BerandaNTBLOMBOK TIMURBisnis Ternak Sahirudin Berkembang Lewat Program “Lotim Berkembang”

Bisnis Ternak Sahirudin Berkembang Lewat Program “Lotim Berkembang”

PROGRAM “Lombok Timur (Lotim) Berkembang” menjadi salah satu jalan bagi masyarakat untuk mengembangkan usaha peternakan sapi. Hal itu dirasakan Sahirudin, peternak asal Lingkungan Aik Ampat, Kelurahan Kelayu, Lotim, yang kini mampu mengembangkan usaha ternaknya dari hanya dua ekor menjadi 10 ekor sapi.


Pria yang akrab disapa Amaq Dina tersebut mengawali usaha peternakan pada 2021. Awalnya, ia hanya menjalankan sistem ngadas atau memelihara sapi milik orang lain dengan pola bagi hasil.


Setelah melihat perkembangan usaha peternak yang memperoleh akses pembiayaan melalui program Lotim Berkembang, Sahirudin mulai tertarik mengembangkan usaha secara mandiri dengan memanfaatkan pinjaman perbankan.


Ia kemudian memberanikan diri mengajukan pinjaman ke Bank BRI. Keputusan itu diambil setelah melihat bahwa pemeliharaan sapi dalam kurun waktu satu tahun dapat memberikan hasil yang cukup menjanjikan.


“Awalnya saya ngadas. Setelah melihat perkembangan dan banyak yang mendapat bantuan Rp15 juta, saya tertarik mencoba pinjaman di bank. Ternyata setelah dipelihara, perkembangannya cukup bagus,” ungkapnya.
Menurut Sahirudin, usaha peternakan sapi memiliki potensi keuntungan yang lebih besar dibandingkan hanya mengandalkan sistem bagi hasil. Selain dapat mengembangkan jumlah ternak, ia juga memiliki keleluasaan mengatur pengelolaan dan penjualan sapi.


Dari modal awal dua ekor sapi, kini ia memiliki 10 ekor dengan nilai keseluruhan yang diperkirakan mencapai Rp350 juta. Beberapa sapi yang dipeliharanya merupakan jenis Brahman, sapi persilangan, dan simental. Bahkan, salah satu sapinya pernah ditawar hingga Rp40 juta.


Dalam menjalankan usahanya, Sahirudin menggunakan pakan konsentrat untuk mendukung pertumbuhan sapi. Untuk 10 ekor sapi, kebutuhan biaya pakan mencapai sekitar Rp7 juta hingga Rp9 juta, tergantung kebutuhan dan harga pakan.


“Kalau usaha sapi ini, kadang untung dan kadang rugi. Tetapi kalau sapinya sudah gemuk, biasanya ada hasilnya. Dari hasil penjualan itulah saya membeli pakan lagi dan mengembangkan ternak,” tuturnya.


Ia memperkirakan keuntungan dapat mencapai sekitar Rp3 juta per ekor, meskipun hasilnya bergantung pada harga jual, biaya pemeliharaan, dan kondisi ternak. Dalam kondisi usaha berjalan baik, penjualan dapat dilakukan hingga tiga kali dalam setahun.


Sahirudin juga mengaku pernah bekerja sebagai tukang heler keliling. Pekerjaan tersebut dapat menghasilkan sekitar Rp500 ribu dalam setengah hari. Namun, ia merasa usaha itu bukan bidang yang ingin ditekuninya dalam jangka panjang.
Ia akhirnya memilih fokus pada peternakan karena menilai usaha sapi memiliki peluang yang lebih sesuai dengan dirinya. Meski tetap menghadapi risiko, ia berusaha mengelola ternak secara hati-hati agar dapat memenuhi kebutuhan keluarga sekaligus membayar pinjaman.


Selain memelihara sapi milik sendiri, Sahirudin juga membuka kesempatan bagi pemilik modal untuk menitipkan sapi agar dipelihara. Hasil usaha kemudian dibagi sesuai kesepakatan, sebagai salah satu cara memperluas usaha sekaligus mengajak masyarakat memanfaatkan peluang di sektor peternakan.
Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disnakeswan) Lotim, H. Masyhur, mengatakan perkembangan usaha Sahirudin menjadi salah satu contoh bagaimana akses pembiayaan dapat mendorong peternak meningkatkan skala usahanya.


Menurutnya, program Lotim Berkembang sejak awal dirancang untuk mendekatkan masyarakat dengan lembaga perbankan. Sebab, sebagian masyarakat sebelumnya belum terbiasa mengakses pembiayaan formal untuk mengembangkan usaha produktif.


Masyhur menjelaskan, pada tahap awal pembiayaan yang diakses peternak berkisar Rp15 juta. Setelah usaha berjalan dan berkembang, sebagian peternak berupaya meningkatkan kapasitas pembiayaan secara bertahap, mulai dari Rp30 juta hingga Rp100 juta.


Ia menilai pola pengelolaan yang dilakukan Sahirudin cukup baik karena peternak tidak hanya mengandalkan pinjaman, tetapi juga memanfaatkan hasil penjualan untuk membeli pakan, menambah ternak, dan memenuhi kewajiban pembayaran kepada bank.


Masyhur berharap pengalaman tersebut dapat menjadi inspirasi bagi peternak lain agar berani mengembangkan usaha secara terukur dan memanfaatkan fasilitas pembiayaan yang tersedia.


Ke depan, Pemkab Lotim berupaya memperluas akses pembiayaan melalui program Lotim Berkembang. Berdasarkan keterangan Masyhur, BPD NTB Syariah juga menyatakan kesiapan dukungan pembiayaan sekitar Rp1,5 miliar.


Dalam perencanaan yang disampaikan, nilai pembiayaan program ditargetkan dapat mencapai Rp50 miliar. Jika skema pembiayaan Rp15 juta per peternak diterapkan, dana tersebut berpotensi menjangkau lebih dari 3.000 peternak.


Penyaluran direncanakan dilakukan secara berkelompok, dengan pengembalian pinjaman dalam jangka waktu satu tahun. Namun, realisasi jumlah penerima dan besaran pembiayaan tetap bergantung pada kesiapan perbankan serta mekanisme pelaksanaan program. (rus)

IKLAN

spot_img
RELATED ARTICLES

IKLAN
















VIDEO