PEMPROV NTB mengaku melakukan perhitungan kembali estimasi kebutuhan rekonstruksi Kampung Adat Sade, Desa Rembitan, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah (Loteng) yang terbakar pada Sabtu, 22 Agustus 2026 lalu. Hal ini menyusul masyarakat desa yang sudah membangun kembali rumah pribadi mereka.
Pada estimasi awal, kebutuhan total untuk rekonstruksi membutuhkan setidaknya Rp36 miliar untuk rekonstruksi. Karena beberapa masyarakat sudah membangun rumah secara gotong royong, Pemprov perlu melakukan perhitungan ulang berkaitan dengan nominal kebutuhan untuk rekonstruksi tersebut.
“Sedang kita lakukan penyusunan kembali, berapa sih donasi yang masuk. Baik yang langsung ke masyarakat maupun yang melalui dana pembangunan pemerintah,” ujar ketua Satgas Rekonstruksi Desa Adat Sade, Lalu Moh. Faozal, Jumat, 16 Oktober 2026.
Ia mengungkapkan, saat ini terdapat sekitar Rp1,9 miliar dana donasi yang terkumpul di Pemprov NTB. Nilai belum termasuk donasi-donasi yang diberikan langsung ke warga oleh sebagian besar perusahaan dan publik figur, seperti Raffi Ahmad yang langsung menyalurkan ke warga, tidak melalui Satgas.
“Kalau jumlah total kebutuhan belanjanya, dari seluruh aktivitas rekonstruksi itu Rp36 miliar. Nah sekarang kan kita lakukan koreksi ulang karena sebagian masyarakat menggunakan pola gotong royong,” katanya.
Penghitungan kembali ini dilakukan agar tidak ada tumpang tindih antara belanja pemerintah yang akan diberikan dengan pembangunan apa yang telah tuntas di Sade. Adapun dengan beberapa warga yang telah memulai membangun kembali hunian mereka, Faozal memastikan masyarakat Sade tidak menolak master plan yang dibuat Pemprov NTB.
Hanya saja, atap ilalang yang digunakan untuk membangun rumah tidak memiliki masa simpan. Sehingga ketika musim hujan, ilalang susah dicari. Pun ilalang juga tidak bisa tahan terhadap air, karena itu, warga Sade ngebut melakukan pembangunan.
“Begitu dia nanti musim hujan, satu, susah dicari. Yang kedua, tidak bisa dia resistant terhadap air. Maka dia harus ada di atap, harus jadi atap,” ungkapnya.
Karena masyarakat mulai membangun kembali Kampung Adat Sade, Asisten II Setda NTB itu mengaku Pemprov kini menghentikan penyesuaian kembali master plan yang telah disusun. Namun kini fokus pada keamanan di Dusun Sade dengan menambahkan empat item keamanan, seperti listrik, sanitasi dan drainase, APAR, dan toilet
“Elektrikal ini akan kita desain yang lebih safety. Yang kedua untuk sanitasi dan drainase juga demikian, kita lakukan penataan. Yang ketiga untuk APAR, untuk kebakaran, kemudian yang terakhir untuk toilet umum dan rumah tangga itu akan kita lakukan penataan,” jelasnya.
Kepala Desa Rambitan, Kecamatan Pujut, Lalu Winakse, mengatakan master plan Pemprov NTB sebenarnya sudah jadi. Hanya saja, masyarakat tidak mengikuti master plan saat rekonstruksi karena keinginan masyarakat Sade untuk cepat kembali ke desa adatnya. Di samping itu, anggaran dari pemerintah juga dikatakan belum sampai ke masyarakat.
“Akhirnya apa yang dilakukan masyarakat bersumber dari swadaya dan bantuan personal dari donatur,” katanya.
Saat ini, telah terbangun sekitar 49 dari 69 rumah di Desa Adat Sade. Sementara, untuk total keseluruhan bangunan termasuk masjid, gazebo, dan lainnya sekitar 75 bangunan. (era)



