Praya (Suara NTB) – Kaki Sudirman bergantian turun naik, menghentak dua tuas penggerak Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM). Benang lungsi (benang dasar), gun (benang pemisah untuk motif) dan golong (pengatur jarak benang) saling mengikat dan merapat padat. Kain londong (sarung tenun) bermotif itu perlahan terbentuk senti demi senti. Di saat yang sama, sebuah generator ikut berputar. Ada listrik yang kemudian dihasilkan dari gerakan menenun ini.
Pemandangan itu terlihat di ruang kerja terbuka kelompok Mina Tenun, Desa Sukarara, Kecamatan Jonggat, Lombok Tengah, 20 September 2026. Sudirman, Permbina Kelompok Wanita “Mina Tenun” duduk di depan Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM) yang dibantu Pertamina Patra Niaga.
Di hadapannya, benang biru tua bersilang dengan benang biru muda. Beberapa sentimeter londong hasil tenun itu sudah tergulung otomatis.
Di Sudirman, Rona Komala juga menggerakkan ATBM, membuat kain londong dengan warna dasar hitam, berpadu motif merah marun dan putih.
Keduanya tengah memanfaatkan waktu, menenun dengan ATBM, yaitu teknologi sederhana menenun yang setingkat lebih kekinian dari menenun menggunakan mesin tenun bahulak, yaitu gedogan (alat tenun tradisional) seperti yang umumnya masih dilakukan penenun sejak lama.
Kaki-kaki mereka terus menghentak turun naik, diikuti tangan mengatur benang. Lebihnya, gerakan menenun dengan ATBM itu kini tidak hanya menghasilkan kain. Sebuah rantai yang terhubung ke generator ikut bergerak, mengubah energi mekanis menjadi energi listrik yang turut dihasilkan oleh ATBM. Tradisi lama menenun itu kini memberi hasil baru, yaitu memproduksi listrik.
Inovasi yang didukung Pertamina Patra Niaga ini membawa fungsi baru bagi ATBM. Alat yang menjadi tumpuan produksi kain tradisional Sasak kini dikembangkan agar gerakannya bisa dimanfaatkan sebagai sumber energi alternatif skala kecil.
Di Sukarara, menenun menjadi bagian dari identitas masyarakat, dari benang-benang itu, kini menyambungkan dua manfaat sekaligus, penghasilan keluarga dari tenun dan kemandirian energi meskipun skalanya masih kecil.
ATBM yang sudah menghasilkan listrik ini cara kerjanya tidak rumit. Gerakan kaki penenun menggerakkan mekanisme alat. Putaran itu diteruskan melalui rantai dan roda penggerak menuju generator. Generator kemudian menghasilkan listrik yang dialirkan ke baterai untuk disimpan, dan dapat digunakan saat diperlukan.
Energi dari kerja ATBM tersebut bisa dimanfaatkan untuk menyalakan lampu ketika listrik padam, dan mengisi daya telepon genggam para penenun.
Bagi Sudirman, manfaat inovasi dari ATBM ini terasa ketika pekerjaan harus tetap berjalan meski aliran listrik terganggu.
“Ketika listrik mati, lampu bisa digunakan. Untuk mengecas HP juga bisa. Jadi, produksi (menenun) tetap jalan,” ujarnya.
Listrik yang dihasilkan memang belum menggantikan pasokan listrik rumah tangga. Namun, gerakan yang tadinya hanya digunakan untuk menggerakkan alat tenun kini memiliki nilai tambah.
Setiap hentakan yang turun naik di atas tuas penggerak ATBM sudah bukan hanya membantu merapatkan benang, membentuk motif, kemudian menjadi kain londong. Gerakan itu memberikan efek ganda yang tidak pernah dibayangkan penenun pada umumnya.
Teknologi sederhana ini memperlihatkan bahwa energi alternatif tidak selalu harus datang dari instalasi besar. Dalam skala terbatas, aktivitas sehari-hari pun dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan energi.
Nilai tambah ATBM tidak berhenti pada listrik. Alat tersebut juga membantu mempercepat proses produksi kain londong dibandingkan dengan alat tenun gedogan yang dioperasikan secara manual selama ini.
Menurut Sudirman, penenun yang sudah terampil dapat menyelesaikan satu londong dalam sehari menggunakan ATBM. Sementara itu, pengerjaan menenun dengan gedogan bisa memakan waktu hingga satu bulan untuk kain dengan ukuran sebanding. Tingkat efisiensi waktu produksi selisihnya jauh lebih efefktif.
Satu londong yang dihasilkan dari ATBM ini dapat menghasilkan ukuran panjang 2,10–2,30 meter dengan lebar 1,20 meter. Harganya berkisar Rp600 ribu hingga Rp700 ribu per lembar, bahkan lebih. Tergantung motif dan variasi benang yang digunakan.
Sementara jika menenun menggunakan gedogan, panjang dan lebarnya londong maksimal panjang 4 meter dan lebar 62 sentimeter.
Bagi kelompok Mina Tenun, peningkatan produktivitas dengan ATBM berarti peluang untuk memperbesar pendapatan. Waktu pengerjaan yang lebih singkat dapat membuka kesempatan menghasilkan lebih banyak kain, selama bahan baku, keterampilan, dan permintaan pasar mendukung.
