BerandaPENDIDIKANKorban Penganiayaan Aktif Menghafal Al-qur’an

Korban Penganiayaan Aktif Menghafal Al-qur’an

Mataram (Suara NTB) – Duga pilu menyelimuti keluarga serta kerabat GB. GB merupakan korban penganiayaan yang mengakibatkan meninggal dunia. Sebelum menghembuskan nafas terakhir, korban diketahui sedang aktif menghafal al-qur’an dan mendalami ilmu agama.

Kepala SMPN 3 Mataram, Suherman menuturkan, GB merupakan siswa yang baik sebagaimana siswa lainnya. Kebiasaan menarik yang dilakukan sebelum kejadian naas tersebut, justru menyita perhatiannya. Korban diketahui semakin aktif mengikuti pelajaran keagamaan dengan menghafal Al-qur’an hingga doa lainnya. “Almarhum pada dasarnya berperilaku baik dan rajin sekolah,” ujarnya, Rabu (28/10)

Komentar serupa disampaikan Waka Kesiswaan, Hj. Laela Syahrani dan Waka Humas, Mita Sintya Aprilya. Sebagaimana siswa lain, sosok GB merupakan pelajar yang rajin mengikuti pembelajaran.

“Anaknya supel, anaknya ramah. Suka bergaul sama teman-temannya. Selayaknya siswa pada umumnya dia bergaul,” ungkap Mita, Waka Humas sekolah.

Korban dipandang tidak hanya memiliki kemampuan bersosial yang baik, tetapi juga pelajar yang rajin sekolah. Hal itu dapat dibuktikan dengan presensi kehadirannya di kelas.

“Absensinya masih cukup aman juga. Walaupun saya bukan guru pembinanya, tetapi saya hafal anak-anak yang absensinya bermasalah. Dia bukan anak yang absensinya bermasalah,” terangnya.

Baiq Zahra Afika, teman sekelas korban menuturkan watak positif GB. Menurutnya, GB merupakan teman yang tidak suka bermain fisik ketika terlibat konflik. “Dia juga tidak pernah mau mukul cewek. Kalau ada masalah, ya ada mulut saja tidak sampai memukul,” tutur Fika.

Yang paling menarik adalah pengalaman Fika, seminggu sebelum kejadian penganiayaan terjadi. Korban diketahui merupakan seorang yatim. Fika menceritakan, ibunya sering memberi uang jajan setiap Jumat kepada GB.

Seminggu sebelum penganiayaan, GB sempat menanyakan tentang uang jajan yang rutin diberikan kepada Fika. GB berujar bahwa itu akan menjadi kali terakhir ia meminta uang dari ibu Fika.

Namun, kalimat itu akhirnya menjadi kenyataan. Seminggu setelah pertemuan itu, Fika menangis mengetahui, sahabat masa kecilnya menjadi korban dugaan penganiayaan. (sib)

IKLAN

spot_img
RELATED ARTICLES

IKLAN












VIDEO