BerandaNTBLOMBOK TIMURKedai Kopi Terus Menjamur di Sembalun

Kedai Kopi Terus Menjamur di Sembalun

Selong (Suara NTB) – Pertumbuhan sektor pariwisata di Kecamatan Sembalun, Kabupaten Lombok Timur (Lotim), mulai membawa dampak terhadap berkembangnya usaha ekonomi kreatif masyarakat. Salah satunya terlihat dari menjamurnya kedai kopi yang kini tumbuh hingga ke berbagai pelosok wilayah tersebut.

Kehadiran gerai kopi tidak sekadar menjadi tempat berkumpul wisatawan, tetapi juga membuka peluang bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) untuk mengembangkan produk lokal sekaligus meningkatkan nilai tambah hasil pertanian.

Camat Sembalun, Suherman yang akrab disapa Edmond, mengatakan pertumbuhan gerai kopi menjadi fenomena positif seiring meningkatnya kunjungan wisatawan ke kawasan Sembalun.

Menurutnya, sejumlah pelaku usaha bahkan mulai mengembangkan produk kopi secara mandiri, mulai dari aktivitas bertani, pengolahan, hingga pemasaran. Pola tersebut menjadi bentuk hilirisasi produk pertanian yang memberikan nilai ekonomi lebih tinggi dibandingkan hanya menjual hasil panen mentah.

“Ada yang bergerak sendiri, mulai dari bertani sampai memproses produknya. Mereka melakukan hilirisasi sendiri. Tentu ini membutuhkan modal lebih besar, sehingga tidak semua petani memiliki kemampuan yang sama,” jelasnya, ditemui di Selong, Selasa (3/11/2026).

Selain berkembang secara mandiri, sebagian pelaku usaha juga mulai membangun kolaborasi dengan jaringan usaha di luar daerah. Bahkan, ada kedai kopi yang bekerja sama dengan pengusaha atau kafe di Mataram maupun daerah lainnya.

Kolaborasi tersebut dinilai membuka peluang lebih luas bagi produk lokal Sembalun untuk menembus pasar yang lebih besar.

Edmond menilai, menjamurnya kedai kopi harus diikuti dengan penguatan identitas dan merek produk. Sebab, jenama atau brand menjadi salah satu faktor penting dalam membangun daya saing usaha sekaligus memperkenalkan karakter kopi lokal Sembalun.

Namun, persoalan merek masih menjadi tantangan bagi sebagian pelaku usaha. Dalam proses pendaftaran hak kekayaan intelektual, terdapat kendala terkait penggunaan nama atau merek yang berpotensi berbenturan dengan merek lain dalam sistem pendaftaran di Kementerian Hukum.

Di sisi lain, pertumbuhan gerai kopi berbanding lurus dengan perkembangan kunjungan wisatawan. Banyaknya wisatawan, termasuk kalangan generasi Z, turut mendorong munculnya konsep kedai kopi yang menawarkan suasana menarik dan instagramable.

Tidak sedikit gerai yang ramai dikunjungi wisatawan, terutama sebagai tempat bersantai, berkumpul, sekaligus mengabadikan momen selama berada di Sembalun.

Fenomena tersebut menjadi peluang bagi masyarakat untuk mengembangkan usaha berbasis potensi lokal. Namun, Edmond berharap pertumbuhan sektor usaha dan pariwisata tidak berhenti pada aktivitas komersial semata.

Ia mendorong agar potensi tersebut dikembangkan menjadi konsep ekowisata edukasi yang menggabungkan kegiatan wisata, pembelajaran pertanian, dan pelestarian ekosistem.

Menurutnya, ekowisata harus mampu memberikan pengalaman kepada wisatawan tanpa merusak lingkungan maupun lahan pertanian yang menjadi kekuatan utama Sembalun.

Wisatawan nantinya tidak hanya menikmati kopi, tetapi juga dapat belajar secara langsung mengenai proses pembibitan, penanaman, pemeliharaan tanaman, hingga tahapan pengolahan hasil pertanian menjadi produk siap konsumsi.

Potensi tersebut juga dapat dikembangkan di wilayah Sajang yang memiliki beragam komoditas pertanian, seperti mente, cengkeh, dan durian. (rus)

IKLAN

spot_img
RELATED ARTICLES

IKLAN












VIDEO