Mataram (Suara NTB) – Perang antara kelompok Houthi di Yaman dengan Pemerintah Kerajaan Arab Saudi berdampak ke pemberangkatan calon jemaah umrah asal NTB. Setidaknya, lebih dari seratus orang menunda keberangkatan akibat perang yang menyasar bandara-bandara di Arab Saudi.
Ketua Asosiasi Muslim Penyelenggara Haji dan Umrah Republik Indonesia (AMPHURI) Bali Nusra, H. Zamroni, Selasa, 13 Oktober 2026 menyampaikan, lebih dari 100 jemaah umrah asal Lombok terdampak gangguan penerbangan di Arab Saudi.
Sebagian memilih menjadwalkan ulang keberangkatan, sedangkan lainnya terpaksa membatalkan perjalanan sementara waktu karena situasi penerbangan yang belum pasti.
“Kalau kita hitung dengan yang pulang dan yang belum berangkat, jemaah yang memilih menjadwalkan ulang keberangkatan sudah di atas 100 orang,” ujar Zamroni.
Ia menjelaskan, salah satu dampak langsung terjadi pada 51 jemaah asal NTB yang sebelumnya telah berada di Denpasar. Setelah menginap semalam, mereka akhirnya memilih kembali ke Lombok untuk menjadwalkan ulang keberangkatan ke November mendatang.
Selain itu, sebanyak 45 jemaah yang berangkat melalui penerbangan transit telah tiba di Dubai, Uni Emirat Arab. Mereka harus menginap satu malam tambahan sambil menunggu kepastian penerbangan lanjutan menuju Jeddah.
Keberangkatan sejumlah kelompok jemaah lainnya pada 12 dan 13 Oktober juga tertunda. Keputusan tersebut diambil setelah informasi mengenai gangguan penerbangan disampaikan pada 11 Oktober lalu.
Zamroni menuturkan, penutupan sementara sejumlah bandara di Arab Saudi serta pembatalan penerbangan dari beberapa negara transit menjadi kendala bagi penyelenggara perjalanan umrah. Bandara di Riyadh dan Taif disebutnya telah ditutup sementara, sedangkan bandara Jeddah masih beroperasi.
Namun, penerbangan menuju Jeddah melalui sejumlah hub internasional ikut terdampak. Penerbangan dari Abu Dhabi dan Doha menuju Jeddah, misalnya, mengalami pembatalan. Kondisi ini membuat jemaah yang menggunakan maskapai dengan rute transit harus menunggu kepastian jadwal lanjutan.
Sebaliknya, penerbangan langsung dari Jakarta menuju Jeddah yang dilayani Garuda Indonesia, Lion Air, dan Saudia, menurut Zamroni, masih berjalan sesuai jadwal saat wawancara dilakukan.
“Kalau menggunakan pesawat-pesawat transit, sebaiknya dijadwalkan ulang atau ditunda dulu. Tetapi untuk penerbangan langsung, seperti Garuda, Saudia, Lion, dan Batik, perlu melihat perkembangan situasi dan kepastian penerbangannya,” katanya.
Zamroni menambahkan, gangguan perjalanan tersebut tidak hanya berdampak pada jemaah, tetapi juga menambah beban biaya penyelenggara perjalanan umrah. Zamroni menyebut kerugian mulai muncul akibat pembatalan dan perubahan jadwal, terutama untuk akomodasi yang telah dipesan sebelumnya.
Salah satu kerugian yang sudah terjadi adalah biaya hotel di Madinah yang hangus. Sejumlah jemaah yang semestinya berangkat lebih awal telah menjalani masa tunggu di Bali selama tiga hari, sehingga pemesanan hotel di Arab Saudi tidak dapat dimanfaatkan sesuai rencana.
Persoalan lain yang dikhawatirkan penyelenggara adalah tidak adanya perlindungan asuransi perjalanan terhadap kerugian yang timbul akibat perang.
“Ini sangat memberatkan penyelenggara. Risiko akibat perang tidak ditanggung dalam polis asuransi perjalanan yang digunakan untuk perjalanan umrah,” ungkapnya.
Zamroni menilai situasi ini perlu dicermati secara serius karena gangguan kali ini menyentuh jalur penerbangan menuju Arab Saudi. Menurutnya, kondisi sekarang berbeda dengan gangguan sebelumnya akibat ketegangan di Selat Hormuz yang juga berdampak pada perjalanan di kawasan Timur Tengah.
Meski pihak Houthi, telah menyampaikan pernyataan tidak akan menyerang dua kota suci umat Islam, Mekkah dan Madinah, situasi keamanan dan penerbangan tetap menimbulkan kekhawatiran bagi penyelenggara umrah.
Zamroni menambahkan, Kementerian Haji dan Umrah telah mengeluarkan arahan agar penyelenggara mencermati perkembangan situasi. Namun, berdasarkan informasi yang diterimanya saat wawancara, belum ada instruksi umum untuk menghentikan seluruh keberangkatan jemaah umrah.
Karena itu, AMPHURI Bali Nusra menyarankan penyelenggara yang menggunakan penerbangan transit agar mempertimbangkan penjadwalan ulang sampai situasi dan kepastian penerbangan lebih jelas.
Sementara bagi jemaah yang menggunakan penerbangan langsung, keputusan keberangkatan perlu mempertimbangkan informasi terbaru dari maskapai dan perkembangan keamanan di wilayah tujuan. (bul)



