Giri Menang (Suara NTB) – Tumpukan sampah di Pasar Gunungsari, Lombok Barat (Lobar) berkali-kali mengalami kebakaran. Setelah akhir bulan lalu terbakar, kali ini gunungan sampah yang terjadi sejak setahun lebih itu kembali terbakar pada Kamis (15/10/2026). Para pedagang kembali mendesak Pemkab Lobar serius menangani sampah pasar tersebut.
Akibat kebakaran itu,asap mengepul hingga membuat pedagang terganggu berjualan, bahkan mengalami gangguan pernapasan.
Informasi yang diperoleh media, tumpukan sampah yang dikeluhkan pedagang itu terjadi sejak pagi. Beberapa saat kemudian, pihak mandor pasar kemudian melaporkan kejadian itu ke UPT Damkar Batulayar. Tim damkar mengerahkan armada untuk memadamkan api.
Anik, pedagang di pasar itu meminta perhatian dari pemerintah daerah terhadap penanganan sampah di pasar tersebut. Sebab telah beberapa kali kejadian kebakaran, namun belum ada solusi nyata mengangkut sampah tersebut. “Tolong dong ke pemerintah daerah Lobar bagiamana solusinya dengan keadaan (sampah), kami terdampak setiap hari,” keluhnya.
Akibat kebakaran sampah itu sangat menganggu warga yang berjualan. Terlebih pedagang di sekitar lokasi sudah tua atau lansia sehingga pernapasannya terganggu.
Akibatnya, sampah terus menumpuk hingga menggunung. Ditambah lagi tumpukan sampah yang berada di bagian belakang tidak diangkut, lalu datang lagi sampah baru yang ysng buang masyarakat. “Jadi terus menerus bertambah sampah ini,” keluhnya.
Terkendala Pembatasan Ritase
Sementara itu, Kepala DLH Lobar, Muhammad Busyairi mengatakan, penumpukan sampah di Pasar Gunungsari menjadi salah satu lokasi yang mendapat perhatian serius. Namun, upaya pengangkutan saat ini menghadapi kendala berupa pembatasan ritase pembuangan sampah ke TPA.
“Memang tumpukan sampah di Pasar Gunungsari cukup banyak. Kami tetap melakukan pengangkutan secara rutin dengan armada yang ada,” ujar Busyairi, Kamis (1/10/2026).
Menurutnya, sebelumnya setiap armada dapat melakukan hingga dua kali ritase ke TPA dalam sehari. Saat ini, setiap armada dibatasi hanya satu kali ritase per hari. Kondisi tersebut berdampak pada kemampuan pengangkutan, terutama ketika volume sampah meningkat.Sebelumnya masing-masing armada bisa melakukan dua kali ritase ke TPA. Saat ini dibatasi satu kali ritase per armada setiap hari. Tentunya ini berdampak terhadap penumpukan sampah,” jelasnya.
Untuk mengantisipasi kondisi tersebut, DLH Lobar melakukan pengangkutan tambahan melalui kegiatan gotong royong dengan mengerahkan armada yang tersedia. (her)



