BerandaNTBLOMBOK TIMURKNMP Diharapkan Dongkrak Ekonomi Pesisir Lotim

KNMP Diharapkan Dongkrak Ekonomi Pesisir Lotim

Selong (Suara NTB) – Kehadiran Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP) termasuk yang ada di Desa Ekas Buana, Kecamatan Jerowaru, Kabupaten Lombok Timur (Lotim), diharapkan menjadi motor penggerak ekonomi masyarakat pesisir. Tidak hanya meningkatkan fasilitas nelayan, keberadaan kawasan tersebut juga diharapkan mampu meningkatkan nilai jual hasil tangkapan ikan sekaligus menarik lebih banyak kunjungan wisatawan ke wilayah Ekas.


Sekretaris Daerah (Sekda) Lotim, H. M. Juaini Taofik, yang mewakili Bupati Lotim, saat menghadiri acara Kementerian Kelautan RI di KNMP Ekas Buana, Rabu (4/11/2026) menyampaikan apresiasi kepada Presiden Republik Indonesia dan Menteri Kelautan dan Perikanan atas perhatian besar pemerintah pusat terhadap Pulau Lombok, khususnya wilayah Ekas Buana.


Menurutnya, perkembangan Ekas saat ini menunjukkan perubahan yang cukup pesat dibandingkan kondisi pada periode 2009–2011. Bahkan, suasana dan perkembangan kawasan tersebut dinilai mulai menyerupai Kota Mataram maupun Selong, terutama dari sisi fasilitas dan infrastruktur.


Ia menegaskan, pembangunan Kampung Nelayan Maju merupakan salah satu bentuk nyata perhatian pemerintah terhadap masyarakat pesisir di Lotim. Terlebih, Lotim memiliki hampir 40 desa pantai dan sekitar delapan kecamatan yang mempunyai wilayah laut.


Juaini Taofik menekankan, keberadaan fasilitas Kampung Nelayan Maju harus diikuti dengan pengelolaan hasil tangkapan nelayan secara lebih profesional. Hasil laut seperti cumi, kerapu dan berbagai jenis ikan lainnya memiliki potensi ekonomi yang besar apabila didukung proses penangkapan, penanganan hasil tangkapan, hingga rantai pendingin atau cold storage yang memadai.


Selain itu, pemerintah daerah juga terus mendorong pendampingan sertifikasi bagi nelayan. Langkah ini penting untuk memastikan aspek keamanan, keselamatan, serta legalitas kegiatan penangkapan ikan sehingga hasil tangkapan memiliki jaminan dan kepercayaan lebih baik di mata pembeli.
Tidak berhenti pada pembangunan infrastruktur, Juaini menyebut pemerintah daerah juga berencana kembali mengingatkan janji Menteri terkait pengadaan kapal penangkap ikan berukuran 50 hingga 100 Gross Ton (GT).


Kapal tersebut diharapkan mampu memperluas jangkauan penangkapan ikan dan meningkatkan produktivitas nelayan Lotim.


Di sisi lain, Pemkab Lotim juga berencana menggelar festival kuliner ikan bakar di Ekas Buana. Kegiatan itu nantinya diharapkan melibatkan pejabat, ASN, serta masyarakat dari luar daerah untuk datang dan menikmati potensi kuliner hasil laut Ekas.


Juaini mengaitkan rencana tersebut dengan pesan almarhum Tuan Guru Syibawaih mengenai tantangan ekonomi masyarakat miskin yang berkaitan dengan persoalan kepemilikan aset, seperti tanah dan perahu, kepemilikan di darat, serta masih minimnya tamu atau kunjungan ke suatu wilayah.


Karena itu, pembangunan Kampung Nelayan Maju dan penyelenggaraan festival kuliner diharapkan dapat menjawab sebagian persoalan tersebut, terutama dengan mendatangkan lebih banyak pengunjung yang berpotensi menggerakkan ekonomi masyarakat setempat.


Sementara itu, Sekretaris Ditjen Perikanan Tangkap Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Dr. Ridwan Mulyana, menjelaskan bahwa, tersebut merupakan bagian dari Puncak Bulan Bakti KKP Tahun 2026 yang diselenggarakan secara serentak di berbagai lokasi.


Kegiatan ini menjadi wujud pengabdian KKP untuk hadir lebih dekat dengan masyarakat, mendengarkan kebutuhan nelayan, serta mendorong peningkatan kesejahteraan masyarakat pesisir. Momentum tersebut sekaligus menandai 27 tahun pengabdian KKP kepada masyarakat. Khusus Lotim rencana akan dibangun delapan KNMP.
Ridwan menegaskan, pengelolaan sumber daya kelautan dan perikanan secara berkelanjutan merupakan kunci penting dalam menjaga ketahanan pangan, masa depan bangsa, serta kesejahteraan generasi mendatang.
Menurutnya, upaya tersebut harus berjalan beriringan dengan perlindungan ekosistem pesisir dan peningkatan kesejahteraan nelayan.


Dalam mendukung agenda tersebut, KKP telah menetapkan enam program prioritas nasional periode 2025–2029 sebagai bagian dari kebijakan ekonomi biru.


Enam program itu meliputi pembangunan Kampung Nelayan Merah Putih sebagai pusat aktivitas ekonomi dan pangan masyarakat nelayan, revitalisasi tambak budidaya di Pantai Utara Jawa, budi daya udang terintegrasi dan budidaya tematik sesuai potensi daerah, modernisasi kapal perikanan, swasembada garam nasional, serta perluasan pembangunan Kampung Nelayan Maju.


Ridwan menjelaskan, KNMP juga diarahkan untuk membangun pusat pangan di kawasan nelayan dan tempat pendaratan ikan, termasuk di wilayah pelosok yang selama ini belum tercatat secara optimal dalam statistik perikanan nasional.


Khusus pembangunan Kampung Nelayan Ekas, pemerintah menargetkan perluasan hingga ribuan lokasi sampai tahun 2029. Pada 2026, sebanyak 100 lokasi telah beroperasi, termasuk di NTB, salah satunya berada di Ekas Buana, Lotim.


Meski demikian, Ridwan mengakui masih terdapat sejumlah tantangan dalam pembangunan Kampung Nelayan Maju. Salah satu persoalan utama adalah ketersediaan lahan dan kejelasan status hukumnya.


Di sejumlah lokasi, keberadaan kelompok nelayan maupun koperasi belum sepenuhnya didukung kepastian status lahan. Bahkan, terdapat lokasi yang bersinggungan dengan kawasan konservasi sehingga membutuhkan penyelesaian dan kejelasan legalitas sebelum pembangunan dapat dilaksanakan. (rus)

L

IKLAN

spot_img
RELATED ARTICLES

IKLAN












VIDEO