Mataram (Suara NTB) – Perguruan tinggi di Nusa Tenggara Barat (NTB) siap berkolaborasi dengan pemerintah daerah untuk menyukseskan program Desa Berdaya. Sinergi ini dapat dilakukan dengan menyelaraskan program pengabdian kepada masyarakat, melibatkan dosen dan mahasiswa, serta mengoptimalkan potensi lokal untuk memperkuat ekonomi dan kemandirian desa.
Rektor Universitas Bima Internasional (Unbim) Mataram, Dr. Apt. Ajeng Dian Pertiwi, M.Farm., menilai, keterlibatan perguruan tinggi dapat membuat pelaksanaan Desa Berdaya lebih terarah dan berkelanjutan.
Kampus memiliki sumber daya akademik yang dapat dimanfaatkan untuk mendampingi masyarakat, meningkatkan kapasitas sumber daya manusia (SDM), dan mengembangkan potensi ekonomi desa.
Menurutnya, program Desa Berdaya yang dijalankan Pemerintah Provinsi NTB memiliki peluang untuk disinergikan dengan kewajiban perguruan tinggi dalam melaksanakan pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.
“Program yang ada di pemerintah provinsi dan program yang ada di kampus bisa disatukan dalam satu payung pengabdian. Nantinya, perguruan tinggi bisa membawa program tersebut ketika turun ke desa,” terangnya, Selasa, 27 Oktober 2026.
Ajeng menjelaskan, penyelarasan ini penting agar program yang dilaksanakan perguruan tinggi tidak berjalan sendiri, tetapi mendukung arah pembangunan dan kebutuhan masyarakat di desa. Dengan demikian, kegiatan pengabdian tidak sekadar menjadi agenda akademik, melainkan bagian dari upaya bersama untuk mendorong pemberdayaan ekonomi masyarakat.
Salah satu potensi yang bisa dioptimalkan ialah keterlibatan mahasiswa melalui kuliah kerja nyata (KKN). Mahasiswa dapat menjadi mitra masyarakat dalam mengembangkan potensi desa, menyampaikan pengetahuan dan keterampilan, serta membantu pelaksanaan program pemberdayaan dengan pendampingan dosen.
“Mahasiswa bisa menjadi mitra dan agen di desa-desa. Mereka memiliki kemampuan yang bisa dimaksimalkan, sehingga pemberdayaan tidak harus selalu membutuhkan dana APBD yang besar,” ujarnya.
Menurut Ajeng, pendekatan kolaboratif memungkinkan pemerintah daerah memanfaatkan kapasitas yang telah tersedia di perguruan tinggi. Pengabdian kepada masyarakat merupakan bagian dari tugas kampus, sehingga program yang relevan dapat diselaraskan dengan agenda pembangunan pemerintah tanpa harus selalu bergantung pada pembiayaan
Unbim, lanjutnya, dapat mengambil peran melalui kegiatan pendidikan dan pelatihan yang disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat. Kolaborasi dengan tim Pemerintah Provinsi NTB yang menangani pengembangan ekonomi desa dapat menjadi pintu masuk untuk menyusun program yang lebih tepat sasaran.
“Kolaborasi perguruan tinggi dengan tim pemerintah provinsi yang menangani ekonomi bisa menghasilkan program yang baik untuk diterapkan,” terangnya.
Ia menegaskan, keberhasilan pemberdayaan tidak cukup diukur dari terlaksananya kegiatan atau terserapnya anggaran. Dampak program terhadap masyarakat perlu dipantau dan dievaluasi untuk mengetahui perkembangan, kendala, serta manfaat yang benar-benar dirasakan warga.
Dalam hal ini, dosen pembina dapat dilibatkan untuk melakukan pendampingan, pemantauan, dan evaluasi di desa binaan. Pendampingan berkelanjutan memungkinkan perguruan tinggi bersama pemerintah daerah memperbaiki program sesuai perkembangan dan kebutuhan di lapangan.
Ajeng berharap Desa Berdaya dapat menjadi ruang sinergi antara pemerintah, perguruan tinggi, dan masyarakat. Keterlibatan kampus tidak hanya membantu pelaksanaan program, tetapi juga memperkuat kemampuan masyarakat agar mampu mengelola potensi desa dan menjaga keberlanjutan hasil pemberdayaan. (bul)



