BerandaNTBLOMBOK TENGAHLoteng Dikepung Sampah, DLH Dorong Hidupkan Kearifan Lokal

Loteng Dikepung Sampah, DLH Dorong Hidupkan Kearifan Lokal

Praya (Suara NTB) -Kondisi sampah di Kabupaten Lombok Tengah (Loteng) kini kian memprihatinkan. Hampir di semua wilayah di daerah ini sampah banyak ditemukan berserakan tak terurus, dari pinggir jalan hingga saluran sungai.

Rendahnya kesadaran masyarakat untuk membuang sampah pada tempatnya jadi persoalan tersendiri. Di satu sisi, kemampuan pemerintah dalam menangani sampah masih jauh dari volume sampah harian yang dihasilkan. Saat ini, kemampuan penanganan sampah baru sekitar 80 ton sampah per hari. Sementara perkiraan volume sampah di Loteng mencapai hampir 500 ton.

“Jadi sampah-sampah yang tidak tertangani inilah yang dibuang sembarangan oleh masyarakat. Ada yang dibuang ke sungai maupun di pinggir-pinggir jalan,” sebut Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Loteng, Lalu Sarkin Junaidi, kepada awak media di Kantor Bupati Loteng, Selasa (27/10/2026).

Pihaknya banyak mendapat aduan terkait sampah. Namun, karena kondisi armada serta tenaga yang terbatas, jadi belum semua aduan bisa ditindaklanjuti. Dalam kondisi ini, dibutuhkan peran aktif masyarakat untuk menangani persoalan sampah.

Salah satu upaya yang dilakukan yakni dengan menghidupkann kembali kearifan lokal zaman dulu. Di mana di setiap rumah memiliki lubang penampungan sampah yang bisa jadi tempat membuang sampah. Tidak kemudian membuang sampah sembarangan seperti sekarang ini.

“Kearifan lokal seperti ini kita dorong untuk dihidupkan kembali. Untuk bisa mengurangi volume sampah yang terbuang sembarangan di luar,” sebutnya.

Kalau hanya mengandalkan pemerintah daerah untuk menangani sampah dengan segela keterbatasan, jelas tidak akan mampu. Maka peran masyarakat sangat diharapkan untuk sama-sama mengurangi sampah. Setidaknya sampah di rumah tangga ditangani di level rumah tangga. Sisa yang tidak bisa ditangani di rumah tangga itulah yang ditangani pemerintah.

“Kondisinya sekarang masyarakat mau enak sendiri saja. Terpenting rumahnya bersih dari sampah. Sementara sampah dari rumah tangga dibuang sembarang di tempat lain,” ujar Lalu Sarkin.

Kalau polanya tetap seperti itu, maka sulit persoalan sampah bisa ditangani. Karena masyarakat yang menjadi sumber sampah tidak mau terlibat atau membantu menangani sampah. “Jadi menangani sampah ini harus bersama-sama. Tidak bisa diserahkan sepenuhnya kepada pemerintah saja,” tandasnya. (kir)

IKLAN

spot_img
RELATED ARTICLES

IKLAN
















VIDEO