Kota Bima (Suara NTB) – Sejumlah 12 pasien HIV di Kota Bima meninggal dunia periode 2024 hingga Agustus 2026.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Bima, Ahmad mengatakan, sejumlah 12 pasien penderita HIV yang meninggal merupakan catatan kasus selama periode 2024 hingga Agustus 2026. Sementara, 97 penderita masih ditemukan di tahun ini dengan rincian 77 pasien masih menjalani pengobatan. Sedangkan, 20 pasien lainnya masuk kategori loss to follow-up atau kehilangan kontak dalam pemantauan petugas kesehatan.
Kendati demikian,pihaknya masih memantau pasien yang menjalani pengobatan untuk memastikan penanganan tetap berlangsung.
“Untuk keseluruhan kasus di Kota Bima ini 97 kasus. Dengan jumlah yang intens berobat sampai saat ini 77 kasus,” kata Ahmad, Selasa (20/10).
Sementara itu, sebanyak 20 pasien tercatat dalam kategori loss to follow-up belum ada penjelasan lebih lanjut mengenai kondisi pasien tersebut, termasuk apakah mereka menghentikan pengobatan, tidak rutin menjalani kontrol atau tidak lagi dapat dihubungi petugas kesehatan.
Berdasarkan sebaran wilayah, Kecamatan Mpunda menjadi daerah dengan jumlah kasus HIV terbanyak di Kota Bima sekitar 32 kasus.
“Dari tahun 2024 sampai tahun 2026 yang terbanyak itu di Kecamatan Mpunda, dengan jumlah kasus lebih kurang 32 kasus,” katanya.
Selain HIV, Dinkes Kota Bima juga menemukan kasus infeksi menular seksual (IMS), di antaranya gonore dan sifilis. Temuan tersebut diperoleh melalui kegiatan skrining di sejumlah lokasi, termasuk tempat hiburan malam.
Ahmad mengingatkan pentingnya pemeriksaan dan pengobatan yang tepat bagi pasien IMS untuk mencegah penularan berulang, termasuk kepada pasangan. Penanganan dilakukan sesuai hasil pemeriksaan dan diagnosis tenaga kesehatan.
“Bahaya kalau tidak ditangani dengan baik,” ujarnya.
Di sisi lain, pihaknya terus mendorong edukasi kepada masyarakat mengenai cara penularan dan pencegahan HIV. Penularan dapat terjadi melalui hubungan seksual yang berisiko, penggunaan jarum suntik yang terkontaminasi, transfusi darah yang terinfeksi, serta dari ibu kepada anak.
Ahmad mengatakan edukasi tersebut membutuhkan keterlibatan berbagai pihak agar informasi mengenai HIV dapat menjangkau masyarakat lebih luas. “Kami berencana menggandeng tokoh agama, babinsa dan pemerintah setempat dalam upaya tersebut,” kata dia. (hir)



