Mataram (Suara NTB) – Dinas Perikanan Kota Mataram menggelar pelatihan budi daya ikan hias skala rumahan, pada Rabu (28/10) dan Kamis (29/10). Kegiatan ini sebagai bentuk ikhtiar mengentaskan kemiskinan dan pengangguran di ibu kota Provinsi NTB.
Kepala Dinas Perikanan Kota Mataram, H. Bachtiar Yulianto melalui Kepala Bidang Perikanan Budidaya, Leo Amri menerangkan, pelatihan budi daya ikan hias skala rumahan ini awalnya akan menyasar ibu-ibu rumah tangga. Akan tetapi, pihaknya melihat generasi muda serta pecinta ikan hias juga perlu diberikan pengetahuan memadai untuk pembudidayaan ikan. Tujuannya adalah membuka peluang usaha baru bagi masyarakat guna meningkatkan pendapatan.
“Porsi peserta kita 70 persen ibu rumah tangga. Sisanya 30 persen itu dari generasi muda serta pecinta ikan hias,” kata Amri dikonfirmasi, Rabu (28/10).

Pelatihan ini bertujuannya untuk membuka peluang usaha baru bagi masyarakat. Pola budi daya ikan hias ini dinilai lebih mudah, karena ikan hias seperti molly, guppy, platy dan lain sebagainya tidak membutuhkan perawatan yang rumit.
Mantan Lurah Monjok menambahkan, program ini bersumber dari Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT) sehingga pelatihan ini mengedepankan pemberdayaan masyarakat. Kegiatan ini sebagai ikhtiar pemerintah untuk mengurangi angka kemiskinan ekstrem serta mengurangi pengangguran.
“Tujuan utamanya adalah meningkatkan ekonomi masyarakat untuk mengentaskan kemiskinan ekstrem,” tegasnya.
Menurut dia, budi daya ikan hias memiliki pangsa pasar sangat luas. Artinya, masyarakat dapat mengembangkan dengan cara sederhana, modal kecil serta tidak membutuhkan perawatan ekstra. Sementara, kebutuhan ikan hias cukup diminati oleh sejumlah kalangan. Hal ini dinilai menjadi peluang bagi masyarakat untuk mengembangkan di lingkungan atau rumah.
“Kita persilakan masyarakat memproduksi karena nanti pembeli akan menyerap hasilnya,” katanya.
Peserta pelatihan budi daya ikan hias skala rumahan ini lanjut Leo, akan mendapatkan materi serta trik pengembangan ikan hias secara mudah. Selain itu, peserta berkesempatan berkunjung ke lapangan untuk melihat proses pembudidayaan ikan hias di Kelurahan Dasan Sari dan Kelurahan Karang Pule. Peserta memiliki pemahaman komperehensif, sehingga memiliki minat tinggi untuk budi daya.
Leo mengakui tantangan pengembangan ikan hias adalah ketidakpahaman masyarakat tentang potensi serta keuntungannya, sehingga pelatihan ini diharapkan membuka wawasan masyarakat dari enam kecamatan untuk mengembangkan usaha tersebut. (cem/*)



