Mataram (Suara NTB) — Balai Bahasa Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) menerima kunjungan belajar dari SDN 142 Mataram, Kamis (15/10/2026). Kegiatan yang diterima oleh Tim Pelindungan Bahasa dan Sastra ini diikuti oleh 33 murid kelas VI dan enam guru pendamping. Kegiatan ini bertujuan untuk mengenalkan bahasa dan sastra daerah kepada murid serta menumbuhkan kecintaan terhadap kekayaan budaya lokal.
Dalam kegiatan tersebut, Kasman dan Gilang Aryo Damar selaku narasumber dari Balai Bahasa NTB menyampaikan materi tentang pentingnya melestarikan bahasa daerah sebagai bagian dari identitas dan warisan budaya bangsa.
Murid diajak mengenal cerita rakyat melalui media yang menarik dan interaktif. Mereka menyaksikan film animasi Putri Rabanga, yang merupakan adaptasi dari cerita rakyat Putri Mandalika. Selain itu, murid juga bermain peran dengan membacakan komik Mustika Cempaka, yang merupakan alih wahana dari cerita rakyat Balang Kesimbar. Murid tidak hanya memperoleh pengetahuan tentang cerita rakyat, tetapi juga berkesempatan belajar bahasa dan sastra daerah dengan cara yang menyenangkan.
Dwi Supriatin, guru kelas VI SDN 142 Mataram menyampaikan bahwa kunjungan belajar tersebut rutin dilakukan sebagai upaya memperkuat literasi murid sekaligus mengenalkan bahasa daerah. Menurutnya, kecintaan terhadap budaya setempat perlu ditumbuhkan tanpa memandang asal daerah seseorang. “Kita harus mencintai budaya yang ada di tempat tinggal kita walaupun kita tidak berasal dari daerah itu,” ungkapnya.
Ketua Tim Kerja Pelindungan Bahasa dan Sastra Balai Bahasa Provinsi NTB, Kasman menegaskan, bahwa pembelajaran bahasa membuka kesempatan bagi murid untuk mengenal berbagai aspek kehidupan dan kebudayaan. “Kita dapat mengetahui semua hal dengan belajar bahasa,” ungkapnya.
Berdasarkan keterangan guru pendamping, SDN 142 Mataram telah mengajarkan bahasa Sasak sebagai muatan lokal. Murid pun menunjukkan ketertarikan terhadap pembelajaran bahasa daerah tersebut. Hal ini menjadi salah satu upaya untuk mengenalkan bahasa daerah kepada generasi muda, termasuk murid yang bukan berasal dari masyarakat penutur bahasa Sasak.
Kegiatan ini merupakan salah satu bentuk perayaan Bulan Bahasa dan Sastra serta program Jemput Bola (Jempol) Layanan Kebahasaan dan Kesastraan Balai Bahasa Provinsi NTB. Kegiatan ini diharapkan dapat menumbuhkan kesadaran akan pentingnya menjaga keberlangsungan bahasa dan sastra daerah sebagai bagian dari kekayaan budaya Indonesia. (ron)



