Kota Bima (Suara NTB) –Pemerintah Kota Bima meluncurkan Gerakan Kambali Mbojo Mantoi bertepatan dengan peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-98, Rabu (28/10). Gerakan ini diarahkan untuk menghidupkan kembali nilai-nilai luhur Maja Labo Dahu sebagai landasan penguatan moral, karakter, dan jati diri masyarakat di tengah arus modernisasi dan digitalisasi.
Wali Kota Bima, H. A. Rahman, S. E., mengatakan gerakan tersebut menjadi upaya memperkuat karakter masyarakat sekaligus melestarikan kearifan lokal. Menurutnya, kemajuan teknologi perlu diimbangi dengan penguatan akhlak, etika, dan jati diri, terutama di kalangan generasi muda.
“Di tengah derasnya arus modernisasi dan digitalisasi hari ini, kita dihadapkan pada satu tantangan besar, darurat akhlak dan moral yang perlahan menggerus akar jati diri kita. Gerakan Kambali Mbojo Mantoi merupakan upaya untuk menghidupkan kembali nilai moral dan budaya dalam kehidupan masyarakat di tengah derasnya arus modernisasi dan digitalisasi,” katanya.
Rahman berharap nilai Maja Labo Dahu tidak hanya menjadi identitas budaya, tetapi juga menjadi pedoman dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari lingkungan keluarga, pendidikan, masyarakat, hingga pemerintahan.
“Mari kita jadikan Maja Labo Dahu bukan sekadar slogan, melainkan kompas moral dalam setiap langkah kita. Saya berharap, dalam gerakan tersebut, nilai Maja Labo Dahu menjadi kompas moral dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam lingkungan keluarga, pendidikan, masyarakat, maupun pemerintahan. Nilai-nilai tersebut penting untuk membentuk pribadi yang berkarakter, bertanggung jawab, menghormati sesama, dan tetap menjunjung tinggi martabat budaya local,” ungkap Wali Kota Rahman.
Gerakan Kambali Mbojo Mantoi mencakup delapan bidang, yakni pendidikan, sosial keagamaan, kesehatan, ekonomi, lingkungan, seni dan budaya, ketertiban umum, serta teknologi digital. Melalui bidang tersebut, penguatan nilai-nilai kebaikan diharapkan diwujudkan dalam tindakan nyata, bukan sekadar pemahaman.
Rahman mengajak aparatur sipil negara (ASN), pendidik, tokoh agama, tokoh masyarakat, orang tua, generasi muda, dan seluruh warga mengambil bagian dalam gerakan tersebut. Upaya itu menurutnya, perlu dimulai dari diri sendiri, keluarga, tempat kerja, hingga lingkungan tempat tinggal.
Peluncuran gerakan ditandai dengan pelepasan balon oleh Wali Kota Bima bersama Wakil Wali Kota Bima, Feri Sofiyan, S.H., unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (FKPD), dan Forum Umat Islam (FUI).
Gagasan Gerakan Kambali Mbojo Mantoi sebelumnya dibahas bersama Ketua Forum Umat Islam Kota Bima, Asikin Bin Mansyur. FUI menaruh perhatian terhadap fenomena yang dinilai mencerminkan penurunan moral, melemahnya adab dan etika, serta meningkatnya berbagai persoalan sosial di masyarakat.
Asikin menyebut persoalan tersebut antara lain kenakalan remaja, penyalahgunaan narkoba, perjudian, minuman keras, tawuran antarpelajar, dan perundungan. Menurutnya, kondisi itu membutuhkan perhatian dan kepedulian bersama, baik dari pemerintah maupun seluruh elemen masyarakat.
Selain mendorong pelestarian nilai Maja Labo Dahu untuk mendukung terwujudnya Kota Bima BISA, FUI menekankan pentingnya upaya bersama untuk mengatasi persoalan moral dan berbagai penyakit sosial. Pihaknya juga mendorong perlindungan masyarakat dari dampak perilaku menyimpang serta penghidupan kembali nilai-nilai yang berkaitan dengan tradisi dan sejarah masyarakat Bima, termasuk nilai-nilai yang disebut sebagai warisan Mahkamah Syariat.
Sebagai langkah konkret diusulkan pembentukan kelurahan percontohan yang diarahkan menjadi lingkungan bebas dari berbagai bentuk penyakit sosial dan kenakalan remaja. Program tersebut diharapkan menjadi model pembinaan masyarakat yang mengedepankan ketertiban, penguatan nilai keagamaan, dan kepedulian sosial.
Dalam pelaksanaan gerakan tersebut, pihaknya turut merumuskan komponen di bidang pendidikan, sosial, dan keagamaan. Upaya itu diarahkan pada pembentukan karakter masyarakat, penguatan keimanan dan ketakwaan, serta peningkatan kepedulian dan solidaritas sosial antarwarga. (hira)