Di sinilah teknologi sederhana itu menemukan arti ekonominya. Listrik menjadi manfaat tambahan, sementara kain tetap menjadi sumber utama penghasilan para penenun.
Kelompok Mina Tenun berdiri tahun 2022. Sebelum kelompok itu terbentuk, banyak perempuan menenun sendiri-sendiri, memasarkan produknya juga sendiri-sendiri, tumbuh dan berkembangpun menjadi sulit. Persoalan modal, ketersediaan benang, dan pemasaran kerap menjadi kendala.
Barang sudah selesai dibuat, tetapi belum tentu langsung terjual. Ada pula penenun yang harus menunggu pembayaran karena produknya dijual terlebih dahulu.
Pendampingan Pertamina Patra Niaga kemudian membantu mereka membangun sistem kerja bersama. Kelompok menyediakan bahan baku, menerima hasil produksi, menghitung biaya pengerjaan, dan membayar penenun setelah kain selesai dibuat.
Dengan pola ini, penenun tidak harus selalu menunggu produknya laku untuk memperoleh penghasilan.
“Alhamdulillah, setelah Pertamina mendampingi, banyak perubahan, terutama dari segi pendapatan ibu-ibu,” kata Sudirman.
Kelompok yang awalnya beranggotakan 16 orang itu kini memiliki sekitar 23 anggota. Sebagian besar perempuan, termasuk ibu rumah tangga dan mantan pekerja migran yang pernah bekerja di luar negeri.
Pertamina Patra Niaga sendiri telah memberikan dukungan berupa alat tenun, mesin jahit, penataan halaman untuk kenyamanan parkir pengunjung dan galeri, serta pelatihan pemasaran digital, termasuk menyulam. Dan dukungan pengembangan lainnya.
Bantuan itu membentuk ekosistem usaha yang lebih utuh. Bukan hanya membuat kain, tetapi juga membantu penenun mengelola produksi dan menjual hasilnya, serta berkembang lebih cepat bersama-sama.
Inovasi ATBM penghasil listrik ini juga diperkenalkan sebagai bagian dari gagasan yang lebih luas mengenai energi terbarukan dan kebutuhan dasar masyarakat.
Sukarara bukan hanya dikenal sebagai sentra tenun Sasak. Sebagian masyarakatnya juga menggantungkan kehidupan pada pertanian. Dan ketersediaan air menjadi persoalan penting, terutama ketika musim kemarau datang.
Gagasan untuk mengintegrasikan energi dari gerakan ATBM dengan sumber energi terbarukan lain. Termasuk pembangkit listrik tenaga bayu (PLTB) skala mikro dan panel surya. Energi yang terkumpul dirancang untuk mendukung kebutuhan listrik serta sistem pompa untuk menaikkan air sumur dan distribusi air bagi kebutuhan masyarakat.
Dalam konsep ini, gerakan menenun menjadi salah satu sumber energi, sementara angin dan matahari berpotensi menambah pasokan. Energi dapat disimpan dalam baterai agar tersedia ketika dibutuhkan.
Di ruang kerja Mina Tenun, Sudirman dan Rona Komala tetap berkonsentrasi pada benang masing-masing. Warna demi warna dirangkai. Motif dibentuk. Kain londong perlahan memanjang.
Tidak ada yang berubah dari inti pekerjaan mereka. Ketekunan, keterampilan, dan kesabaran menciptakan kain tenun. Yang berubah adalah hasil dari memanfaatkan gerakan dari ATBM itu.
ATBM tidak lagi semata-mata menjadi alat untuk menjaga tradisi tenun di Sukarara, Lombok Tengah. Dengan tambahan generator dan sistem penyimpanan listrik, alat itu juga menjadi percobaan kecil untuk memanfaatkan energi dari aktivitas sehari-hari.
Area Manager Communication, Relations & CSR Pertamina Patra Niaga Regional Jatimbalinus, Ahad Rahedi menjelaskan, bahwa program ini diarahkan untuk menghubungkan produktivitas masyarakat, pemanfaatan energi terbarukan, dan kebutuhan lingkungan.
Ahad menyebut hal baru ini sebagai inovasi sosial yang berpotensi dikembangkan di lokasi lain, meski pemanfaatan listrik untuk kebutuhan rumah tangga secara menyeluruh belum tercapai.
Pada tahap sekarang, energi yang dihasilkan masih terbatas dan penggunaannya belum menggantikan ketergantungan masyarakat terhadap pasokan listrik konvensional. Namun, peluangnya dikembangkan sangat potensial.
Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) NTB, Samsudin, menilai gagasan memanfaatkan gerakan ATBM untuk menghasilkan listrik merupakan inovasi yang baik.
Untuk kebutuhan individual atau penggunaan terbatas, teknologi ini dapat memberi manfaat. Menurutnya, inovasi teknologi ini juga dapat dikembangkan oleh kelompok-kelompok masyarakat lainnya, termasuk didukung korpoerasi.
“Karena arah kebijakan nasional dan internasional sudah jelas, pengembangan energi baru terbarukan,” tandasnya.
Dari desa tenun di Sukarara, sebuah kemungkinan telah diperlihatkan. Perempuan menenun kain untuk menghidupi keluarga, sementara gerakan yang sama ikut menghasilkan energi. Dari benang lahir londong. Dari gerak lahir listrik. Dan dari tradisi tetap dapat dipertahankan. (bul)



