, mulai dari keterbatasan akses pendidikan, kebodohan dan keterbelakangan, hingga kebutuhan memadukan ilmu agama dengan pengetahuan umum.

Melalui pendidikan, masyarakat memperoleh kesempatan untuk meningkatkan pengetahuan, memperluas pilihan pekerjaan, serta berperan dalam kehidupan sosial dan kenegaraan.

Kontribusi tersebut tidak hanya terlihat dari bertambahnya lembaga pendidikan, tetapi juga dari lahirnya guru, ustaz, pendidik, pemimpin masyarakat, dan pelayan publik dari kalangan masyarakat yang sebelumnya memiliki akses pendidikan terbatas.

Pendidikan perempuan melalui NBDI juga menjadi bagian penting dari perjuangan tersebut. Perempuan yang memperoleh pendidikan diharapkan mampu memperkuat keluarga, membangun masyarakat, dan berkontribusi bagi agama serta negara.

Selain itu, keberlanjutan kaderisasi menjadi perhatian utama. Para lulusan diharapkan tidak berhenti pada pencapaian pribadi, tetapi kembali ke masyarakat untuk mengajar, mendirikan lembaga pendidikan, mengembangkan majelis taklim, dan menjalankan kegiatan sosial.

Selanjutnya, RTGB turut menyoroti sejumlah unsur yang perlu diperkuat untuk membangun pendidikan Islam yang berakar pada tauhid, akhlak, tradisi keilmuan, dan identitas kebangsaan, sekaligus mampu menghadapi perkembangan teknologi dan perubahan dunia.

Pilar-pilar yang disampaikan meliputi pengakaran nilai, integrasi ilmu, pemberdayaan peserta didik, etika informasi, ilmu untuk pengabdian kepada negeri, serta penguatan kesadaran kebangsaan.

Pengakaran nilai diperlukan agar peserta didik memiliki landasan moral dan keagamaan yang kuat. Integrasi ilmu mendorong keterhubungan antara ilmu agama dan pengetahuan umum, sementara pemberdayaan peserta didik diarahkan untuk membentuk generasi yang mandiri dan produktif.

Di tengah derasnya arus informasi, etika informasi juga dinilai penting agar masyarakat mampu memilah informasi, menggunakan teknologi secara bertanggung jawab, dan menghindari penyalahgunaan pengetahuan.

Sementara itu, ilmu untuk pengabdian kepada negeri menegaskan bahwa pendidikan semestinya menghasilkan manfaat nyata bagi masyarakat dan bangsa.

Dia juga menekankan bahwa kedaulatan tidak hanya berkaitan dengan wilayah dan pemerintahan. Kedaulatan juga mencakup kemampuan bangsa mendidik generasinya, menghasilkan ilmu pengetahuan, menguasai teknologi, mempertahankan identitas, serta menentukan masa depannya sendiri.

Dalam kerangka tersebut, pendidikan menjadi salah satu fondasi penting untuk membangun bangsa yang mandiri dan berdaya saing.

Nama Nahdlatul Wathan yang bermakna kebangkitan tanah air juga mengandung pesan bahwa kecintaan terhadap agama dan bangsa dapat diwujudkan melalui upaya mencerdaskan masyarakat.

Oleh karena itu, lembaga pendidikan di lingkungan Nahdlatul Wathan diharapkan terus meningkatkan kualitas pembelajaran, memperkuat kapasitas guru, menata organisasi, dan memperluas manfaat pengabdian kepada masyarakat.

Pada akhirnya, perjuangan tidak boleh berhenti pada penghormatan terhadap sejarah. Warisan Maulana Syekh harus diteruskan melalui karya, pendidikan yang bermutu, kaderisasi yang berkelanjutan, serta kontribusi nyata bagi kemajuan masyarakat dan kedaulatan bangsa.

Kemurnian menjadi kompas perjuangan, pendidikan menjadi jalan pengabdian, dan kedaulatan negeri menjadi tujuan yang hendak diwujudkan bersama. (rus)

IKLAN

spot_img
RELATED ARTICLES

IKLAN











VIDEO