Mataram (Suara NTB) – Bahasa Sasak sebagai bahasa tuturan sehari-hari di NTB, semakin rapuh. Penutur Bahasa Sasak pun kian berkurang. Hal ini terjadi akibat berbagai factor mulai dari proses akulturasi, regulasi penggunaan bahasa daerah yang belum optimal, hingga absennya pembelajaran di dalam kelas.
Kepala Disdik Kota Mataram, H. Yusuf mengakui, bahasa asli masyarakat Suku Sasak itu sedang mengalami krisis penutur. Dahulu, Bahasa Sasak sempat diajarkan dan termuat dalam mata pelajaran muatan lokal, namun pembelajarannya dinilai kurang efektif. Kendala utama saat itu adalah keragaman dialek yang dimiliki Bahasa Sasak, sehingga proses transfer ilmu bahasa tidak berjalan lancar.
Oleh karena itu, Yusuf berharap Kongres Bahasa Sasak yang akan digelar dalam waktu dekat dapat memutuskan satu standar resmi Bahasa Sasak. Dengan adanya standar yang disepakati bersama, pemerintah daerah akan lebih mudah menyusun kebijakan turunan, khususnya untuk mengembalikan pembelajaran Bahasa Sasak ke dalam ruang kelas.
“Kita lagi menunggu. Kalau sudah ada hasil kongres, nanti untuk kita tindak lanjuti, akan segera kita lakukan. Itu harus buat perwal,” ujarnya, Senin (26/10).
Ia menjelaskan, selama ini pembelajaran Bahasa Sasak memang belum diterapkan di sekolah. Kongres Bahasa Sasak betul-betul menghasilkan satu standar baku yang dapat dipelajari oleh para siswa di dalam kelas.
Setelah ada hasil yang disepakati, pihaknya siap menunggu regulasi resmi dari hasil kongres tersebut untuk segera diterapkan di lingkungan satuan pendidikan. Pembelajaran Bahasa Sasak di sekolah nantinya direncanakan akan terintegrasi ke dalam mata pelajaran muatan lokal.
“Bentuknya nanti muatan lokal bahasa Sasak,” pungkasnya. (sib)



