BerandaNTBLOMBOK BARATLobar Siap Gelar Ajang Budaya Perang Topat 2026, Lestarikan Tradisi dan Kerukunan

Lobar Siap Gelar Ajang Budaya Perang Topat 2026, Lestarikan Tradisi dan Kerukunan

Giri Menang (Suara NTB) – Dinas Pariwisata, Ekonomi Kreatif, Pemuda dan Olahraga (Disparekrafpora) Kabupaten Lombok Barat (Lobar) kembali menggelar perhelatan budaya tahunan Perang Topat 2026. Puncak acara dijadwalkan pada Selasa, 24 November 2026 bertempat di kawasan Taman Lingsar, Lobar.

Tahun ini, Perang Topat akan tampil lebih meriah dan sarat akan nilai kebudayaan melalui sinergi serta kolaborasi berbagai pihak, mulai dari instansi pemerintah, komunitas seni, hingga institusi pendidikan.

Disparekrafpora Lobar akan berkolaborasi dengan Museum Nusa Tenggara Barat (NTB) menyajikan ragam kebudayaan dan seni visual, di antaranya Pameran Pusaka dengan menggandeng paguyuban keris se-Lombok seperti Paguyuban Saton Aji, Keris Anjani Lombok, Selaparang Mandalika Keris, Sakra Milenial Bekerisan, Keris Sasaka, dan Tangguh Tresna.

Selanjutnya ada Pameran Perupa bersama Komunitas Pelukis Lombok Barat, serta Pameran Foto Phonegraphy yang memamerkan hasil karya fotografi ponsel kreasi Komunitas Lombok Phonegraphy.

“Sebagai bentuk pelestarian budaya sejak dini, kami juga bekerjasama dengan pihak Kecamatan Lingsar dan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan untuk melibatkan generasi muda dalam lomba pembuatan ketupat yang akan diikuti siswa-siswi SD dan SMP se-Kecamatan Lingsar, dan lomba tari kreasi pesertanya siswa-siswi SMP se-Lombok Barat,” terang Kepala Bidang Pemasaran Pariwisata Disparekrafpora Lobar Ni Luh Ayu Budiyanti, Selasa (3/11/2026).

“Nanti juga akan ada aksi gotong royong dan penanaman bibit pohon di area Taman Lingsar bekerja sama dengan Dinas Lingkungan Hidup Lombok Barat sebagai bentuk kepedulian terhadap pelestarian alam,” tambahnya.

Perang Topat sendiri merupakan tradisi budaya khas Lombok yang sarat akan makna kedamaian dan rasa syukur. Meski mengusung kata “Perang”, ritual ini sama sekali tidak menggunakan senjata tajam atau membawa kekerasan. “Amunisi” yang digunakan dalam tradisi saling lempar ini adalah ketupat (topat).

Tradisi unik ini merupakan refleksi rasa syukur masyarakat Sasak (Muslim) dan masyarakat Bali (Hindu) di Lombok atas berkah kesuburan tanah, kelimpahan hasil panen, dan ketersediaan air yang diberikan oleh Tuhan Yang Maha Esa. Lebih dari sekadar ritual, Perang Topat adalah simbol nyata dari toleransi, harmoni, dan keharmonisan hidup beragama.

Pura Lingsar sendiri menjadi saksi sejarah tempat berdampingannya dua keyakinan dalam saling menghormati. Setelah tradisi saling lempar ketupat selesai, ketupat yang jatuh akan diperebutkan oleh warga untuk dimanfaatkan sebagai pupuk alami di sawah, yang dipercaya membawa berkah kesuburan bagi lahan pertanian mereka.

Rangkaian Agenda Kegiatan Perang Topat 2026

Seluruh ritual dan pakem adat Perang Topat diselenggarakan dan dipandu langsung oleh Panitia Kemalik dan Krama Pura Lingsar. Berikut adalah jadwal utama rangkaian kegiatan:

  • 18 – 21 November 2026: Pembukaan rangkaian acara dengan Atraksi Presean (seni bertarung tradisional Sasak) selama 4 hari penuh.
  • ⁠22 November 2026: Pelaksanaan berbagai Lomba Edukatif dan Seni (Lomba Pembuatan Ketupat & Lomba Tari Kreasi).
  • ⁠23 November 2026: Pelaksanaan Pakem Ritual Budaya yang meliputi ritual Mendak Tirte, Ngeliningan Kaoq, Roah Gubug, serta ditutup dengan penampilan seni tradisi Hiburan Gegandrungan.
  • ⁠24 November 2026 (PUNCAK ACARA): Prosesi Puncak Perang Topat 2026 di Pura dan Kemalik Lingsar.
  • ⁠27 November 2026: Penutupan seluruh rangkaian ritual adat melalui tradisi Ngelukar / Beteteh / Buka Tutup Botol Momot. (her)

IKLAN

spot_img
RELATED ARTICLES

IKLAN












VIDEO