Giri Menang (Suara NTB) – Perum BULOG bersama sejumlah pihak melakukan penyerapan telur sekaligus menyalurkan jagung program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) untuk membantu menekan beban biaya produksi peternak unggas.
Sinergi BUMN Pangan Bersama Peternak Ayam Petelur Mikro di Kecamatan Narmada, Kabupaten Lombok Barat, Kamis 5 November 2026, BULOG melakukan pembelian telur ayam dari peternak mencapai 1.468 kilogram.
Telur dibeli dengan harga Rp24.000 per kilogram, lebih tinggi dibandingkan harga yang saat ini diterima peternak di tingkat kandang, yakni sekitar Rp20.000 per kilogram.
Wakil Pemimpin Wilayah Perum BULOG Kantor Wilayah NTB, Sri Rejeki Lestari Y., mengatakan program ini merupakan bentuk kolaborasi antara BULOG, Dinas Peternakan, dan para peternak untuk merespons tekanan ekonomi yang sedang dihadapi pelaku usaha ayam petelur.
Menurutnya, kondisi peternak saat ini cukup menantang karena harga jual telur mengalami penurunan, sementara harga pakan masih relatif tinggi. Ketimpangan tersebut membuat biaya produksi sulit diimbangi dengan pendapatan penjualan.
“Melalui penugasan pemerintah kepada BULOG dan ID FOOD melalui Badan Pangan Nasional, dilakukan penyerapan telur dengan harga Rp24.000 per kilogram. Sementara harga di tingkat peternak saat ini berkisar Rp20.000,” ujar Sri Rejeki.
Ia menjelaskan, selisih harga pembelian tersebut diharapkan memberikan tambahan ruang bagi peternak untuk mempertahankan kegiatan produksi di tengah kondisi pasar yang belum menguntungkan.
Tidak hanya menyerap hasil produksi, pemerintah juga berupaya membantu peternak dari sisi ketersediaan bahan baku pakan melalui distribusi jagung SPHP.
Sri Rejeki mengungkapkan, penyaluran jagung SPHP oleh BULOG di NTB telah berjalan sejak Agustus 2026. Dari total alokasi penugasan Badan Pangan Nasional sebanyak 7.428 ton, realisasi distribusi hingga 5 November telah mencapai sekitar 4.200 ton.
Dengan capaian tersebut, penyaluran jagung SPHP di NTB telah menyentuh sekitar 57 persen dari total pagu yang ditetapkan.
“Untuk jagung SPHP, peternak bisa memperoleh dengan harga Rp5.000 hingga maksimal Rp5.500 per kilogram. Harga ini diharapkan dapat membantu mengurangi tekanan biaya pakan,” katanya.
Program ini menyasar 864 peternak ayam petelur. Dari jumlah itu, sekitar 290 peternak tergabung dalam Koperasi Peternak Petarung, sedangkan sisanya merupakan peternak mandiri yang memperoleh rekomendasi dari dinas peternakan kabupaten dan kota.
Sri Rejeki menegaskan, penyaluran jagung dilakukan dengan memperhatikan standar kualitas yang telah ditentukan. Spesifikasi komoditas tersebut berlaku secara seragam untuk penyaluran program SPHP di seluruh Indonesia.
Ia juga menyoroti perbedaan harga jagung SPHP dengan harga jagung di pasaran yang saat ini telah mencapai sekitar Rp7.900 per kilogram. Perbedaan tersebut diharapkan memberikan manfaat ekonomi bagi peternak yang membutuhkan pasokan pakan dengan harga lebih terjangkau.
“BULOG berkomitmen mengawal pelaksanaan penyerapan telur dan distribusi jagung agar benar-benar diterima peternak yang berhak. Kami berharap program ini tepat sasaran dan mampu meringankan beban mereka,” ucapnya.
Sinergi penyerapan telur dan penyaluran jagung SPHP ini menjadi bagian dari upaya menjaga keseimbangan rantai pasok pangan, mulai dari hasil produksi peternak hingga kebutuhan bahan baku pakan.
Melalui langkah ini, pemerintah berharap peternak ayam petelur mikro di Lombok Barat dan wilayah NTB lainnya dapat mempertahankan produktivitas sekaligus menghadapi tekanan harga yang masih membayangi sektor peternakan.
“Yang terpenting, manfaat program ini bisa dirasakan langsung oleh peternak, baik melalui harga pembelian telur maupun kemudahan mendapatkan jagung dengan harga yang lebih terjangkau,” tandasnya.(bul)



